Roller Coaster X2 Six Flags Picu Cedera Otak Serius, Dua Perempuan Dilarikan ke Rumah Sakit
Roller coaster dikenal sebagai salah satu wahana yang menawarkan sensasi kecepatan dan adrenalin. Namun, pengalaman ekstrem di wahana X2, yang berada di taman hiburan Six Flags Magic Mountain, California, Amerika Serikat, berujung pada cedera otak serius bagi dua perempuan. Keduanya tidak terjatuh dari wahana dan tidak mengalami kecelakaan besar yang terlihat, tetapi harus mendapat perawatan medis darurat setelah menyelesaikan perjalanan.
Salah satu korban sempat mengalami koma dan hingga laporan tersebut dibuat masih berada dalam kondisi kritis. Tiga ahli bedah saraf yang menangani kedua korban menilai cedera tersebut berkaitan dengan perubahan kecepatan yang sangat cepat saat X2 bergerak.
Dua Penumpang Mengalami Cedera Otak Serius
X2 merupakan roller coaster ekstrem yang memiliki kursi berputar hingga 360 derajat mengelilingi lintasan. Wahana ini dapat melaju hampir 80 mil per jam atau sekitar 129 kilometer per jam dalam perjalanan yang berlangsung kurang lebih dua menit.
Menurut tiga ahli bedah saraf yang menangani kedua korban, cedera otak parah tersebut diduga merupakan dampak dari percepatan dan perlambatan ekstrem selama perjalanan. Dalam keterangan yang ditinjau CNN, para dokter menyebut kondisi itu sebagai akibat dari peristiwa percepatan-perlambatan traumatis yang berlangsung cepat di dalam wahana.
Kondisi Pamela Guillen Memburuk Setelah Turun
Pamela Guillen, 40 tahun, menaiki X2 bersama putrinya pada Juli. Ia mengatakan kepalanya beberapa kali terbentur sandaran kepala selama wahana bergerak.
Sesampainya di stasiun, Guillen harus dibantu keluar dari kursinya. Ia kemudian mulai muntah dan kehilangan kesadaran. Pemeriksaan CT scan menunjukkan adanya subdural hematoma parah, yakni perdarahan di sekitar otak, serta tekanan yang membahayakan otaknya.
Guillen langsung menjalani operasi untuk mengurangi tekanan tersebut. Ia baru siuman sekitar dua pekan kemudian. Setelah itu, Guillen harus kembali belajar berbicara dan berjalan. Ia juga masih mengalami sakit kepala serta kesulitan berkonsentrasi.
“Kamu naik wahana dalam kondisi sehat seperti biasa, tapi ketika keluar dari wahana, kamu justru menjadi pasien dalam kondisi darurat medis. Sampai sekarang saya masih sulit memahami bagaimana itu bisa terjadi,” ujar Guillen kepada CNN.
Naomi Greer-Wilkinson Masih dalam Kondisi Kritis
Enam hari setelah insiden yang dialami Guillen, Naomi Greer-Wilkinson, 25 tahun, menaiki X2 bersama saudara kembarnya dan adik perempuannya. Tidak lama setelah turun dari wahana, Greer-Wilkinson kehilangan kesadaran.
Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi otak darurat. Menurut keterangan orang tuanya, dokter menyatakan Greer-Wilkinson mengalami cedera otak traumatis parah. Keluarga bahkan diminta bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Hingga laporan tersebut dibuat, Greer-Wilkinson masih berada dalam kondisi kritis dan koma. Ia menggunakan ventilator serta selang makanan untuk mempertahankan hidupnya.
“Naomi seharusnya tidak pernah, dalam sejuta tahun pun, diberi kesempatan untuk menaiki wahana itu,” kata ibunya, Artemis Greer.
Riwayat Cedera X2 Menjadi Sorotan
Insiden yang menimpa Guillen dan Greer-Wilkinson bukan kasus pertama yang mengaitkan X2 dengan cedera serius. Investigasi CNN menemukan lebih dari selusin laporan cedera berat dan perawatan di rumah sakit yang berhubungan dengan wahana tersebut selama hampir dua dekade.
Sejumlah korban sebelumnya dilaporkan mengalami disabilitas yang mengubah kehidupan, koma, hingga meninggal dunia. Pada 2022, Christopher Hawley, 22 tahun, kehilangan kesadaran setelah kepalanya beberapa kali terbentur bagian belakang kursi ketika menaiki X2.
Dokter menemukan perdarahan otak parah yang membuat otaknya terdorong ke salah satu sisi tengkorak. Hawley meninggal kurang dari 10 jam setelah menjalani operasi. Pemeriksa medis menyatakan kematiannya disebabkan trauma benda tumpul pada kepala akibat kecelakaan di taman hiburan.
Sebelumnya, pada 2010, Hilda Farias, 28 tahun, juga meninggal setelah menaiki X2. Saat itu, para ahli medis menduga kematiannya berkaitan dengan kelainan otak yang pecah akibat intensitas wahana.
Catatan internal Six Flags yang diperoleh melalui proses hukum juga menunjukkan adanya sedikitnya 70 keluhan cedera kepala dan leher dari pengunjung X2 dalam tiga tahun sebelum kematian Hawley.
Six Flags Tutup X2, Pemeriksaan Masih Berlangsung
Brian Avery, profesor University of Florida yang meneliti keselamatan dan manajemen risiko wahana, menilai rangkaian cedera otak yang dikaitkan dengan X2 perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, kondisi tersebut semestinya mendorong pemeriksaan menyeluruh terhadap aspek keamanan wahana.
Dalam sejumlah perkara hukum sebelumnya, Six Flags membela keamanan X2. Perusahaan menyatakan wahana tersebut rutin diuji. Six Flags juga berpendapat bahwa gaya yang dialami penumpang tidak cukup kuat untuk menyebabkan cedera otak traumatis selama pengunjung menggunakan wahana sesuai petunjuk.
Setelah dua insiden terbaru, Six Flags menutup X2 pada 12 Juli. Otoritas keselamatan kerja California menyatakan pemeriksaan terhadap wahana tersebut masih berlangsung. Six Flags tidak menjawab pertanyaan rinci CNN mengenai riwayat cedera X2 maupun alasan wahana tersebut tetap beroperasi setelah insiden pertama pada Juli. Perusahaan hanya menyatakan bahwa X2 masih ditutup.
Kesimpulan
Dua insiden terbaru di X2 menunjukkan bahwa risiko wahana ekstrem tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan terjatuh atau tabrakan. Percepatan dan perlambatan yang berlangsung cepat juga dinilai berhubungan dengan cedera otak serius pada penumpang.
Dengan adanya riwayat laporan cedera, kasus koma, dan kematian yang dikaitkan dengan X2, pemeriksaan menyeluruh terhadap keamanan wahana menjadi perhatian penting. Untuk saat ini, wahana tersebut masih ditutup sambil menunggu proses pemeriksaan dari otoritas terkait.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment