IHSG Diproyeksi Melemah Terbatas, Investor Cermati Konflik AS-Iran dan Data Ekonomi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 4 September 2026. Indeks turun 31,41 poin atau 0,47 persen ke level 6.636. Meski mengalami tekanan pada perdagangan terakhir, kinerja IHSG secara mingguan tetap mencatatkan penguatan seiring aktivitas transaksi bursa yang meningkat.
Dalam sepekan terakhir, IHSG menguat selama tiga hari perdagangan, sementara dua hari lainnya ditutup melemah. Secara keseluruhan, indeks saham menguat 1,82 persen sepanjang pekan tersebut. Pergerakan IHSG pada pekan berikutnya diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik, termasuk perkembangan konflik di Timur Tengah, data inflasi Amerika Serikat, nilai tukar rupiah, serta cadangan devisa Indonesia.
Kinerja Perdagangan Bursa Menguat
Pada perdagangan Jumat, investor melakukan transaksi senilai Rp15,04 triliun dengan volume saham yang diperdagangkan mencapai 35,80 miliar saham. Sementara itu, Bursa Efek Indonesia mencatat perdagangan saham selama periode 31 Agustus hingga 4 September 2026 ditutup secara positif.
Sekretaris Perusahaan BEI Aulia Noviana Utami Putri menyampaikan bahwa kapitalisasi pasar bursa meningkat 1,47 persen dalam sepekan. Kapitalisasi pasar bertambah dari Rp11.431 triliun menjadi Rp11.599 triliun.
Peningkatan juga terjadi pada sejumlah indikator aktivitas perdagangan. Rata-rata volume transaksi harian naik 35,9 persen, dari 36,05 miliar lembar saham menjadi 48,99 miliar lembar saham. Rata-rata nilai transaksi harian turut meningkat 25,75 persen, dari Rp15,29 triliun menjadi Rp19,22 triliun.
Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian bertambah 10,93 persen. Frekuensi perdagangan meningkat dari 2,15 juta kali transaksi menjadi 2,39 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.
Investor Asing Masih Mencatatkan Net Sell
Di tengah peningkatan aktivitas perdagangan, investor asing masih membukukan nilai jual bersih. Pada periode tersebut, nilai jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp29,76 miliar.
Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp68,05 triliun. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang tetap perlu diperhatikan investor dalam mencermati arah pergerakan IHSG.
IHSG Diproyeksi Bergerak Mixed
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan IHSG pada perdagangan Senin, 7 September 2026, bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terbatas. Ia memproyeksikan indeks berada dalam rentang support 6.575 dan resistance 6.718.
Menurut Oktavianus, pasar akan dipengaruhi oleh berlanjutnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta penantian rilis data cadangan devisa dari dalam negeri. Ketegangan geopolitik tersebut masih menjadi perhatian pasar setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan belum ada pembicaraan damai hingga Iran menghentikan serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Situasi tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran investor dan mendorong kenaikan harga minyak mentah. Kenaikan harga minyak dapat menjadi sentimen penting bagi pasar karena berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi ekonomi dan inflasi global.
Dari sisi domestik, pelaku pasar akan menunggu data cadangan devisa Indonesia. Cadangan devisa diperkirakan masih mencatatkan surplus, meski trennya terus menurun sejak awal tahun. Oktavianus menilai pasar kemungkinan merespons data tersebut secara moderat.
Rekomendasi Saham dari Kiwoom Sekuritas
Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus menyebut sejumlah saham yang dapat dicermati. Saham PT Petrosea Tbk atau PTRO ditutup menguat 2,87 persen ke posisi 5.375 pada pekan lalu. Ia memproyeksikan saham PTRO berpotensi mencapai level 5.950 pada pekan ini.
Saham lain yang turut menjadi perhatian adalah PT Timah (Persero) Tbk atau TINS. Saham tersebut menguat 8,07 persen ke posisi 4.420 pada pekan lalu. Oktavianus memproyeksikan TINS dapat menyentuh level 4.720 pada pekan ini.
IHSG Masih Berisiko Mengalami Koreksi
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memiliki pandangan yang lebih hati-hati. Ia memperkirakan IHSG masih rawan mengalami koreksi dalam sepekan ke depan. Berdasarkan proyeksinya, IHSG memiliki level support 6.337 dan resistance 6.786.
Herditya menyebut pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh rilis data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat, eskalasi konflik di Timur Tengah, pergerakan nilai tukar rupiah, serta data cadangan devisa Indonesia.
Data CPI dan PPI AS akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed. Apabila inflasi menunjukkan tren melandai, bank sentral AS diperkirakan cenderung mempertahankan suku bunga atau melakukan hold.
Selain sentimen dari Amerika Serikat, eskalasi konflik di Timur Tengah juga berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Di dalam negeri, investor akan mencermati pergerakan rupiah terhadap dolar AS yang masih memiliki peluang menguat serta hasil rilis data cadangan devisa.
Saham yang Dicermati MNC Sekuritas
Herditya merekomendasikan investor mencermati saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau AMRT. Saham AMRT ditutup di level 1.310 pada pekan lalu dan diproyeksikan dapat mencapai level 1.365 pada pekan ini.
Saham berikutnya adalah PT Elnusa Tbk atau ELSA. Saham ELSA ditutup di level 730 pada pekan lalu dan diperkirakan berpotensi menyentuh level 830.
Herditya juga mencermati saham PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS. Saham tersebut menguat 0,42 persen ke level 1.185 pada pekan lalu. Ia memproyeksikan SSMS dapat mencapai level 1.365 pada pekan ini.
Kesimpulan
IHSG mencatatkan penurunan pada perdagangan terakhir, tetapi masih mampu membukukan penguatan 1,82 persen secara mingguan. Aktivitas perdagangan bursa juga meningkat, terlihat dari pertumbuhan kapitalisasi pasar, volume transaksi, nilai transaksi, dan frekuensi perdagangan harian.
Untuk pekan berikutnya, IHSG diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas, meski tetap berpeluang menguat apabila sentimen pasar membaik. Investor perlu mencermati perkembangan hubungan AS-Iran, pergerakan harga minyak, data CPI dan PPI AS, nilai tukar rupiah, serta cadangan devisa Indonesia.
Informasi mengenai saham PTRO, TINS, AMRT, ELSA, dan SSMS merupakan proyeksi dari analis berdasarkan analisis teknikal. Artikel ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment