Wamenkeu Juda Agung Nilai Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed pada Global Bond RI Masih Wajar

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memberikan tanggapan mengenai keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed, yang kembali menaikkan suku bunga acuan. Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi pasar keuangan global, termasuk obligasi berdenominasi mata uang asing yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia atau global bond.

The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75-4,00 persen. Menurut Juda, kebijakan tersebut dapat mendorong terjadinya repricing pada global bond Indonesia. Namun, ia menilai perubahan harga atau penyesuaian imbal hasil obligasi tersebut masih berada dalam batas yang wajar.

Juda Agung Sebut Global Bond RI Akan Mengalami Repricing

Juda menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga The Fed tentu membawa dampak terhadap instrumen surat utang, termasuk obligasi pemerintah Indonesia yang diterbitkan dalam mata uang asing. Dampak tersebut tercermin melalui proses repricing, yakni penyesuaian harga dan imbal hasil obligasi mengikuti perubahan kondisi suku bunga global.

“Ya ini saya kira itu tentu saja ada repricing ya, tapi saya kira kita masih dalam level yang wajar lah,” ujar Juda ketika ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah telah memperhitungkan pengaruh kebijakan moneter Amerika Serikat terhadap pasar obligasi. Kenaikan suku bunga acuan The Fed umumnya menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi pergerakan imbal hasil aset keuangan di berbagai negara.

Meski demikian, Juda tidak menyebut adanya kondisi yang berada di luar batas kewajaran pada global bond Indonesia. Ia menegaskan bahwa penyesuaian yang terjadi masih dapat diterima seiring dengan perubahan kebijakan suku bunga di Amerika Serikat.

Penerbitan Panda Bond Tetap Dilanjutkan

Selain memberikan penjelasan mengenai dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap global bond, Juda juga memastikan penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dalam valuta asing berdenominasi Yuan China atau Panda Bond tetap dilakukan.

“Panda bond tetap,” ujar Juda, yang pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah tetap melanjutkan rencana penerbitan surat utang dalam denominasi Yuan China. Keputusan ini disampaikan meskipun pasar keuangan global menghadapi perubahan akibat kebijakan kenaikan suku bunga The Fed.

Panda Bond merupakan salah satu instrumen pembiayaan pemerintah yang diterbitkan dalam mata uang Yuan China. Dalam konteks kebijakan pemerintah, penerbitan surat utang tersebut tetap menjadi bagian dari agenda pembiayaan yang telah disiapkan.

The Fed Kembali Menaikkan Suku Bunga Acuan

Kenaikan suku bunga sebesar 25 bps kali ini menjadi kenaikan pertama yang dilakukan The Fed sejak 2023. Bank sentral Amerika Serikat juga memberikan sinyal bahwa masih terdapat kemungkinan kenaikan suku bunga sebanyak satu kali lagi hingga akhir tahun.

The Fed menjelaskan bahwa kenaikan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menekan inflasi. Tekanan inflasi dipicu oleh lonjakan harga minyak dan sejumlah faktor lainnya. Bank sentral Amerika Serikat menilai inflasi masih berada pada level yang tinggi sehingga diperlukan kebijakan untuk mendorong penurunan inflasi secara lebih cepat.

Keputusan FOMC Diambil Secara Bulat

Dikutip dari AFP, keputusan menaikkan suku bunga acuan tersebut diambil secara bulat oleh anggota Federal Open Market Committee (FOMC). Seluruh anggota memberikan suara yang sama dengan hasil 12-0.

Dalam rilis resminya, The Fed menyatakan bahwa inflasi masih tinggi. Bank sentral tersebut berharap kebijakan yang diambil dapat membantu mengembalikan inflasi menuju target sebesar 2 persen dalam waktu yang lebih cepat.

Keputusan The Fed menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pemerintah dan pelaku pasar, khususnya karena kebijakan suku bunga Amerika Serikat dapat memengaruhi pasar keuangan global. Perubahan tersebut juga menjadi pertimbangan dalam melihat kondisi obligasi pemerintah Indonesia yang diterbitkan dalam mata uang asing.

Kesimpulan

Wamenkeu Juda Agung menilai kenaikan suku bunga The Fed akan menyebabkan repricing pada global bond Indonesia. Meski demikian, penyesuaian tersebut dianggap masih berada dalam level yang wajar. Di tengah kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat, pemerintah juga memastikan penerbitan Panda Bond tetap dilanjutkan.

Ke depan, perkembangan kebijakan The Fed, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga satu kali lagi hingga akhir tahun, akan terus menjadi perhatian. Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi kondisi pasar obligasi dan instrumen keuangan global, sementara pemerintah tetap memantau dampaknya terhadap surat utang negara berdenominasi valuta asing.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment