AS Hapus Suriah dari Daftar Negara Sponsor Terorisme, Sanksi dan Investasi Mulai Terbuka

Amerika Serikat (AS) mencoret Suriah dari daftar negara sponsor terorisme, sebuah keputusan yang dinilai membuka peluang bagi pelonggaran sanksi, masuknya investasi, serta pemulihan ekonomi negara tersebut. Kebijakan Washington ini disambut positif oleh Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa yang menyebutnya sebagai akhir dari salah satu fase paling kelam dalam sejarah Suriah.

Keputusan tersebut diumumkan pemerintah AS pada Senin (24/8). Sehari setelahnya, Sharaa menyampaikan apresiasinya dalam pidato yang menandai dimulainya babak baru bagi Suriah setelah bertahun-tahun menghadapi konflik dan keterpurukan ekonomi.

Suriah Sambut Pencabutan Status Sponsor Terorisme

Ahmed al-Sharaa menggambarkan pencabutan status tersebut sebagai momentum penting untuk meninggalkan masa lalu dan memulai proses pembangunan kembali. Menurut dia, keputusan AS memberikan kesempatan bagi Suriah untuk menata kembali kondisi nasional, termasuk melalui rekonstruksi dan pemulihan berbagai sektor yang terdampak perang.

“Hari ini, Suriah menanggalkan noda gelap dan merobek lembaran menyakitkan dari masa lalunya untuk memulai jalan pembangunan, rekonstruksi, dan pembangunan kembali,” kata Sharaa dalam pidatonya pada Selasa (25/8), seperti dikutip AFP.

Sharaa juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden AS Donald Trump serta negara-negara lain yang selama ini mendukung Suriah. Ia menilai dukungan tersebut berperan dalam membuka peluang baru bagi pemerintah Suriah untuk menjalankan agenda pemulihan dan pembangunan nasional.

Pelonggaran Sanksi Buka Peluang Investasi

Penetapan Suriah sebagai negara sponsor terorisme telah berlaku selama beberapa dekade dan sebelumnya disertai pembatasan ekonomi yang ketat. Dengan pencabutan status itu, Departemen Keuangan AS turut mengumumkan pelonggaran sanksi yang berkaitan dengan kebijakan tersebut.

Langkah ini dianggap penting karena status sebelumnya menjadi salah satu hambatan utama bagi aktivitas ekonomi dan investasi di Suriah. Pemerintahan baru Damaskus kini berupaya menarik modal serta dukungan teknologi untuk menggerakkan perekonomian dan membangun kembali infrastruktur yang rusak akibat perang saudara selama lebih dari satu dekade.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pencabutan status tersebut membuka “jalan menuju kemakmuran” bagi Suriah. Ia menyebut kebijakan itu menghilangkan hambatan besar terakhir bagi investasi sektor swasta di negara tersebut.

Menurut Rubio, keputusan Washington juga dapat mendorong pemulihan ekonomi Suriah sekaligus membantu negara itu kembali terintegrasi ke dalam perekonomian global. Dengan akses yang lebih besar terhadap investasi dan sistem keuangan internasional, Suriah diharapkan memiliki ruang untuk mendukung pembangunan kembali di berbagai bidang.

Hubungan Washington dan Damaskus Menghangat

Pencabutan status sponsor terorisme menjadi perkembangan terbaru dalam hubungan AS dan Suriah yang mulai menghangat. Perubahan tersebut berlangsung setelah penguasa Suriah Bashar al-Assad terguling pada 2024.

Selain mencoret Suriah dari daftar negara sponsor terorisme, Departemen Luar Negeri AS juga mencabut penetapan Front al-Nusra sebagai organisasi teroris global. Kelompok tersebut kemudian dikenal sebagai Hay’at Tahrir al-Sham atau HTS.

Ahmed al-Sharaa sebelumnya memimpin kelompok yang menjadi kekuatan utama dalam serangan untuk menggulingkan Assad. Front al-Nusra diketahui pernah menjadi cabang Al-Qaeda di Suriah sebelum memutuskan hubungan dengan jaringan tersebut pada 2016.

Damaskus Sebut Keputusan sebagai Tonggak Sejarah

Menteri Luar Negeri Suriah Assad al-Shaibani menyebut pencabutan status sponsor terorisme sebagai “tonggak bersejarah”. Ia menilai keputusan AS mencerminkan komitmen pemerintah baru Suriah terhadap perdamaian dan keamanan internasional.

Sementara itu, Menteri Keuangan Suriah Mohammed Barnieh menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk keberhasilan diplomasi Suriah. Menurut dia, pencabutan status itu dapat memperkuat integrasi Suriah dengan sistem ekonomi dan keuangan global.

Barnieh juga mengatakan keputusan tersebut berpotensi membantu Suriah menarik investasi dan teknologi modern. Kedua aspek itu dinilai penting untuk mendukung proses pembangunan kembali serta pemulihan ekonomi nasional.

Kesimpulan

Pencoretan Suriah dari daftar negara sponsor terorisme oleh AS menjadi titik balik penting dalam hubungan kedua negara. Selain mengakhiri status yang telah berlangsung selama puluhan tahun, kebijakan tersebut turut disertai pelonggaran sanksi dan membuka peluang lebih besar bagi investasi swasta.

Bagi pemerintahan baru Suriah, keputusan ini menjadi modal diplomatik dan ekonomi untuk memulai pembangunan kembali. Ke depan, keberhasilan langkah tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan Damaskus memanfaatkan peluang investasi, memperkuat hubungan internasional, serta menjalankan komitmen terhadap perdamaian dan keamanan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment