Rupiah Melemah ke Rp17.645 per Dolar AS, Pasar Menanti Arah Pergerakan Berikutnya

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (8/9) pagi. Mata uang Garuda berada di level Rp17.645 per dolar AS, turun 5 poin atau 0,03 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah tersebut berlangsung ketika mayoritas mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang regional tercatat menguat, sementara beberapa lainnya mengalami pelemahan tipis atau bergerak stagnan. Kondisi pasar valuta asing yang beragam turut menjadi latar pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini.

Rupiah Melemah Tipis di Tengah Pergerakan Mata Uang Asia

Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat mengalami tekanan ringan. Pelemahan sebesar 5 poin atau 0,03 persen membawa nilai tukar rupiah ke level Rp17.645 per dolar AS. Perubahan tersebut menunjukkan pergerakan yang relatif terbatas dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Di kawasan Asia, sejumlah mata uang justru mencatatkan penguatan terhadap dolar AS. Peso Filipina naik 0,16 persen, sedangkan ringgit Malaysia terapresiasi 0,02 persen. Dolar Singapura juga menguat 0,12 persen.

Penguatan lebih besar terlihat pada yen Jepang dan won Korea Selatan. Yen Jepang naik 0,72 persen terhadap dolar AS, sementara won Korea Selatan terapresiasi 0,63 persen. Di sisi lain, yuan China melemah tipis sebesar 0,01 persen. Dolar Hong Kong tercatat bergerak datar terhadap dolar AS.

Mata Uang Negara Maju Bergerak Variatif

Pergerakan yang beragam juga terlihat pada mata uang negara-negara maju. Euro Eropa tercatat menguat 0,10 persen terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris naik 0,05 persen, sedangkan dolar Kanada mengalami penguatan sebesar 0,10 persen.

Franc Swiss juga bergerak positif dengan apresiasi 0,15 persen. Sementara itu, dolar Australia menjadi salah satu mata uang negara maju yang mengalami koreksi, yakni turun 0,03 persen terhadap dolar AS.

Variasi pergerakan mata uang tersebut menunjukkan bahwa pasar masih bergerak hati-hati. Pada perdagangan pagi, tidak semua mata uang bergerak dalam arah yang sama, sehingga rupiah turut menghadapi dinamika pasar yang relatif beragam.

Rupiah Diproyeksikan Bergerak Konsolidatif

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah berpotensi bergerak konsolidatif pada perdagangan Selasa. Proyeksi tersebut didasarkan pada tidak adanya rilis data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Menurut Lukman, rupiah masih dapat memperoleh dukungan dari indeks dolar AS yang terpantau mengalami koreksi. Namun, penguatan harga minyak mentah dunia yang terjadi akibat eskalasi di Timur Tengah berpotensi menjadi faktor yang membebani pergerakan mata uang Garuda.

“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS di tengah absennya data ekonomi penting, baik dari internal maupun eksternal hari ini. Walau rupiah mungkin didukung oleh indeks dolar yang terpantau terkoreksi, namun harga minyak mentah dunia yang masih naik akibat eskalasi di Timur Tengah membebani,” ujar Lukman.

Proyeksi Rentang Perdagangan Rupiah

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Dengan demikian, pelaku pasar akan mencermati kemampuan rupiah untuk bertahan di dalam rentang tersebut di tengah pergerakan dolar AS, mata uang regional, serta harga minyak mentah dunia.

Kesimpulan

Rupiah melemah tipis 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.645 per dolar AS pada perdagangan Selasa (8/9) pagi. Pelemahan tersebut terjadi ketika mata uang Asia dan negara maju bergerak variatif terhadap dolar AS. Peso Filipina, ringgit Malaysia, dolar Singapura, yen Jepang, dan won Korea Selatan mencatatkan penguatan, sedangkan yuan China melemah tipis dan dolar Hong Kong bergerak datar.

Ke depan, rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS. Tidak adanya data ekonomi penting dapat membatasi pergerakan pasar, meskipun koreksi indeks dolar AS berpotensi memberikan dukungan. Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi di Timur Tengah masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memberikan tekanan terhadap rupiah.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment