4 Film Indonesia Tembus Seleksi Busan International Film Festival 2026

Sejumlah film Indonesia dan film hasil kerja sama produksi dengan perusahaan film asal Indonesia terpilih dalam seleksi Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Keikutsertaan ini menjadi pencapaian penting bagi perfilman Indonesia karena BIFF merupakan salah satu festival film bergengsi di dunia.

Kompetisi utama dalam festival tersebut juga dikenal sebagai salah satu jalur menuju Academy Awards atau Oscar. Pada penyelenggaraan tahun ini, empat film Indonesia akan berkompetisi di sejumlah program BIFF. Selain itu, terdapat dua film karya sineas asing yang diproduksi bersama perusahaan film asal Indonesia.

Program Utama Busan International Film Festival 2026

BIFF memiliki sejumlah program yang menampilkan film dari berbagai negara dan latar sinema. Beberapa di antaranya adalah Kompetisi Utama, Gala Presentation, Icons, A Window on Asian Cinema, serta Wide Angle Competition.

Kompetisi Utama akan diikuti 14 film dari Korea, Jepang, Tiongkok, Taiwan, Iran, Uzbekistan, dan Indonesia. Program ini memperebutkan penghargaan Busan Award – Best Film Award. Film pemenang penghargaan tersebut dapat mendaftarkan diri ke kategori International Feature Film Academy Awards tanpa harus melalui jalur komite Oscar dari masing-masing negara.

Sementara itu, Gala Presentation menghadirkan lima film yang telah memperoleh pengakuan global dan dikurasi secara khusus. Para sutradara serta pemeran film-film tersebut dijadwalkan hadir langsung dalam program tersebut.

Program Icons akan menampilkan 35 film karya para maestro sinema dunia masa kini. Jajaran film yang dipilih menyoroti estetika dan narasi khas yang membentuk perkembangan sinema global.

Adapun A Window on Asian Cinema menampilkan karya sineas Asia, baik dari kalangan pembuat film yang telah mapan maupun talenta baru. Program ini merepresentasikan beragam perspektif dan gaya dalam sinema Asia. Sementara itu, Wide Angle menghadirkan film pendek dan dokumenter yang dipilih secara khusus.

Empat Film Indonesia di BIFF 2026

Ibuku (My Mother)

Film garapan sutradara Eddie Cahyono ini masuk dalam program Kompetisi Utama. Ibuku (My Mother) mengisahkan Sumiati, yang diperankan Christine Hakim, seorang ibu yang berusaha menemui anaknya, Sri, yang diperankan Ayushita.

Sri dijatuhi hukuman mati di sebuah penjara di Arab Saudi setelah dituduh membunuh majikannya. Upaya Sumiati untuk bertemu sang anak menjadi pintu untuk mengungkap luka lama di antara keduanya. Film ini juga mengangkat isu buruh migran, perempuan, dan hak asasi manusia melalui pendekatan yang personal.

Film Garapan Yosep Anggi Noen

Film yang disutradarai Yosep Anggi Noen juga terpilih dalam Kompetisi Utama. Ceritanya berlatar suasana muram setelah sejumlah mahasiswa ditangkap karena membaca buku terlarang.

Dalam situasi tersebut, Biru Laut mulai tergerak. Sebagai mahasiswa di sebuah kampus di Yogyakarta yang gemar membaca dan menulis, Laut kemudian bergabung bersama kawan-kawannya dalam kelompok studi Winatra. Mereka berdiskusi dan bergerak untuk memperjuangkan kebebasan berekspresi.

Film Garapan Kamila Andini

Karya sutradara Kamila Andini masuk program A Window on Asian Cinema. Film ini berkisah tentang Pertiwi, yang diperankan Putri Marino, ketika kembali ke kampung halaman terpencilnya setelah 20 tahun untuk menata ulang kehidupan.

Ketika Pertiwi meninggalkan desa tersebut, masuknya aliran listrik sempat menghadirkan harapan. Namun, fasilitas itu ternyata tidak membawa banyak perubahan. Desa tersebut justru terasa lebih kelam.

Kepulangan Pertiwi juga diwarnai berbagai persoalan. Sahabatnya telah menikah dengan mantan kekasihnya, orang tuanya memusuhi kepulangannya, sedangkan sosok keibuan yang dahulu menjadi tempatnya mencari kenyamanan telah terusir. Orang-orang yang pernah menjebloskannya ke penjara bahkan kini menjadi pihak paling berkuasa.

Film Pendek dalam Wide Angle

Satu film Indonesia lainnya terpilih dalam program Wide Angle – Asian Short Film Competition. Film ini mengisahkan Banyu, seorang vokalis punk yang ditangkap dan dikirim ke pusat rehabilitasi moral.

Di tempat tersebut, Banyu bertemu Deri, hantu dari masa lalunya sekaligus ulama terhormat di kota itu. Banyu kemudian berusaha melawan sistem yang membelenggunya. Namun, ia menyadari bahwa jalan satu-satunya untuk bebas justru berkaitan dengan orang terakhir yang ingin ditemuinya.

Dua Film Produksi Bersama Indonesia

Selain empat film Indonesia, BIFF 2026 juga menyeleksi dua film karya sineas asing yang melibatkan perusahaan film asal Indonesia dalam produksi bersama.

Film pertama disutradarai Sompot Chidgasornpongse dan diproduksi bersama Thailand, Singapura, Prancis, Norwegia, China, Hong Kong, Indonesia, serta Qatar. Film tersebut masuk program A Window on Asian Cinema.

Film kedua disutradarai Le Bao. Produksinya melibatkan Singapura, Vietnam, Norwegia, Prancis, Indonesia, Arab Saudi, Kamboja, Thailand, dan Taiwan. Karya ini juga terpilih dalam program A Window on Asian Cinema.

Kesimpulan

Keikutsertaan empat film Indonesia dalam Busan International Film Festival 2026 memperlihatkan keberagaman tema dan pendekatan dalam perfilman nasional. Mulai dari isu buruh migran, kebebasan berekspresi, konflik keluarga, hingga perlawanan terhadap sistem, karya-karya tersebut hadir dalam program-program penting BIFF.

Dengan dua film berada di Kompetisi Utama, satu film di A Window on Asian Cinema, dan satu film di Wide Angle, perfilman Indonesia mendapat ruang yang luas untuk dikenal di tingkat internasional. Hasil kompetisi serta respons penonton terhadap film-film tersebut akan menjadi bagian penting dari perjalanan karya Indonesia di panggung sinema global.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment