Ahmad Muzani Bantah Isu Gus Kikin dan Miftahul Achyar Paket Istana
Ahmad Muzani membantah isu yang menyebut terpilihnya Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dan Miftahul Achyar sebagai Rais Aam merupakan paket dari Istana. Menurut Muzani, kabar tersebut memang beredar, tetapi ia mengaku tidak melihat adanya isu sebagaimana yang disebutkan.
Pernyataan itu disampaikan Ahmad Muzani yang juga menjabat sebagai Ketua MPR RI sekaligus Ketua Dewan Kehormatan Partai Gerindra di kompleks parlemen, Senin (31/8). Ia menanggapi isu yang beredar setelah pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Ahmad Muzani Bantah Duet Pimpinan PBNU sebagai Paket Istana
Muzani menegaskan bahwa dirinya tidak melihat adanya isu yang mengaitkan duet Gus Kikin dan Miftahul Achyar dengan Istana. Ia menyebut kabar tersebut hanya berseliweran, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai asal-usul isu itu.
“Itu berseliweran, tapi saya tidak melihat adanya isu itu,” kata Muzani di kompleks parlemen, Senin (31/8).
Dalam kesempatan tersebut, Muzani juga menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dan Miftahul Achyar sebagai Rais Aam. Ia menilai Muktamar ke-35 NU berlangsung dengan baik dan mencerminkan suasana kekeluargaan.
Menurut Muzani, pelaksanaan muktamar berjalan sukses, penuh keakraban, serta memperlihatkan semangat persaudaraan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia berharap kepemimpinan baru PBNU dapat terus memberikan kontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Harapan terhadap Peran PBNU
Muzani berharap NU tetap berperan dalam mendukung pembangunan Indonesia pada masa mendatang. Selain itu, ia menekankan pentingnya kontribusi organisasi tersebut dalam menjaga kerukunan, persatuan, persaudaraan, serta harmoni dalam kehidupan beragama.
“Kami berharap organisasi ini akan tetap memberikan kontribusi yang besar bagi masa depan pembangunan Indonesia, bagi kerukunan, bagi persatuan, bagi persaudaraan, dan bagi harmoni serta kerukunan dalam beragama,” ujarnya.
Gus Kikin Terpilih sebagai Ketua Umum PBNU
Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua Umum PBNU untuk masa khidmah 2026-2031 dalam Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Senin (31/8).
Penetapan tersebut dilakukan melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi atau AHWA. Sebelum proses pemilihan, Gus Kikin disebut telah memperoleh restu tertulis dari Rais Aam. Ia juga meraih suara tertinggi dari para peserta muktamar dengan perolehan 472 suara.
Perolehan tersebut membuat Gus Kikin unggul dari empat kandidat lain dalam Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU. Keputusan penetapan kemudian diumumkan oleh anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, bersama sejumlah kiai sepuh anggota majelis lainnya.
Penetapan Dilakukan melalui Musyawarah AHWA
KH Anwar Iskandar menyampaikan bahwa pemilihan Gus Kikin dilakukan setelah anggota AHWA bermusyawarah mengenai lima calon yang diajukan. Dalam musyawarah tersebut, sembilan anggota AHWA sepakat memilih KH Abdul Hakim Mahfudz, yang sehari-hari dikenal dengan nama Gus Kikin, sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.
Rapat AHWA digelar secara tertutup di Ndalem Kasepuhan pada pukul 06.20 hingga 07.00 WIB. Rangkaian rapat diawali dengan pembacaan Ummul Quran dan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Anwar Manshur.
Setelah keputusan diambil, berita acara penetapan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU ditandatangani oleh sembilan kiai anggota AHWA. Mereka terdiri atas KH Nurul Huda Dazuli, TGK KH Nuruzzahri Yahya, KH Baharuddin HS, KH Miftakhul Akhyar yang juga terpilih sebagai Rais Aam, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, KH Said Aqil Siradj, dan KH Abun Bunyamin.
Kesimpulan
Ahmad Muzani membantah isu yang mengaitkan terpilihnya Gus Kikin dan Miftahul Achyar sebagai paket dari Istana. Ia justru menyampaikan selamat serta harapan agar kepemimpinan baru PBNU mampu memperkuat kontribusi NU bagi pembangunan, persatuan, persaudaraan, dan kerukunan umat beragama.
Gus Kikin sendiri ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031 melalui mekanisme AHWA setelah memperoleh dukungan tertulis Rais Aam dan suara tertinggi dalam muktamar. Dengan selesainya proses pemilihan tersebut, PBNU memasuki periode kepemimpinan baru yang diharapkan dapat melanjutkan peran strategis NU dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan kebangsaan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment