Mengapa Aturan Bagasi Kabin Maskapai Semakin Ketat? Ini Tiga Alasannya
Aturan bagasi kabin yang diterapkan maskapai penerbangan kini semakin beragam. Ketentuan mengenai berat dan jumlah barang bawaan dapat dipengaruhi oleh jenis pesawat, kelas tiket, hingga kebijakan masing-masing maskapai. Di balik perbedaan tersebut, terdapat sejumlah pertimbangan penting, terutama berkaitan dengan batas berat pesawat, strategi bisnis, dan keselamatan penerbangan.
Perubahan aturan bagasi kabin salah satunya terlihat di Australia. Mulai 2 Februari 2026, Virgin Australia membatasi penumpang kelas ekonomi untuk membawa satu tas kabin dengan berat maksimal 8 kilogram. Penumpang juga diperbolehkan membawa satu barang pribadi yang dapat disimpan di bawah kursi.
Ketentuan Virgin Australia tersebut berbeda dengan aturan yang berlaku di Qantas dan Jetstar. Qantas memperbolehkan beberapa kombinasi bagasi kabin dengan total berat maksimal 14 kilogram. Sementara itu, Jetstar menetapkan jatah bagasi kabin maksimal 7 kilogram yang dapat dibagi ke dalam dua barang.
Tiga Alasan Aturan Bagasi Kabin Diperketat
Perbedaan ketentuan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai alasan maskapai memperketat batas berat bagasi kabin. Mengutip The Independent, setidaknya terdapat tiga faktor yang mendasari kebijakan tersebut, yaitu perhitungan berat pesawat, kepentingan bisnis maskapai, serta keselamatan selama penerbangan.
1. Berkaitan dengan Batas Berat Pesawat
Setiap pesawat memiliki batas maksimum berat yang diperbolehkan ketika lepas landas. Dalam perhitungannya, maskapai perlu mempertimbangkan berbagai komponen, mulai dari berat pesawat, bahan bakar, makanan dan minuman, kargo, awak pesawat, penumpang, hingga bagasi.
Pada pesawat berukuran besar, maskapai dapat menggunakan standar rata-rata berat penumpang sebagai bagian dari perhitungan operasional. Di Australia, misalnya, standar berat penumpang dewasa untuk pesawat berkapasitas 150-299 kursi, seperti Boeing 737, ditetapkan sebesar 81,8 kilogram untuk laki-laki dan 66,7 kilogram untuk perempuan.
Selain berat penumpang, terdapat pula standar berat bagasi kabin yang ditetapkan sebesar 7 kilogram untuk setiap penumpang. Namun, maskapai dapat mengajukan standar berat penumpang dan bagasi kabin sendiri kepada regulator, Civil Aviation Safety Authority atau CASA. Apabila disetujui, ketentuan yang berlaku dapat berbeda dari standar umum.
2. Menjadi Bagian dari Strategi Bisnis Maskapai
Perbedaan aturan bagasi kabin juga tidak terlepas dari perkembangan bisnis penerbangan, khususnya pada maskapai berbiaya rendah atau low-cost carrier. Maskapai jenis ini umumnya mengandalkan pendapatan tambahan dari berbagai layanan yang tidak selalu termasuk dalam harga tiket dasar.
Layanan tambahan tersebut antara lain bagasi, makanan dan minuman, serta akses Wi-Fi. Penumpang yang membawa barang melebihi batas berat atau jumlah yang ditentukan berpotensi dikenai biaya tambahan. Dengan demikian, aturan bagasi kabin menjadi salah satu cara maskapai mengatur layanan sekaligus memperoleh pendapatan di luar penjualan tiket.
International Air Transport Association atau IATA memperkirakan pendapatan tambahan maskapai secara global mencapai US$144 miliar atau sekitar Rp2.539 triliun pada 2026. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran layanan tambahan dalam bisnis penerbangan.
3. Mendukung Keselamatan Penerbangan
Faktor keselamatan juga menjadi alasan penting di balik pembatasan berat bagasi kabin. Barang bawaan yang terlalu banyak atau terlalu berat dapat memperlambat proses boarding. Dalam kondisi seperti itu, awak kabin juga perlu membantu penumpang mengangkat dan menyimpan barang ke kompartemen atas.
Aktivitas tersebut tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga dapat meningkatkan risiko cedera bagi awak kabin, terutama ketika harus mengangkat barang berat secara berulang. Karena itu, pembatasan bagasi kabin turut membantu menjaga kelancaran proses penumpang masuk ke pesawat.
Persoalan bagasi dapat menjadi lebih serius dalam situasi darurat. Penumpang yang berusaha mengambil barang dari kompartemen atas atau area bawah kursi berpotensi memperlambat proses evakuasi. Oleh sebab itu, kepatuhan terhadap ketentuan bagasi tidak hanya berkaitan dengan biaya tambahan, tetapi juga keselamatan seluruh penumpang dan awak kabin.
Penumpang Perlu Memeriksa Aturan Sebelum Terbang
Aturan bagasi kabin dapat berbeda antara satu maskapai dan maskapai lainnya. Perbedaan juga dapat berlaku berdasarkan rute penerbangan atau jenis tiket yang dipilih. Karena itu, penumpang sebaiknya selalu memeriksa ketentuan bagasi sebelum melakukan perjalanan.
Membawa barang sesuai dengan batas yang ditetapkan dapat membantu proses boarding berjalan lebih lancar. Langkah tersebut juga mengurangi kemungkinan penumpang dikenai biaya tambahan akibat kelebihan bagasi serta mendukung penerbangan yang lebih aman.
Kesimpulan
Pengetatan aturan bagasi kabin didorong oleh tiga alasan utama, yakni perhitungan batas berat pesawat, strategi pendapatan maskapai, dan kebutuhan untuk menjaga keselamatan penerbangan. Contoh kebijakan Virgin Australia, Qantas, dan Jetstar menunjukkan bahwa setiap maskapai dapat menetapkan batas yang berbeda.
Ke depan, penumpang perlu semakin cermat memahami ketentuan bagasi sebelum terbang. Dengan memeriksa jumlah barang dan batas berat sesuai maskapai, perjalanan dapat berlangsung lebih tertib, efisien, dan aman bagi semua pihak.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment