Mentan Klaim Stok Beras Nasional Aman hingga 10 Bulan di Tengah Ancaman El Nino

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan stok beras nasional masih berada dalam kondisi aman meski Indonesia menghadapi ancaman fenomena kekeringan ekstrem El Nino. Berdasarkan perhitungan pemerintah, ketersediaan beras saat ini diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga sekitar 10 bulan ke depan.

Perhitungan tersebut tidak hanya mengacu pada cadangan beras yang tersimpan di Bulog. Pemerintah turut memperhitungkan tanaman padi yang masih berada di lahan atau standing crop, persediaan beras di sektor hotel, restoran, dan katering, serta stok yang berada di rumah tangga di seluruh Indonesia.

Stok Beras Nasional Disebut Mencapai 26 Juta Ton

Amran menjelaskan, jumlah standing crop atau tanaman padi yang masih berdiri di lahan diperkirakan mencapai sekitar 3,8 juta ton. Selain itu, terdapat pasokan beras yang tersebar di berbagai sektor konsumsi dan cadangan pemerintah.

Standing crop ada kurang lebih hampir 4 juta ton, 3,8 juta ton. Standing crop artinya tanaman yang berdiri sekarang. Kemudian, ada beras di horeka, hotel, restoran, dan rumah-rumah seluruh Indonesia. Kemudian, juga ada di Bulog. Totalnya 26 juta ton,” ujar Amran di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (14/9).

Menurutnya, total ketersediaan tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam memastikan kecukupan pasokan beras nasional. Dengan mempertimbangkan seluruh sumber pasokan, pemerintah menilai kondisi stok masih mampu menghadapi potensi tekanan akibat kekeringan.

Kebutuhan Beras Sekitar 2,6 Juta Ton per Bulan

Amran menyebut kebutuhan beras nasional berada di kisaran 2,6 juta ton setiap bulan. Jika dibandingkan dengan total persediaan yang diperkirakan mencapai 26 juta ton, stok tersebut secara teoritis dapat mencukupi kebutuhan selama kurang lebih 10 bulan.

Perhitungan itu juga memperhitungkan waktu panen puncak yang diperkirakan berlangsung pada Maret. Dengan demikian, pasokan baru dari hasil panen diharapkan sudah tersedia sebelum persediaan yang ada saat ini habis.

“Kalau kebutuhan konsumsi 2,6 juta per bulan, berarti stok cukup untuk 10 bulan. Sekarang September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, panen puncak di Maret lagi. Jadi aman,” kata Amran.

Dampak El Nino Masih Dinilai Dapat Diantisipasi

Selain membahas ketersediaan beras, Amran menyampaikan bahwa dampak El Nino terhadap produksi pangan sejauh ini masih berada dalam batas yang dapat diantisipasi. Kekeringan yang dilaporkan diperkirakan telah berdampak pada sekitar 50 ribu hektare lahan pertanian.

Meski demikian, kondisi tersebut disebut belum mengganggu produksi pangan secara nasional. Amran mengatakan pemerintah masih melihat posisi produksi berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS yang dinilai tetap aman.

“Kekeringan yang masuk, mungkin sekarang estimasi lahan pertanian yang terdampak ada 50 ribuan hektare. Tapi itu masih posisi aman. Kita lihat dari BPS produksi kita masih aman,” ujarnya.

Strategi Pemerintah Menjaga Produksi Pangan

Untuk menjaga keberlanjutan produksi selama musim kering, pemerintah memprioritaskan penanaman di wilayah yang memiliki jaringan irigasi. Amran menyebut jaringan irigasi yang telah diperbaiki mencakup sekitar 3 juta hingga 4 juta hektare lahan.

Pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah pendukung, antara lain penggunaan benih yang tahan terhadap kekeringan, penerapan metode Pertanian Modern-Advanced Agriculture System atau PM-AAS, serta pompanisasi untuk lahan yang masih memiliki sumber air.

Langkah tersebut ditujukan untuk mencegah El Nino mengganggu musim tanam dan menekan produksi pangan. Pemerintah juga menyiapkan bantuan bagi petani yang lahannya terdampak kekeringan. Bantuan itu meliputi benih, pengolahan lahan, alat mesin pertanian, dan pompanisasi.

“Yang kekeringan langsung kita bantu pengolahan dan benih. Jadi jangan biarkan petani jalan sendiri. Kita ada benih gratis, kemudian alat mesin pertanian gratis, bantu pompanisasi gratis,” kata Amran.

Kesimpulan

Pemerintah menyatakan stok beras nasional masih aman untuk memenuhi kebutuhan sekitar 10 bulan dengan memperhitungkan persediaan di Bulog, sektor hotel, restoran, rumah tangga, serta tanaman padi yang masih berada di lahan. Perkiraan panen puncak pada Maret juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan pasokan.

Di sisi lain, ancaman El Nino tetap diantisipasi melalui perbaikan irigasi, penyediaan benih tahan kekeringan, penerapan teknologi pertanian, dan pompanisasi. Pemerintah juga berkomitmen memberikan bantuan langsung kepada petani agar dampak kekeringan tidak mengganggu musim tanam serta produksi pangan nasional.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment