Program Desa Energi Berdikari Pertamina Tingkatkan Produktivitas Petani di Boyolali
Musim kemarau selama bertahun-tahun menjadi tantangan bagi petani di Desa Sobokerto, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Keterbatasan air membuat sebagian besar lahan pertanian tidak dapat ditanami secara optimal. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap hasil panen dan pendapatan petani.
Situasi perlahan berubah setelah kelompok tani Ngudi Makmur memperoleh dukungan dan pendampingan dari Pertamina melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Energi Berdikari (DEB). Dukungan tersebut mencakup penyediaan sumber air, sarana pertanian, serta pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung kegiatan budidaya.
Petani Sobokerto Menghadapi Keterbatasan Air
Khairul Huda bersama para petani lainnya mengelola lahan seluas sekitar empat hektare. Namun, sebelum mendapatkan dukungan, lahan tersebut hanya bisa ditanami ketika musim penghujan karena belum memiliki akses irigasi yang memadai.
Pada musim kemarau, petani hanya mampu memanfaatkan sebagian kecil lahan yang tersedia. Khairul mengatakan, sekitar 20 persen lahan yang mereka kelola dapat ditanami. Sementara itu, selama enam bulan berikutnya, sebagian besar lahan tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam sehingga petani mengalami kerugian.
“Saat musim kemarau kami hanya mampu menanami sekitar 20 persen lahan. Selama enam bulan berikutnya kami mengalami kerugian karena tidak bisa bercocok tanam,” kata Khairul.
Pembentukan Kelompok Tani Ngudi Makmur
Kekhawatiran terhadap kondisi pertanian tersebut mendorong para petani membentuk kelompok tani bernama Ngudi Makmur. Melalui kelompok ini, mereka berupaya mencari solusi agar lahan pertanian tetap dapat dimanfaatkan ketika musim kemarau tiba.
Kelompok tani Ngudi Makmur kemudian mendapatkan pendampingan dari Pertamina melalui program DEB. Sejak akhir 2024, Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Adi Soemarmo membantu kelompok tersebut dengan berbagai dukungan untuk mengembangkan usaha tani.
Dukungan Sumur Air dan Sarana Pertanian
Salah satu bentuk dukungan yang diberikan adalah pembangunan dua sumur air. Pertamina juga menyediakan sarana dan prasarana pendukung pertanian untuk membantu petani meningkatkan pemanfaatan lahan.
Selain itu, dibangun pula Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang digunakan sebagai sumber energi untuk mengoperasikan pompa air. Kehadiran fasilitas tersebut membantu kelompok tani mendapatkan akses air sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap listrik konvensional.
Luas Lahan Produktif Meningkat
Pendampingan yang diberikan membawa perubahan secara bertahap. Pada tahun pertama, luas lahan yang dapat ditanami saat musim kemarau meningkat dari sekitar 20 persen menjadi 60 persen.
Memasuki tahun kedua pendampingan, sekitar 90 persen lahan telah dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penanaman. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan air dan sarana pendukung menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau.
Perubahan itu turut memberikan dampak terhadap kondisi ekonomi petani. Khairul menyebut manfaat dari dukungan Pertamina sangat dirasakan oleh kelompok tani Ngudi Makmur. Menurutnya, kondisi kehidupan para petani kini semakin sejahtera dibandingkan sebelumnya.
“Manfaat yang diberikan Pertamina sangat banyak dan benar-benar kami rasakan. Dampaknya sangat besar terhadap perekonomian kami. Dulu kami sangat kesulitan sebagai petani, sekarang alhamdulillah, kehidupan kami semakin sejahtera,” ujar Khairul.
Pengembangan Peternakan dan Pemanfaatan Gulma Waduk
Program pendampingan tidak hanya berfokus pada sektor pertanian. Pertamina juga membantu kelompok tani mengembangkan sektor peternakan melalui budidaya hewan ternak yang dikelola secara berkelompok.
Dalam pengembangan peternakan tersebut, kelompok tani memanfaatkan gulma yang selama ini memenuhi Waduk Cengklik sebagai pakan alternatif ternak. Pemanfaatan gulma memberikan nilai ekonomi tambahan bagi kelompok sekaligus membantu menjaga kondisi lingkungan di sekitar waduk.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi masyarakat dapat dikembangkan dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar. Pertanian, peternakan, dan pengelolaan lingkungan berjalan beriringan melalui pengelolaan secara berkelompok.
PLTS Dorong Kemandirian Energi
Bagi kelompok tani Ngudi Makmur, PLTS memiliki peran penting dalam mendukung operasional pompa air. Dengan memanfaatkan energi surya, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada listrik konvensional untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan.
Penggunaan energi terbarukan tersebut juga membantu kelompok tani membangun kemandirian energi. Selain itu, pemanfaatan energi baru terbarukan turut berkontribusi dalam menekan emisi di lingkungan.
VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan bahwa program DEB menjadi bukti pemanfaatan energi baru terbarukan dapat mendorong kemandirian masyarakat. Menurutnya, program tersebut tidak hanya menghadirkan akses energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga mendukung penguatan desa melalui berbagai sektor.
“DEB tak sekadar menghadirkan akses energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga membangun kemandirian desa melalui sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga pengelolaan lingkungan,” kata Baron.
Kesimpulan
Program Desa Energi Berdikari di Desa Sobokerto menunjukkan bahwa dukungan terhadap akses air, sarana pertanian, dan energi terbarukan dapat membantu petani menghadapi musim kemarau. Dari semula hanya mampu menanami sekitar 20 persen lahan, kelompok tani Ngudi Makmur kini dapat memanfaatkan hingga sekitar 90 persen lahan untuk penanaman.
Pengembangan peternakan dan pemanfaatan gulma Waduk Cengklik juga memperluas manfaat program, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Ke depan, kemandirian energi dan pengelolaan potensi lokal diharapkan dapat terus mendukung keberlanjutan usaha masyarakat Desa Sobokerto.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment