Rupiah Melemah ke Rp17.862 per Dolar AS, Investor Menanti RDG BI

JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (18/8) sore. Mata uang Garuda berada di level Rp17.862 per dolar AS, turun 64 poin atau 0,36 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah tersebut berlangsung di tengah kondisi pasar valuta asing Asia yang bergerak bervariasi. Investor terlihat mencermati sejumlah perkembangan global dan menunggu agenda ekonomi penting di dalam negeri, termasuk Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) serta rilis data neraca transaksi berjalan.

Rupiah Tertekan di Tengah Pergerakan Mata Uang Asia

Pelemahan rupiah tidak terjadi secara terpisah dari dinamika mata uang kawasan Asia. Pada perdagangan yang sama, sejumlah mata uang regional tercatat melemah terhadap dolar AS, sementara beberapa lainnya masih mampu menguat.

Yuan China tercatat melemah 0,03 persen terhadap dolar AS. Dolar Singapura juga turun 0,03 persen, sedangkan yen Jepang terdepresiasi 0,15 persen. Peso Filipina menjadi salah satu mata uang yang mengalami pelemahan cukup besar, yakni sebesar 0,50 persen.

Di sisi lain, ringgit Malaysia mengalami apresiasi sebesar 0,08 persen. Penguatan juga terjadi pada won Korea Selatan yang naik 0,35 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong tercatat stabil terhadap dolar AS.

Perbedaan arah pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar valuta asing kawasan Asia berada dalam kondisi yang beragam. Pergerakan masing-masing mata uang turut mencerminkan respons pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi dan sentimen global yang berkembang.

Mayoritas Mata Uang Negara Maju Melemah

Tekanan terhadap mata uang juga terlihat pada sejumlah mata uang utama negara maju. Euro Eropa tercatat turun 0,07 persen terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,12 persen, sedangkan dolar Australia terdepresiasi 0,05 persen.

Franc Swiss turut mengalami pelemahan sebesar 0,11 persen. Sementara itu, dolar Kanada bergerak berlawanan arah dengan menguat 0,03 persen terhadap dolar AS.

Pergerakan mayoritas mata uang utama tersebut turut menjadi bagian dari gambaran umum kondisi pasar global. Dalam situasi ketika sebagian besar mata uang bergerak melemah, dolar AS menjadi salah satu acuan utama yang terus diperhatikan oleh investor.

Investor Menanti RDG Bank Indonesia

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah terjadi ketika investor bersikap hati-hati menjelang agenda penting Bank Indonesia. Pelaku pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang dijadwalkan berlangsung pada hari berikutnya.

Selain RDG BI, investor juga mencermati rilis data neraca transaksi berjalan yang akan disampaikan pada Jumat. Kedua agenda tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi dan transaksi eksternal Indonesia.

“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah kehati-hatian investor menjelang RDG BI besok dan rilis data neraca transaksi berjalan Jumat ini,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/8).

Geopolitik Timur Tengah dan Harga Minyak Menekan Rupiah

Menurut Lukman, sentimen terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas. Ketidakpastian geopolitik tersebut menjadi salah satu faktor yang turut membebani pergerakan mata uang Garuda.

Kenaikan harga minyak mentah dunia juga disebut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Perkembangan harga komoditas tersebut menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Geopolitik yang memanas di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia juga menekan rupiah,” kata Lukman.

Kesimpulan

Rupiah ditutup melemah 0,36 persen ke level Rp17.862 per dolar AS pada perdagangan Selasa (18/8). Pelemahan tersebut berlangsung bersamaan dengan pergerakan mata uang Asia dan negara maju yang cenderung bervariasi, dengan mayoritas mata uang utama negara maju mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia dan rilis data neraca transaksi berjalan. Selain itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak mentah dunia masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi sentimen terhadap rupiah.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment