AS Kecam Serangan Israel ke Suriah, Dorong Mekanisme Diplomatik Libatkan Turki

Amerika Serikat mengecam serangan udara Israel yang menyasar pangkalan militer Suriah pada Selasa dini hari, 18 Agustus. Washington menilai aksi tersebut sebagai eskalasi yang tidak perlu dan berpotensi mengganggu upaya menciptakan stabilitas di kawasan.

Utusan khusus Amerika Serikat untuk Suriah yang juga menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, mengonfirmasi serangan tersebut melalui unggahan di platform X. Ia menegaskan bahwa Israel tidak perlu mengambil tindakan militer yang dinilai dapat memperbesar ketegangan antara sejumlah negara di kawasan.

AS Sebut Serangan Israel Tidak Membantu Stabilitas Kawasan

“Serangan tersebut merupakan eskalasi yang tidak perlu dan tidak membantu menciptakan stabilitas kawasan,” kata Barrack dalam pernyataannya di X, sebagaimana dikutip Reuters.

Media pemerintah Suriah, Ekhbariya, melaporkan bahwa serangan Israel menargetkan landasan pacu serta fasilitas penyimpanan di Pangkalan Udara Abu Al Duhur. Hingga laporan tersebut disampaikan, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat bombardir itu.

Barrack juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat bersedia membantu menengahi Suriah dan Israel. Menurut dia, langkah tersebut diperlukan agar ketegangan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Washington Dukung Pendekatan Diplomatik

Menurut Barrack, pemerintahan Suriah di bawah kepemimpinan Ahmed Al Sharaa tidak menunjukkan sikap agresif terhadap Israel. Ia menilai pemerintahan baru tersebut juga tidak mempertahankan pasukan proksi dan telah berulang kali berupaya meredam konflik.

“Pemerintahan Al Sharaa tidak mengambil sikap agresif atau mempertahankan pasukan proksi, bahkan dia menunjukkan berulang kali untuk meredam konflik dengan Israel,” ujar Barrack.

Ia menambahkan, Amerika Serikat akan terus mendorong dialog sebagai pilihan utama bagi kedua negara. Washington, kata Barrack, ingin menggantikan tindakan militer dengan jalur diplomasi untuk mengurangi potensi salah perhitungan dan mencegah bentrokan lanjutan.

“Amerika Serikat di masa lalu, dan akan terus di masa mendatang, menyelenggarakan diskusi untuk mendorong ritme diplomatik daripada aksi militer bagi kedua negara,” tuturnya.

Lokasi Pangkalan Dekat Turki

Serangan terhadap Pangkalan Abu Al Duhur menjadi perhatian khusus karena lokasinya hanya sekitar 70 kilometer dari wilayah Turki. Ankara saat ini disebut sebagai sekutu baru Suriah dan telah membantu melatih tentara nasional negara tersebut.

Barrack mengatakan serangan itu mencerminkan persepsi Iran yang keliru terkait kemungkinan kehadiran pasukan Turki di pangkalan tersebut. Situasi ini, menurutnya, menunjukkan pentingnya pembentukan mekanisme komunikasi yang melibatkan Israel, Suriah, dan Turki.

“Ini menggarisbawahi perlu mekanisme mengakhiri konflik yang melibatkan Israel, Suriah, dan Turki. Ini adalah sesuatu yang sedang kami upayakan untuk dibentuk guna mencegah kesalahpahaman di masa mendatang,” kata Barrack.

Ia menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah menurunkan ketegangan dan memberikan ruang bagi semua pihak untuk mengambil pendekatan yang lebih terukur.

Turki Ikut Mengecam Serangan Israel

Turki juga mengecam serangan Israel terhadap wilayah Suriah. Kementerian Luar Negeri Turki menyerukan agar komunitas internasional mengambil sikap yang lebih tegas untuk menghentikan apa yang disebut Ankara sebagai peningkatan agresi Israel terhadap Suriah.

Kecaman dari Turki menambah tekanan diplomatik terhadap Israel. Selain itu, kedekatan lokasi pangkalan dengan wilayah Turki membuat setiap aktivitas militer di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi hubungan Ankara dengan pihak-pihak yang terlibat.

Hubungan AS dan Pemerintahan Baru Suriah

Sikap Washington terhadap serangan Israel tidak terlepas dari upaya Amerika Serikat membangun hubungan dengan pemerintahan baru Suriah. Ahmed Al Sharaa mengambil alih kepemimpinan setelah berhasil menggulingkan rezim Bashar Al Assad pada Desember 2024.

Perubahan kepemimpinan tersebut turut mengubah arah politik luar negeri Suriah. Pada era Assad, Damaskus cenderung mempererat hubungan dengan Rusia. Sementara itu, pemerintahan Al Sharaa menunjukkan tanda-tanda lebih terbuka terhadap Washington.

Pemerintahan Presiden Donald Trump juga terlihat membuka jalur komunikasi yang lebih luas dengan Suriah. Pada Mei 2025, Trump bertemu dengan Al Sharaa di Riyadh, Arab Saudi. Dalam pertemuan tersebut, Trump mengumumkan rencana pencabutan sanksi Amerika Serikat terhadap Suriah dengan sejumlah syarat.

Syarat itu mencakup normalisasi hubungan Suriah dengan negara-negara tetangga, termasuk Israel, serta jaminan keamanan bagi kelompok minoritas.

Pada November 2025, Trump kembali menerima Al Sharaa, kali ini di Gedung Putih. Pertemuan tersebut menjadi kunjungan pertama pemimpin Suriah ke Gedung Putih. Meski berlangsung secara tertutup selama sekitar dua jam, pertemuan itu menghasilkan sejumlah kesepakatan penting.

Amerika Serikat kemudian menangguhkan sanksi ekonomi terhadap Suriah selama enam bulan, membuka kerja sama dalam koalisi anti-ISIS, serta mendorong upaya untuk memutus rantai pengaruh Rusia dan Iran di kawasan. Washington juga mengizinkan Suriah membuka kantor kedutaan besar di Washington DC dan menghapus Al Sharaa dari daftar teroris global.

AS Berupaya Mencegah Konflik Meluas

Hubungan Amerika Serikat dan Suriah semakin dekat setelah Washington mulai menarik seluruh pasukannya dari Suriah pada Februari 2026. Pada April, Pangkalan Udara Qasrak dilaporkan telah sepenuhnya dikosongkan dan diserahkan kepada militer Suriah.

Dalam kondisi tersebut, serangan Israel ke Pangkalan Abu Al Duhur berpotensi mengganggu proses diplomatik yang sedang dibangun. AS tampaknya ingin memastikan ketegangan antara Israel dan Suriah tidak melibatkan Turki, terutama karena Ankara memiliki hubungan yang semakin dekat dengan pemerintahan baru Suriah.

Ke depan, fokus Washington adalah mendorong komunikasi antara Israel, Suriah, dan Turki. Mekanisme tersebut diharapkan dapat mencegah kesalahpahaman, menekan risiko bentrokan, serta membuka ruang bagi penyelesaian melalui jalur diplomatik, bukan operasi militer.

Kesimpulan

Amerika Serikat menilai serangan Israel terhadap pangkalan Suriah sebagai eskalasi yang tidak perlu dan tidak mendukung stabilitas kawasan. Washington menyatakan kesiapan untuk menengahi kedua pihak sekaligus mendorong pembentukan mekanisme komunikasi yang melibatkan Turki.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa AS berupaya memperkuat hubungan dengan pemerintahan baru Suriah dan mencegah konflik meluas. Namun, keberhasilan upaya diplomatik itu akan sangat bergantung pada kesediaan Israel, Suriah, dan Turki untuk menahan diri serta mengutamakan dialog.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment