Aktor Micro-Drama China Beralih ke Panggung Wisata akibat Gempuran Konten AI

Gempuran konten buatan kecerdasan artifisial atau AI mulai mengubah peta industri hiburan China. Sejumlah bintang micro-drama yang sebelumnya aktif tampil di depan kamera kini memilih beralih profesi karena ruang produksi live-action semakin terbatas dan pendapatan mereka menurun.

Sebagian aktor dan aktris tersebut menemukan panggung baru di taman hiburan serta kawasan wisata. Mereka tidak lagi mengandalkan naskah dan proses syuting, melainkan berinteraksi langsung dengan pengunjung melalui pertunjukan karakter, parade kostum, dan panggung interaktif.

Drama Pendek Berbasis AI Mendominasi Pasar

Fenomena peralihan profesi ini menjadi gambaran mengenai perubahan cepat di industri hiburan China. Berdasarkan laporan Global Times yang diberitakan pada Kamis (13/8), drama pendek berbasis AI menguasai lebih dari 95 persen total rilisan micro-drama di pasar pada kuartal pertama 2026.

Dominasi tersebut membuat ruang gerak produksi yang melibatkan aktor secara langsung semakin menyempit. Pemangkasan investasi turut memperburuk kondisi para pekerja seni yang selama ini bergantung pada produksi drama pendek.

Laporan CCTV mencatat, hingga Juli 2026, honor aktor utama dalam industri drama pendek turun lebih dari 50 persen. Penghasilan aktor pendukung bahkan merosot hingga 80 persen. Sementara itu, upah harian bagi figuran menyusut tajam hingga hanya berada di kisaran dua digit yuan.

Aktris Hengdian Menemukan Panggung Baru

Luo Xinyuan Berperan sebagai Huang Rong

Luo Xinyuan, aktris berusia 21 tahun, merasakan langsung dampak perubahan tersebut. Sebelumnya, ia menggantungkan penghasilan dari produksi drama pendek di Hengdian, kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat industri film dan televisi terbesar di China.

Menurut Luo, suasana di Hengdian kini jauh berbeda. Jika sebelumnya sebuah hotel dapat dipenuhi puluhan tim produksi yang bersiap menjalani pengambilan gambar, situasinya sekarang menjadi jauh lebih sepi.

Sejak Mei, Luo memilih bergabung dengan Hengdian World Studios. Ia tampil sebagai Huang Rong, tokoh pahlawan wuxia populer, dalam berbagai pertunjukan yang digelar di kawasan wisata tersebut.

Dalam pekerjaannya, Luo menjalani panggung interaktif, parade kostum, serta menyapa wisatawan secara langsung. Saat musim liburan, durasi kerjanya dapat mencapai 13 jam per hari.

“Memang melelahkan, tapi sangat memuaskan. Di sini tidak ada naskah. Perannya lebih ke interaksi tatap muka langsung dengan pengunjung,” ujar Luo.

Peralihan profesi itu juga membantu mengurangi kecemasan finansial yang sebelumnya ia rasakan. Ketika masih aktif menjalani syuting, Luo mengaku selalu khawatir mengenai pekerjaan berikutnya. Setelah tampil di kawasan wisata, ia merasa kondisi ekonominya menjadi lebih stabil.

Menepis Stigma Pertunjukan di Kawasan Wisata

Pengalaman serupa dirasakan Yin Jiaxuan, aktor berusia 25 tahun yang sebelumnya berpindah-pindah dari satu lokasi produksi drama pendek ke lokasi lainnya. Menurut Yin, profesi penampil di objek wisata masih kerap dipandang sebelah mata.

Ia menilai banyak orang menganggap layar kaca sebagai jalur profesional utama, sedangkan pertunjukan jalanan atau pertunjukan di tempat wisata dinilai sebagai pekerjaan amatir. Stigma tersebut, menurutnya, menjadi prasangka yang membatasi banyak penampil.

“Bagi saya, pertunjukan di tempat wisata justru membangun hubungan antarmanusia yang nyata,” kata Yin.

Kehadiran aktor dengan latar belakang pendidikan seni peran kemudian memberikan manfaat bagi pengelola destinasi wisata. Mereka tidak hanya mengenakan kostum dan berfoto bersama pengunjung, tetapi juga mampu menghidupkan karakter melalui improvisasi serta interaksi langsung.

Aktor Profesional Mendorong Pariwisata Imersif

Pengamat budaya Yu Jinlong menilai perpindahan para aktor drama pendek ke kawasan wisata turut meningkatkan kualitas pariwisata imersif di China. Menurut dia, peran yang dimainkan aktor profesional dapat membentuk pengalaman yang lebih utuh bagi pengunjung.

Sebelumnya, pemeran karakter di taman hiburan lebih banyak berasal dari kalangan amatir yang sekadar mengenakan kostum untuk berfoto. Kini, aktor profesional dapat membangun karakter, melakukan improvisasi, dan menghubungkan berbagai bagian cerita.

Dengan cara tersebut, kawasan wisata tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang pertunjukan terbuka. Interaksi langsung antara aktor dan wisatawan menciptakan pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh konten digital.

Dampak Ekonomi dari Interaksi Aktor dan Wisatawan

Dampak kehadiran para aktor juga terlihat pada aktivitas ekonomi di destinasi wisata. Di Kota Beladiri Gunung Wansui, Kaifeng, Provinsi Henan, interaksi dengan karakter yang diperankan para aktor terbukti memperpanjang waktu kunjungan wisatawan hingga dua sampai tiga jam per hari.

Data lokal menunjukkan bahwa setiap tambahan durasi kunjungan selama 30 menit meningkatkan peluang wisatawan melakukan transaksi belanja hingga 25 persen. Pendapatan kawasan tersebut pun meningkat signifikan, dari 80 juta yuan pada 2022 menjadi 1,27 miliar yuan pada 2025.

Adaptasi di Tengah Perubahan Industri

Bagi aktor muda seperti Luo, berpindah dari layar drama pendek ke panggung wisata bukanlah tanda berakhirnya karier. Langkah tersebut merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan industri sekaligus upaya menemukan bentuk apresiasi baru dari penonton.

Luo menilai mencari nafkah dengan kemampuan sendiri bukan sesuatu yang memalukan. Ia justru merasa bahagia ketika mengetahui ada wisatawan yang datang dari jauh hanya untuk menyaksikan penampilannya.

Kesimpulan

Gempuran konten berbasis AI telah menekan produksi micro-drama secara langsung, termasuk menurunkan honor para aktor. Namun, kondisi tersebut juga mendorong sebagian bintang drama pendek China untuk menemukan peluang baru di kawasan wisata.

Peralihan ini menunjukkan bahwa kemampuan akting, improvisasi, dan interaksi langsung masih memiliki nilai penting. Di masa mendatang, panggung wisata berpotensi menjadi ruang alternatif bagi para aktor sekaligus memperkuat pengalaman pariwisata imersif di China, terutama ketika produksi hiburan berbasis AI terus mendominasi pasar.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment