Terpapar Abu Vulkanik? Ini Langkah Aman Membersihkan Diri dan Melindungi Kesehatan

Paparan abu vulkanik tidak boleh dianggap sebagai debu atau kotoran biasa. Partikel abu yang terbawa angin dapat menempel pada pakaian, wajah, dan kulit, bahkan terhirup tanpa disadari. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah yang tepat setelah terpapar agar risiko iritasi dan gangguan kesehatan tidak berlanjut.

Abu vulkanik dapat memicu sejumlah keluhan, mulai dari iritasi mata, gangguan pada kulit, hingga masalah pada saluran pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan dan kardiovaskular termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami dampak paparan.

Kurangi Paparan Sebelum Membersihkan Diri

Jika abu vulkanik masih turun, langkah pertama yang perlu dilakukan bukan langsung membersihkan wajah atau pakaian. Hal yang lebih penting adalah segera mengurangi paparan dengan masuk ke dalam ruangan. Tutup pintu dan jendela agar abu tidak semakin banyak masuk ke rumah.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan masyarakat menghindari aktivitas di luar ruangan selama paparan abu berlangsung. Abu vulkanik mengandung partikel yang dapat mengganggu saluran pernapasan. Semakin lama seseorang berada di lingkungan yang dipenuhi abu, semakin besar peluang partikel tersebut terhirup.

Apabila harus keluar rumah atau membersihkan abu yang telah masuk ke dalam ruangan, gunakan masker untuk membantu menyaring partikel abu. Penggunaan perlindungan ini juga penting ketika melakukan pembersihan karena abu yang mengendap dapat kembali beterbangan.

Waspadai Keluhan pada Saluran Pernapasan

Paparan abu vulkanik tidak selalu langsung menimbulkan keluhan berat. Dalam jangka pendek, abu dapat mengiritasi mata serta saluran pernapasan bagian atas. Gejala yang mungkin muncul antara lain batuk, iritasi pada hidung dan tenggorokan, serta memburuknya kondisi pada orang yang sebelumnya memiliki gangguan pernapasan, seperti asma.

Paparan abu dan gas vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi saluran napas hingga kesulitan bernapas. Orang dengan asma, anak-anak, serta penderita penyakit pernapasan atau jantung perlu lebih waspada terhadap kondisi tersebut.

Jika batuk, sesak, mengi, atau kesulitan bernapas tetap berlangsung setelah menjauh dari sumber paparan, jangan mengabaikannya. Segera cari pertolongan medis apabila keluhan terus berlanjut atau justru semakin memburuk.

Cara Membersihkan Abu dari Kulit dan Pakaian

Setelah berada di tempat yang aman, abu yang menempel pada kulit sebaiknya segera dibersihkan. Bersihkan tubuh dan ganti pakaian setelah beraktivitas di luar ruangan. Langkah ini penting karena abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi kulit.

Abu vulkanik juga memiliki sifat abrasif. Pada sebagian orang, kontak dengan abu dapat membuat kulit mengalami iritasi dan kemerahan. Oleh sebab itu, hindari menggosok kulit terlalu keras ketika membersihkannya.

Prinsip yang sama berlaku untuk wajah, terutama jika sedang menggunakan makeup. Jangan berulang kali mengusap foundation atau bedak yang telah bercampur abu menggunakan tisu maupun kapas. Bilas terlebih dahulu untuk mengurangi partikel abu, kemudian bersihkan makeup secara perlahan.

Jangan Mengucek Mata yang Terkena Abu

Mata merupakan bagian tubuh yang perlu mendapat perhatian khusus saat terkena abu vulkanik. Partikel abu dapat menimbulkan sensasi seperti kemasukan benda asing, mata berair, kemerahan, gatal, dan rasa terbakar. Dalam kondisi tertentu, abu bahkan dapat menyebabkan goresan pada kornea atau abrasi kornea.

Pemakai lensa kontak juga memiliki risiko lebih tinggi karena partikel abu dapat terperangkap di balik lensa. Jika abu masuk ke mata, jangan menguceknya. Bilas mata menggunakan air bersih dan hindari memakai lensa kontak selama masih terdapat paparan abu.

Kementerian Kesehatan turut mengingatkan masyarakat agar tidak mengucek mata yang terkena abu dan membersihkannya menggunakan air. Bila diperlukan, obat tetes mata dapat digunakan.

Apabila setelah dibilas mata masih terasa nyeri, sangat merah, sensitif terhadap cahaya, atau penglihatan terganggu, periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Keluhan tersebut dapat menandakan adanya cedera pada permukaan mata.

Membersihkan Abu di Dalam Rumah

Sampai di rumah bukan berarti paparan abu otomatis berakhir. Abu yang mengendap di lantai, meja, atau permukaan lain dapat kembali beterbangan ketika disapu atau dibersihkan. Partikel tersebut kemudian berisiko kembali terhirup.

Gunakan masker saat membersihkan abu yang masuk ke dalam rumah. Pelindung mata juga dapat dipakai untuk membantu mencegah abu masuk ke mata. Selain itu, kenakan pakaian tertutup dan sarung tangan selama proses pembersihan.

Usahakan menggunakan metode pembersihan yang tidak membuat abu beterbangan dalam jumlah banyak. Dengan demikian, paparan lanjutan dapat dikurangi, baik bagi orang yang melakukan pembersihan maupun penghuni rumah lainnya.

Kesimpulan

Paparan abu vulkanik perlu ditangani dengan hati-hati. Prioritas utama adalah mengurangi paparan dengan segera masuk ke ruangan, menutup pintu dan jendela, serta menggunakan masker apabila harus berada di luar atau membersihkan abu.

Setelah aman, bersihkan kulit secara perlahan, ganti pakaian, dan jangan menggosok bagian tubuh terlalu keras. Jika abu masuk ke mata, hindari mengucek dan segera bilas dengan air bersih. Keluhan ringan umumnya dapat membaik setelah menjauh dari sumber paparan, tetapi gejala yang menetap atau memburuk, terutama sesak dan kesulitan bernapas, memerlukan pertolongan medis segera.

Ke depan, kewaspadaan dan penerapan langkah perlindungan yang tepat tetap penting selama paparan abu vulkanik berlangsung maupun saat membersihkan sisa abu di lingkungan rumah.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment