Bandara Soekarno-Hatta Ditutup hingga Pukul 13.30 WIB akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

TANGERANG – Penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang, Banten, kembali diperpanjang akibat dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan informasi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI, operasional penerbangan di bandara tersebut dihentikan sementara hingga Minggu (6/9) pukul 13.30 WIB.

Keputusan tersebut diambil setelah hasil pemeriksaan menggunakan metode paper test kembali menunjukkan adanya indikasi sebaran abu vulkanik di area Bandara Soekarno-Hatta. Kondisi ini dinilai berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan sehingga otoritas terkait melakukan penghentian sementara aktivitas penerbangan.

Penutupan Bandara Soetta Diperpanjang

Sebelumnya, penutupan sementara Bandara Soetta telah diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB. Namun, berdasarkan pembaruan informasi yang disampaikan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melalui akun Instagram pada pukul 09.00 WIB, masa penutupan kembali diperpanjang hingga pukul 13.30 WIB.

Dalam pengumuman tersebut disebutkan bahwa aktivitas erupsi Anak Gunung Krakatau berdampak terhadap sejumlah bandar udara. Salah satu bandara yang mengalami penghentian operasional penerbangan adalah Bandara Soekarno-Hatta dengan kode CKG.

Pengumuman itu juga mencantumkan pemberlakuan NOTAM terkait penutupan operasional Bandara Soetta hingga pukul 13.30 waktu setempat. Kebijakan tersebut diterapkan sehubungan dengan adanya aktivitas erupsi dan potensi sebaran abu vulkanik di sekitar wilayah bandara.

Ratusan Penerbangan dan Ribuan Penumpang Terdampak

Data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menunjukkan, sebanyak 209 penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta terdampak akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Dampak tersebut juga dirasakan oleh 22.798 penumpang selama periode penutupan hingga pukul 09.30 WIB.

Jumlah tersebut mencakup penumpang yang harus menyesuaikan kembali rencana perjalanan akibat penghentian sementara operasional penerbangan. Dengan diperpanjangnya penutupan hingga pukul 13.30 WIB, status penerbangan di Bandara Soetta masih perlu diperhatikan oleh calon penumpang melalui informasi resmi.

Sejumlah Bandara Lain Turut Menghentikan Operasional

Selain Bandara Soekarno-Hatta, sejumlah bandara lain juga mengalami penutupan sementara di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Bandara Halim Perdanakusuma dengan kode HLP ditutup mulai pukul 07.20 WIB hingga pukul 10.00 WIB.

Bandara Radin Inten II Lampung atau TKG juga menghentikan operasional penerbangannya. Penutupan bandara tersebut dimulai pada pukul 04.18 WIB dan berlangsung hingga pukul 10.00 WIB.

Sementara itu, Bandara Budiarto Curug dengan kode RTO ditutup mulai pukul 06.48 WIB hingga pukul 09.30 WIB. Penghentian operasional di beberapa bandara tersebut dilakukan untuk mengantisipasi risiko yang dapat ditimbulkan oleh sebaran abu vulkanik terhadap keselamatan penerbangan.

Penumpang Diminta Mengecek Informasi Penerbangan

Otoritas Bandara Wilayah 1 Kelas Utama Soekarno-Hatta mengimbau penumpang untuk memeriksa status dan jadwal penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum melakukan perjalanan.

Imbauan tersebut penting dilakukan karena jadwal penerbangan dapat terdampak oleh keputusan penutupan sementara bandara. Penumpang juga disarankan memperhatikan pembaruan informasi dari maskapai dan otoritas penerbangan agar dapat mengetahui perkembangan terbaru terkait operasional Bandara Soekarno-Hatta.

Kesimpulan

Penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta diperpanjang hingga Minggu (6/9) pukul 13.30 WIB karena adanya indikasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdasarkan hasil paper test. Sebanyak 209 penerbangan dan 22.798 penumpang terdampak hingga periode penutupan pukul 09.30 WIB.

Sejumlah bandara lain, yakni Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, dan Budiarto Curug, juga sempat menghentikan operasional penerbangan. Ke depan, perkembangan operasional bandara dan jadwal penerbangan perlu terus dipantau melalui kanal resmi, terutama selama masih terdapat aktivitas erupsi serta potensi sebaran abu vulkanik.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment