China Peringatkan Ancaman Banjir Susulan di Perbatasan Nepal dalam Tiga Hari

BEIJING — Kementerian Sumber Daya Air China memperingatkan potensi banjir susulan dalam tiga hari ke depan setelah banjir bandang dan longsor menerjang wilayah perbatasan China dan Nepal. Peringatan tersebut disampaikan menyusul terbentuknya bendungan alami berukuran besar di wilayah Nepal yang berpotensi jebol akibat volume air terus meningkat.

Bendungan alami itu terbentuk di dekat pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo. Kedua sungai tersebut berhulu di Tibet, China, kemudian menyatu sebelum mengalir melewati perbatasan menuju Nepal. Di Nepal, aliran gabungan kedua sungai itu dikenal sebagai Sungai Bhotekoshi, salah satu anak sungai utama dari Sungai Trishuli.

Bendungan Alami Terbentuk di Dekat Perbatasan

Kementerian Sumber Daya Air China menyebut bendungan besar tersebut telah membentuk danau yang kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Air di danau itu dilaporkan sudah meluap, sehingga kemungkinan terjadinya jebol dalam beberapa hari ke depan semakin besar.

Berdasarkan pemantauan pada Kamis pagi, 27 Agustus, volume air di danau tersebut telah mencapai sekitar 2 juta meter kubik. Kementerian memperkirakan jumlah itu masih akan bertambah seiring aliran air terus masuk ke area bendungan alami.

Dalam tiga hari berikutnya, volume air diprediksi dapat mencapai 3 juta meter kubik. Jika kondisi tersebut terjadi, tekanan terhadap bendungan alami akan meningkat dan risiko danau jebol dinilai sangat mungkin terjadi.

China Lakukan Pemantauan dan Simulasi Banjir

Menghadapi potensi tersebut, Kementerian Sumber Daya Air China menyatakan terus memantau perkembangan situasi secara cermat. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perubahan volume air serta kondisi bendungan alami yang terbentuk di dekat pertemuan kedua sungai.

Selain pemantauan, kementerian juga melakukan simulasi dan analisis banjir. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan banjir susulan apabila danau yang terbentuk itu jebol.

Peringatan tersebut dikutip oleh Global Times. Pemerintah China menaruh perhatian terhadap perkembangan kondisi di wilayah perbatasan karena aliran sungai dari Tibet bergerak menuju Nepal melalui kawasan yang telah terdampak banjir bandang dan longsor.

Banjir dan Longsor Telah Menelan Banyak Korban

Peringatan tentang potensi banjir susulan muncul setelah banjir dan longsor menerjang wilayah perbatasan China dan Nepal pada Rabu. Bencana tersebut menimbulkan dampak besar, terutama di wilayah yang berada di sekitar aliran sungai dan kawasan perbatasan.

Otoritas Nepal melaporkan bahwa 392 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Selain itu, lebih dari 1.400 warga masih dinyatakan hilang hingga Jumat, 28 Agustus.

Para korban hilang tidak hanya berasal dari Nepal. Otoritas mencatat terdapat warga negara India, Amerika Serikat, Kanada, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Inggris, dan Australia yang turut masuk dalam daftar orang hilang.

Risiko Masih Dipantau

Dengan volume air yang terus meningkat, kondisi danau buatan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam penanganan bencana di kawasan perbatasan. Perkiraan kenaikan volume hingga 3 juta meter kubik dalam tiga hari mendatang membuat ancaman banjir susulan masih perlu diwaspadai.

China melalui Kementerian Sumber Daya Air terus melakukan pemantauan, simulasi, dan analisis untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan situasi. Sementara itu, perkembangan kondisi danau serta dampaknya terhadap aliran Sungai Bhotekoshi menjadi hal penting yang terus diamati.

Kesimpulan

Kementerian Sumber Daya Air China memperingatkan potensi banjir susulan di perbatasan China-Nepal dalam tiga hari ke depan. Peringatan itu berkaitan dengan bendungan alami yang terbentuk di Nepal, dekat pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo, yang telah menampung sekitar 2 juta meter kubik air dan diperkirakan meningkat menjadi 3 juta meter kubik.

Danau tersebut telah meluap dan berisiko jebol dalam hitungan hari. Di tengah laporan 392 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.400 warga hilang akibat banjir bandang serta longsor, pemantauan dan analisis banjir yang dilakukan China menjadi langkah penting untuk mengikuti perkembangan ancaman bencana di kawasan tersebut.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment