Kemenkeu: Investasi SBN Bisa Dimulai dengan Modal Rp1 Juta

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengingatkan masyarakat bahwa investasi tidak harus dimulai dengan modal besar. Dengan dana mulai dari Rp1 juta, masyarakat sudah dapat membeli Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang diterbitkan oleh pemerintah. Kemudahan akses tersebut membuat SBN menjadi salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan, terutama bagi masyarakat yang baru ingin memulai investasi.

Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kemenkeu Herman Saheruddin mengatakan, waktu terbaik untuk mulai menabung dan berinvestasi adalah ketika seseorang sudah memiliki pendapatan. Menurut dia, masyarakat perlu membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan sejak awal, bukan menunggu adanya sisa uang.

Investasi Sebaiknya Dimulai Saat Sudah Berpenghasilan

Herman menyampaikan hal tersebut dalam Lampung Financial Festival 2026 yang digelar pada Minggu (6/9). Ia menekankan pentingnya mengubah kebiasaan dalam mengelola pendapatan, terutama dengan menerapkan prinsip “sisihkan, jangan sisakan”.

Menurut Herman, sebagian pendapatan dapat langsung dialokasikan untuk tabungan dan investasi. Pendapatan tersebut tidak hanya berasal dari pekerjaan atau usaha pribadi, tetapi juga bisa berupa uang yang diberikan oleh orang tua.

“Kalau nabung pertama apa? Sisihkan, jangan sisakan. Jadi kapan waktu yang tepat untuk investasi menabung? Ya sekarang,” kata Herman.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan menabung dan berinvestasi perlu dibangun sedini mungkin. Dengan menyisihkan sebagian pendapatan secara rutin, masyarakat dapat mulai menyiapkan dana untuk kebutuhan masa depan tanpa harus menunggu memiliki jumlah uang yang besar.

SBN Ritel Bisa Dibeli Mulai Rp1 Juta

Herman menyebut Surat Berharga Negara atau SBN sebagai salah satu instrumen yang sesuai bagi investor pemula. Instrumen ini diterbitkan langsung oleh pemerintah dan dapat dibeli dengan nominal awal Rp1 juta.

Ia menjelaskan, SBN ritel memiliki akses pembelian yang lebih mudah dibandingkan obligasi korporasi. Obligasi yang diterbitkan perusahaan umumnya membutuhkan dana lebih besar sehingga tidak selalu mudah dijangkau oleh masyarakat umum. Sebaliknya, SBN yang diterbitkan pemerintah dapat dibeli oleh masyarakat dengan nilai investasi yang lebih terjangkau.

“Yang sifatnya seperti emas yaitu aman banget gitu ya dan bisa teman-teman beli dalam nominasi yang minimal satu juta ya investasinya adalah Obligasi Republik Indonesia atau Surat Berharga Negara (SBN),” ujarnya.

Imbal Hasil SBN Disebut Sekitar 7 Persen per Tahun

Dalam penjelasannya, Herman menyebut imbal hasil SBN saat ini berada di kisaran 7 persen per tahun. Tingkat imbal hasil tersebut berlaku untuk produk SBN konvensional maupun syariah.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu memahami produk yang akan dibeli sebelum melakukan investasi. Informasi mengenai jenis SBN, mekanisme pembelian, serta ketentuan yang berlaku dapat menjadi pertimbangan sebelum menentukan pilihan.

Pembelian SBN Bisa Dilakukan Melalui Mobile Banking

Selain dapat dibeli dengan modal awal Rp1 juta, SBN juga relatif mudah diakses melalui layanan digital. Herman mengatakan masyarakat dapat membeli Obligasi Negara Ritel atau SBN melalui aplikasi mobile banking yang menjadi mitra distribusi pemerintah.

“Belinya dari mana? Teman-teman punya mobile banking? Di mobile banking bisa di situ dibeli ORI atau SBN,” kata Herman.

Ketersediaan layanan pembelian melalui mobile banking memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin mulai berinvestasi tanpa harus datang langsung ke lokasi tertentu. Akses digital tersebut juga memungkinkan proses pembelian dilakukan melalui perangkat yang sehari-hari digunakan untuk bertransaksi.

Pentingnya Menabung dan Berbagi

Herman tidak hanya mengingatkan masyarakat untuk mulai berinvestasi, tetapi juga menekankan pentingnya menabung dan berbagi kepada sesama. Menurut dia, sebagian pendapatan perlu disisihkan untuk mempersiapkan kebutuhan di masa depan.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak melupakan sedekah sebagai bagian dari sikap bersyukur atas rezeki yang diperoleh. Dengan demikian, pengelolaan pendapatan tidak hanya diarahkan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

“Kalau kita sekarang punya rezeki sebagai bagian dari kata tadi yang saya bilang bersyukur adalah menyisihkan sebagian dari pendapatan kita untuk masa depan dan jangan lupa sedekah,” tuturnya.

Kesimpulan

Kemenkeu menegaskan bahwa investasi dapat dimulai dari nominal yang terjangkau. Dengan modal Rp1 juta, masyarakat sudah bisa membeli SBN ritel yang diterbitkan pemerintah. Instrumen ini disebut cocok bagi investor pemula karena dapat diakses melalui mobile banking mitra distribusi pemerintah dan menawarkan imbal hasil sekitar 7 persen per tahun untuk produk konvensional maupun syariah.

Ke depan, masyarakat diharapkan semakin terbiasa mengelola pendapatan dengan cara menyisihkan sebagian uang untuk tabungan dan investasi sejak mulai memiliki penghasilan. Selain membangun persiapan keuangan untuk masa depan, kebiasaan tersebut juga dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial melalui aktivitas berbagi dan bersedekah.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment