Penelitian Ungkap Uban Bisa Kembali Berwarna, tetapi Tidak Berlaku untuk Semua Orang

Uban umumnya dipahami sebagai perubahan warna rambut yang bersifat permanen. Rambut yang semula berwarna hitam perlahan dapat berubah menjadi abu-abu atau putih, kemudian warna tersebut menetap. Namun, penelitian dari Columbia University menemukan bahwa sebagian helai rambut yang sebelumnya memutih ternyata dapat kembali memiliki pigmen.

Fenomena tersebut dikenal sebagai repigmentasi, yaitu kembalinya warna pada rambut setelah sebelumnya mengalami perubahan menjadi abu-abu atau putih. Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa repigmentasi bukan kejadian yang umum dan tidak berarti semua uban dapat kembali hitam.

Beberapa Rambut Beruban Dapat Mengalami Repigmentasi

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal eLife menunjukkan bahwa beberapa helai rambut manusia dapat kembali mendapatkan pigmen. Temuan ini tercatat pada laki-laki dan perempuan dari berbagai usia serta latar belakang etnis.

Repigmentasi juga tidak hanya ditemukan pada rambut kepala. Fenomena serupa teramati pada janggut dan rambut kemaluan. Meski cakupannya cukup beragam, proses tersebut hanya terjadi pada rambut atau folikel tertentu dan relatif jarang ditemukan.

Dengan demikian, perubahan warna rambut tidak selalu berlangsung dalam satu arah secara permanen. Pada kondisi tertentu, sebagian folikel rambut masih mungkin mempertahankan kemampuan untuk memproduksi pigmen.

Kaitan Perubahan Warna Rambut dengan Stres

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan beberapa kasus ketika perubahan pigmentasi rambut berlangsung bersamaan dengan perubahan tingkat stres psikologis. Salah satu peserta memperlihatkan pola repigmentasi pada sejumlah helai rambut setelah melewati periode dengan tingkat stres yang lebih rendah.

Kasus lainnya terjadi pada seorang perempuan berusia 30 tahun. Rambutnya berubah dari berpigmen menjadi putih pada masa yang bertepatan dengan stres tinggi akibat konflik dan perpisahan dalam rumah tangga. Setelah itu, rambut tersebut kembali menunjukkan pigmentasi.

Temuan tersebut memberikan bukti pada manusia bahwa perubahan stres psikologis dapat berjalan beriringan dengan perubahan pigmentasi rambut. Namun, hasil penelitian itu belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa stres merupakan satu-satunya penyebab uban.

Stres Tidak Otomatis Menyebabkan Uban

Para peneliti tidak menyatakan bahwa setiap orang yang mengalami stres pasti akan beruban. Hubungan antara stres dan perubahan warna rambut masih bersifat terbatas pada temuan tertentu. Karena itu, perubahan pigmentasi tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor.

Fenomena repigmentasi juga tidak berarti rambut yang sudah lama beruban akan otomatis kembali hitam ketika stres berkurang. Penelitian tersebut lebih menunjukkan adanya kemungkinan perubahan warna pada folikel yang belum kehilangan kemampuan memproduksi pigmen secara permanen.

Bagaimana Rambut Mendapatkan Warnanya?

Warna rambut berasal dari melanin, yaitu pigmen yang diproduksi oleh sel-sel tertentu di dalam folikel rambut. Apabila produksi melanin berkurang, rambut baru yang tumbuh akan terlihat abu-abu atau putih.

Ketika folikel masih berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk menghasilkan pigmen, perubahan lingkungan tubuh, termasuk stres, dapat mendorong folikel melewati ambang tertentu sehingga rambut kehilangan pigmentasinya. Jika kondisi tersebut kembali membaik, sebagian folikel yang belum kehilangan kemampuan pigmentasi secara permanen mungkin dapat kembali menghasilkan warna.

Proses ini disebut oleh peneliti sebagai sesuatu yang dapat berlangsung sementara atau temporarily reversible. Artinya, perubahan tersebut masih mungkin berbalik pada kondisi tertentu, tetapi tidak berlaku untuk semua folikel atau seluruh rambut yang telah memutih.

Perubahan Terjadi pada Rambut yang Baru Tumbuh

Rambut yang sudah tumbuh tidak tiba-tiba berubah warna dari putih menjadi hitam atau sebaliknya. Perubahan pigmentasi berlangsung pada rambut baru yang sedang diproduksi oleh folikel.

Karena itu, satu helai rambut dapat menunjukkan pola warna yang berbeda. Perbedaan tersebut mencerminkan perubahan produksi pigmen selama rambut mengalami pertumbuhan. Bagian rambut yang tumbuh pada periode tertentu dapat memiliki warna berbeda dari bagian yang tumbuh setelahnya.

Kesimpulan

Penelitian Columbia University menunjukkan bahwa beberapa helai rambut yang sempat memutih dapat mengalami repigmentasi. Perubahan ini ditemukan pada berbagai jenis rambut dan berkaitan dengan kondisi folikel yang masih memiliki kemampuan memproduksi pigmen.

Perubahan tingkat stres psikologis juga tercatat berjalan beriringan dengan perubahan pigmentasi pada sejumlah kasus. Namun, stres belum dapat disebut sebagai penyebab tunggal uban, dan repigmentasi bukanlah fenomena yang umum.

Temuan ini membuka pemahaman bahwa perubahan warna rambut dapat bersifat sementara pada folikel tertentu. Meski demikian, uban yang berkaitan dengan proses penuaan dan telah kehilangan kemampuan pigmentasi secara permanen tidak serta-merta kembali hitam hanya karena tingkat stres menurun.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment