Enam Mahasiswa Terluka dalam Kericuhan Aksi Aliansi Masyarakat Sipil di Yogyakarta
Yogyakarta – Sebanyak enam mahasiswa dilaporkan mengalami luka dalam aksi unjuk rasa Aliansi Masyarakat Sipil yang berlangsung di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (1/9). Aksi yang awalnya berlangsung dengan orasi dan pertunjukan teatrikal tersebut kemudian diwarnai ketegangan hingga berujung kericuhan.
Dari enam mahasiswa yang mendapat penanganan medis, lima di antaranya berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), sedangkan satu mahasiswa lainnya merupakan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mereka sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Panti Rapih sebelum diperbolehkan pulang pada Rabu dini hari.
Enam Mahasiswa Sempat Dirawat di Rumah Sakit
Direktur Direktorat Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna, menyampaikan bahwa enam mahasiswa tersebut sempat menjalani perawatan setelah mengalami luka dalam aksi. Keterangan itu disampaikan Hempri di Balairung UGM, Sleman, Rabu (2/9).
“Ada enam mahasiswa, lima mahasiswa dari UGM dan satu mahasiswa dari UNY yang kemarin akhirnya sempat dirawat di rumah sakit,” kata Hempri.
Berdasarkan data yang disampaikan, luka yang dialami para mahasiswa cukup beragam. Beberapa di antaranya mengalami memar pada bagian pelipis, luka robek di jidat, luka robek di bibir, serta memar pada bagian perut dan kepala belakang. Selain luka fisik, terdapat pula dua mahasiswa yang dilaporkan mengalami trauma dan sesak napas saat aksi berlangsung.
Hempri mengatakan, seluruh mahasiswa tersebut telah diperbolehkan meninggalkan Rumah Sakit Panti Rapih sekitar pukul 00.30 WIB pada Rabu dini hari. Mereka meninggalkan rumah sakit setelah memperoleh penanganan medis atas luka dan kondisi yang dialami dalam aksi tersebut.
UGM Sebut Mahasiswa Mengalami Kekerasan
Menurut Hempri, berdasarkan keterangan yang diterima dari para mahasiswa, mereka mengalami kejadian kekerasan ketika situasi di lokasi aksi mulai memanas. Ia menyebut para korban tiba-tiba didatangi dan ada yang mengalami pemukulan.
“Keterangan mahasiswa korban, mereka tiba-tiba jalan terus ada yang memukul,” ujar Hempri.
Untuk memantau kondisi mahasiswa, UGM sebelumnya telah meminta jajaran Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) melakukan pemantauan sejak sore hingga dini hari. Berdasarkan laporan yang diterima Hempri, aksi mahasiswa pada awalnya berlangsung kondusif dan para peserta berupaya menghindari tindakan provokatif.
Hempri menilai bentuk provokasi justru muncul dari kelompok lain yang berada di lokasi. Ia menyebut sekitar pukul 19.00 WIB sempat terjadi provokasi yang diduga dilakukan oleh kelompok masyarakat tertentu dan menimbulkan konflik sesaat.
Situasi kemudian disebut kembali normal sekitar pukul 19.20 WIB. Namun, sekitar pukul 22.00 WIB, massa mahasiswa didorong mundur oleh kelompok yang mengklaim sebagai masyarakat. Menurut Hempri, dalam proses tersebut terjadi tindakan kekerasan yang mengakibatkan sejumlah mahasiswa terluka.
Kronologi Aksi dan Kericuhan di Simpang Empat Gramedia
Berdasarkan pantauan di lokasi, massa Aliansi Masyarakat Sipil tiba di Simpang Empat Gramedia sekitar pukul 16.00 WIB. Mereka kemudian menyampaikan orasi dan menggelar aksi teatrikal. Di sisi lain, aparat kepolisian melakukan pengamanan di sekitar titik aksi serta menerapkan rekayasa lalu lintas.
Ketegangan terjadi beberapa kali selama aksi berlangsung. Situasi kemudian berkembang menjadi kericuhan antara massa aksi dan kelompok yang mengaku sebagai warga. Polisi membuat barikade untuk memisahkan kedua kelompok sekaligus menjaga keamanan di lokasi.
Massa aksi akhirnya membubarkan diri setelah didorong ke arah utara, yakni menuju Jalan Cik Di Tiro. Pembubaran tersebut berlangsung sekitar pukul 22.15 WIB.
Polisi Sebut Kericuhan Dipicu Kesalahpahaman
Kepala Bidang Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, menyatakan peserta aksi membubarkan diri dalam keadaan aman dan kondusif. Ia juga menyebut kericuhan yang terjadi dipicu oleh kesalahpahaman antara warga dan peserta aksi.
Menurut Ihsan, sejumlah warga merasa terganggu karena penutupan jalan akibat aksi berlangsung hingga malam hari. Kondisi tersebut kemudian memicu situasi saling dorong antara warga dan peserta unjuk rasa.
“Dalam kesalahpahaman tersebut terjadi situasi saling dorong yang menyebabkan peserta aksi panik dan sempat terjatuh sehingga mengalami luka ringan,” kata Ihsan.
Selain mahasiswa, seorang personel dari jajaran Polresta Yogyakarta juga dilaporkan terkena semprotan yang diduga merupakan cairan merica. Ihsan menyampaikan bahwa personel tersebut telah mendapat penanganan dari tim kesehatan kepolisian yang berada di lapangan. Kondisinya disebut berangsur membaik.
Kesimpulan
Kericuhan dalam aksi Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Empat Gramedia, Yogyakarta, menyebabkan enam mahasiswa mengalami luka dan sempat mendapat perawatan di rumah sakit. Lima mahasiswa berasal dari UGM dan satu lainnya dari UNY. Mereka mengalami sejumlah luka fisik, sementara dua mahasiswa dilaporkan mengalami trauma dan sesak napas.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pengamanan dan komunikasi antara peserta aksi, warga, serta aparat perlu dilakukan secara lebih baik agar perbedaan kepentingan tidak berkembang menjadi konflik. Para pihak diharapkan dapat menghindari tindakan provokatif dan kekerasan dalam setiap kegiatan penyampaian pendapat di ruang publik.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment