Iran Setor US$7,5 Miliar dari Penjualan Minyak ke Bank Sentral, Capai 99 Persen Target Anggaran
Iran dilaporkan berhasil menyetorkan dana sebesar US$7,5 miliar atau sekitar Rp133,18 triliun ke bank sentral negara tersebut dari hasil penjualan minyak selama empat bulan pertama 2026. Nilai tersebut disebut telah mencapai 99 persen dari target yang ditetapkan dalam anggaran Teheran.
Informasi tersebut disampaikan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, pada Sabtu (29/8). Laporan itu mengutip keterangan yang diperoleh dari Kementerian Minyak Iran terkait capaian pendapatan negara dari sektor energi.
Pendapatan Minyak Iran Hampir Menyentuh Target Anggaran
Setoran senilai US$7,5 miliar tersebut menjadi salah satu indikator bahwa Iran mampu memenuhi sebagian besar target pendapatan yang telah ditetapkan pemerintah. Capaian itu juga menunjukkan bahwa penjualan minyak masih menjadi sumber penting bagi penerimaan negara, meskipun Teheran menghadapi tekanan dari blokade laut dan gangguan terhadap perdagangan maritim.
Berdasarkan laporan Fars News Agency, dana yang telah dihimpun diperkirakan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pemerintah Iran dalam membiayai pengeluaran mata uang asing selama periode Juli hingga Desember mendatang. Dengan demikian, hasil penjualan minyak tersebut dinilai dapat membantu menjaga kemampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan keuangan eksternal.
Pendapatan itu juga mencerminkan kemampuan Teheran dalam mencapai sasaran penerimaan yang tercantum dalam anggaran negara untuk periode 21 Maret 2026 hingga 20 Maret 2027. Target tersebut menjadi bagian dari perencanaan keuangan Iran di tengah situasi ekonomi dan politik yang masih penuh tekanan.
Iran Klaim Memiliki Persediaan Minyak untuk Menghadapi Blokade
Laporan yang sama menyebut Iran masih memiliki persediaan minyak yang cukup untuk dijual di luar jangkauan blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS). Informasi tersebut juga diberitakan oleh Anadolu, yang mengutip isi laporan terkait kemampuan Iran mempertahankan aktivitas ekspornya.
Klaim tersebut menjadi penting karena blokade laut yang diberlakukan AS disebut telah mengganggu ekspor minyak serta aktivitas perdagangan maritim Iran. Dalam kondisi tersebut, kemampuan Teheran untuk tetap menjual minyak dinilai berkontribusi terhadap pencapaian target pendapatan negara.
Meski menghadapi hambatan dalam jalur distribusi, Iran tetap menyatakan memiliki kapasitas untuk memanfaatkan persediaan minyak yang tersedia. Capaian setoran ke bank sentral memperlihatkan bahwa tekanan terhadap jalur perdagangan belum sepenuhnya menghentikan pemasukan dari sektor minyak.
Selat Hormuz Masih Menjadi Titik Konflik AS-Iran
Di sisi lain, Selat Hormuz masih menjadi pusat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Jalur perairan tersebut memiliki peran penting dalam pengiriman energi global. Dalam perkembangan konflik yang berlangsung, Iran menutup jalur strategis itu, sedangkan AS mendesak agar Selat Hormuz kembali dibuka untuk mendukung kelancaran distribusi energi.
Pencabutan blokade laut AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz termasuk salah satu poin penting dalam nota kesepahaman atau MoU yang disepakati pada Juni lalu untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran.
Syarat Iran untuk Membuka Kembali Jalur Perairan
Namun, para pejabat Iran menegaskan bahwa Teheran belum akan membuka seluruh jalur perairan tersebut secara penuh sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah komitmennya. Iran menuntut pencabutan blokade laut dan sanksi ekonomi yang diberlakukan terhadap negara itu.
Selain itu, Teheran juga meminta agar aset-aset Iran yang selama ini dibekukan oleh AS dicairkan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz berkaitan erat dengan penyelesaian persoalan politik dan ekonomi antara kedua negara.
Kesimpulan
Setoran US$7,5 miliar dari penjualan minyak ke bank sentral menunjukkan bahwa Iran telah mencapai 99 persen dari target pendapatan anggarannya. Dana tersebut diperkirakan mampu menutup kebutuhan pengeluaran mata uang asing pemerintah hingga Desember mendatang.
Ke depan, kemampuan Iran mempertahankan penjualan minyak akan tetap berkaitan dengan kondisi blokade laut, sanksi ekonomi, serta perkembangan ketegangan di Selat Hormuz. Pembukaan jalur strategis itu masih menunggu pemenuhan tuntutan Teheran, termasuk pencabutan blokade dan sanksi serta pencairan aset Iran yang dibekukan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment