Kasus Pneumonia di Pontianak Naik 20 Persen akibat Memburuknya Kualitas Udara
Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat peningkatan kasus pneumonia hingga 20 persen. Kenaikan tersebut terjadi ketika kualitas udara di Pontianak memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu paparan kabut asap.
Peningkatan kasus infeksi paru-paru ini menjadi perhatian pihak rumah sakit. Kondisi tersebut mendorong RS Bhayangkara Anton Soedjarwo untuk memperkuat kesiapan dalam menghadapi kemungkinan bertambahnya pasien dengan gangguan pernapasan.
Kasus Pneumonia Meningkat hingga 20 Persen
Kepala RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak, Kombes Pol drg. Josep Ginting, mengatakan bahwa rumah sakit mencatat peningkatan kasus pneumonia hingga 20 persen. Menurutnya, kenaikan tersebut berlangsung seiring memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Pontianak.
Josep menyebut peningkatan kasus infeksi paru-paru tersebut menjadi perhatian rumah sakit. Sebagai langkah antisipasi, rumah sakit menyiapkan sejumlah kebutuhan untuk menangani pasien, mulai dari tenaga kesehatan hingga ruang perawatan.
“Rumah sakit mengantisipasi peningkatan kasus dengan menyiapkan tenaga kesehatan, alat medis, ruang perawatan, serta sistem koordinasi dengan rumah sakit lain,” ujar Josep, melansir Antara, Sabtu (29/8).
Kabut Asap Dapat Memperburuk Saluran Pernapasan
Dokter spesialis paru RS Bhayangkara Anton Soedjarwo, Andreas, menjelaskan bahwa paparan kabut asap dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan. Apabila paparan terjadi pada tingkat tertentu, gangguan tersebut dapat berkembang menjadi pneumonia.
Kabut asap yang terhirup dapat memengaruhi saluran pernapasan, terutama ketika tubuh tidak mampu mentoleransi paparan yang berlangsung secara terus-menerus. Karena itu, gejala yang muncul perlu diperhatikan, khususnya pada orang yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.
Anak dan Lansia Termasuk Kelompok Rentan
Anak-anak dan lanjut usia atau lansia menjadi kelompok yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Andreas mengatakan, kelompok orang tua lebih banyak dan rentan terdampak pneumonia yang kemungkinan berkaitan dengan kondisi kabut asap.
“Orang tua lebih banyak dan rentan terdampak pneumonia, bisa karena kabut asap ini,” ujar Andreas.
Kerentanan tersebut membuat kondisi kesehatan kelompok anak dan lansia perlu menjadi perhatian ketika kualitas udara memburuk. Paparan kabut asap yang berlangsung berulang atau terus-menerus dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan pada saluran pernapasan.
Batuk dan Bersin Menjadi Gejala Awal
Gejala awal yang kerap muncul akibat paparan kabut asap antara lain batuk dan bersin. Kedua gejala tersebut dapat muncul ketika saluran pernapasan mengalami iritasi akibat udara yang tercemar asap.
Apabila paparan berlangsung terus-menerus dan tubuh tidak mampu mentoleransinya, gangguan kesehatan dapat berkembang menjadi sesak napas. Perkembangan gejala ini menunjukkan bahwa paparan asap dapat berdampak lebih serius terhadap sistem pernapasan.
Pneumonia merupakan infeksi pada jaringan paru-paru yang disertai peradangan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kantung udara atau alveoli terisi cairan maupun nanah. Akibatnya, proses pernapasan dapat terganggu.
Pneumonia Berisiko Menimbulkan Komplikasi
Pneumonia tidak dapat dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan. Penyakit ini memiliki risiko fatal apabila tidak ditangani dengan baik. Selain itu, pneumonia juga dapat memicu komplikasi serius.
Dengan adanya peningkatan kasus hingga 20 persen, kesiapan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak memburuknya kualitas udara di Pontianak. RS Bhayangkara Anton Soedjarwo telah menyiapkan tenaga kesehatan, alat medis, ruang perawatan, serta koordinasi dengan rumah sakit lain sebagai langkah antisipasi.
Kesimpulan
Kasus pneumonia di RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak meningkat hingga 20 persen seiring memburuknya kualitas udara akibat karhutla. Kabut asap dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan dan berpotensi berkembang menjadi pneumonia, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Batuk dan bersin menjadi gejala awal yang dapat muncul akibat paparan asap, sedangkan paparan yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan sesak napas. Pneumonia juga berisiko menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik. Ke depan, kesiapan rumah sakit dan koordinasi antar fasilitas kesehatan tetap menjadi perhatian penting dalam menghadapi kemungkinan peningkatan gangguan pernapasan selama kualitas udara memburuk.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment