Donald Trump Bertemu Rabi Hasidut Anti-Zionis, Desak Penghentian Perang Gaza
Washington, DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan delegasi rabi Yahudi Hasidut yang dikenal memiliki pandangan anti-Zionis di Gedung Putih, Washington DC, Kamis (3/9). Pertemuan tersebut menjadi perhatian karena para rabi menyampaikan surat yang mendesak penghentian perang di Jalur Gaza, Palestina.
Dalam surat itu, para rabi menegaskan bahwa gerakan Zionis dan para pemimpin Israel tidak berbicara atas nama seluruh umat Yahudi. Mereka juga menyampaikan bahwa komunitas Yahudi tidak dapat dikaitkan dengan tindakan pemerintah Israel dalam konflik di Gaza. Informasi tersebut dikutip dari Al Jazeera.
Delegasi Rabi Desak Penghentian Perang Gaza
Delegasi yang bertemu dengan Trump berasal dari komunitas Yahudi Hasidut. Kelompok ini dikenal dengan tradisi keagamaan dan penampilan khasnya, termasuk penggunaan jubah serta pakaian khusus dalam berbagai kesempatan.
Dalam pertemuan tersebut, mereka membawa pesan politik dan keagamaan mengenai konflik di Jalur Gaza. Surat yang disampaikan kepada Trump berisi desakan agar perang segera dihentikan. Selain itu, surat tersebut menekankan adanya perbedaan antara komunitas Yahudi dan sikap pemerintah Israel.
Para rabi menyatakan bahwa Zionisme maupun pemimpin Israel tidak berhak mengklaim berbicara untuk seluruh umat Yahudi. Pernyataan ini menjadi bagian penting dari pesan delegasi karena mereka ingin menegaskan bahwa pandangan politik pemerintah Israel tidak mewakili semua kelompok Yahudi.
Rabi Aaron Teitelbaum Kritik Kebijakan Israel
Salah satu tokoh yang hadir dalam pertemuan itu adalah Rabi Agung Aaron Teitelbaum. Ia sebelumnya pernah menyampaikan kritik terhadap Israel dan menegaskan bahwa komunitas Yahudi tidak terlibat dalam tindakan agresi pemerintah di Gaza.
Pada Juli tahun lalu, Aaron mengatakan bahwa komunitasnya tidak memiliki keterlibatan dalam konflik yang dijalankan atas nama Zionisme maupun pemerintah Israel.
“Kami tak punya perang dalam Zionisme, kami tak terlibat dalam perang mereka, kami tak terlibat dengan pemerintah Israel,” kata Aaron.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap kelompok Yahudi Hasidut yang memisahkan identitas keagamaan mereka dari kebijakan pemerintah Israel. Sikap ini juga menjadi dasar bagi pesan yang dibawa dalam pertemuan dengan Trump, terutama terkait seruan penghentian perang di Gaza.
Tokoh Hasidut dan Pejabat Amerika Hadir
Menurut laporan media Israel, sejumlah tokoh Yahudi lainnya turut menghadiri pertemuan di Gedung Putih. Mereka antara lain Rabi Zalman Leib Teitelbaum, Rabi Bobov, Rabi Vizhnitz, serta Kepala Yeshiva Lakewood Malkiel Kotler.
Dari pihak pemerintahan Amerika Serikat, hadir Jared Kushner yang merupakan menantu Trump sekaligus utusan Dewan Perdamaian atau Board of Peace. Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dan anggota DPR dari Partai Republik, Mike Lawler, juga mengikuti pertemuan tersebut.
Suasana Pertemuan Diwarnai Canda
Selain membahas isu perang di Gaza, suasana pertemuan dilaporkan berlangsung dengan sejumlah candaan. Berdasarkan keterangan sumber yang mengetahui pertemuan itu, JD Vance sempat bercanda mengenai keluarga besar komunitas Hasidim.
Vance mengatakan bahwa hanya kaum Hasidim dalam Yudaisme yang memiliki keluarga lebih besar daripada dirinya. Ayah Vance memiliki empat anak, termasuk dirinya sendiri.
Wakil presiden Amerika Serikat itu kemudian bertanya mengenai perbedaan warna jubah yang dikenakan para rabi Hasidut. Salah satu rabi menjawab dengan candaan bahwa warna jubah tersebut disesuaikan dengan saldo rekening bank. Jawaban itu dikutip Ynet News.
Pertemuan Menjelang Rosh Hashanah
Pertemuan Trump dengan delegasi rabi Hasidut berlangsung menjelang perayaan Rosh Hashanah. Hari raya tersebut merupakan salah satu momen penting dalam kalender keagamaan Yahudi.
Selain membawa pesan mengenai konflik di Gaza, pertemuan ini juga memiliki arti tersendiri dalam hubungan antara Gedung Putih dan komunitas Hasidut. Gedung Putih disebut baru kembali menyambut kelompok Hasidut setelah terakhir kali melakukan hal serupa pada 1979.
Kesimpulan
Pertemuan Donald Trump dengan delegasi rabi Hasidut anti-Zionis menyoroti perbedaan pandangan di dalam komunitas Yahudi mengenai Zionisme dan kebijakan pemerintah Israel. Para rabi mendesak penghentian perang di Jalur Gaza serta menegaskan bahwa pemerintah Israel dan gerakan Zionis tidak mewakili seluruh umat Yahudi.
Kehadiran sejumlah pejabat Amerika Serikat dan tokoh komunitas Hasidut menunjukkan bahwa pertemuan tersebut memiliki dimensi politik sekaligus keagamaan. Ke depan, pesan yang disampaikan para rabi akan menjadi bagian dari perdebatan mengenai posisi komunitas Yahudi terhadap konflik Gaza dan kebijakan Israel.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment