Film Dokumenter NAZA Ungkap Kesaksian 24 Eks Intelijen dan Tentara Israel soal Operasi di Gaza
Film dokumenter NAZA mengungkap kesaksian 24 mantan perwira intelijen dan tentara Israel mengenai sistem rahasia yang disebut digunakan dalam operasi militer di Jalur Gaza. Film karya sutradara Israel peraih Oscar, Yuval Abraham dan Rachel Szor, tersebut diputar dalam Festival Film Internasional Venesia pada Kamis (10/9).
NAZA menjadi satu-satunya film dokumenter yang masuk dalam kompetisi utama Festival Film Venesia untuk memperebutkan penghargaan Golden Lion. Film ini diproduksi bersama The Guardian dan dikembangkan dari laporan investigasi yang diterbitkan oleh +972 Magazine, media berbahasa Ibrani Local Call, serta The Guardian sepanjang 2023 hingga 2025.
Kesaksian Anonim dari Mantan Personel Militer Israel
Judul NAZA diambil dari akronim militer Israel yang, menurut film tersebut, digunakan secara terselubung untuk merujuk pada warga sipil yang diperkirakan akan tewas dalam sebuah serangan.
Para narasumber dalam film diwawancarai secara anonim karena risiko yang mungkin mereka hadapi apabila identitas serta aktivitas mereka selama perang diketahui publik. Wawancara dilakukan pada malam hari di sejumlah atap gedung di Tel Aviv. Untuk menjaga keamanan mereka, penampilan dan suara para narasumber diubah secara digital.
Film ini menampilkan kesaksian perwira intelijen dan tentara yang disebut pernah terlibat dalam operasi pengawasan serta pembunuhan jarak jauh terhadap warga Palestina. Mereka menjelaskan cara kerja sistem yang digunakan militer Israel selama perang di Gaza.
Ungkap Penggunaan AI dan Peretasan Telepon
Salah satu kesaksian dalam NAZA menyebut adanya sistem berbasis kecerdasan buatan atau AI yang digunakan untuk mengidentifikasi target dalam jumlah besar. Target tersebut diduga merupakan anggota Hamas berpangkat rendah.
Menurut para narasumber, target dapat diserang ketika berada di dalam rumah pada malam hari. Mereka juga mengatakan militer mengetahui bahwa serangan tersebut berpotensi menewaskan anggota keluarga target yang berada di lokasi yang sama.
Selain sistem AI, militer Israel disebut menggunakan peretasan telepon untuk melacak lokasi target. Dalam sejumlah kasus, aparat bahkan diklaim dapat mendengarkan percakapan target dengan istri dan anak-anak mereka sebelum serangan dilakukan.
Kesaksian tentang Kehancuran Gaza
Para narasumber juga menggambarkan kehancuran kawasan permukiman di Gaza. Kesaksian mereka mencakup cerita mengenai warga yang masih berlindung di rumah, pembakaran rumah secara sistematis, serta pembunuhan warga sipil di lokasi distribusi makanan.
Salah satu narasumber disebut pernah bekerja di unit intelijen rahasia yang melapor langsung ke kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia mengatakan salah satu misi unit tersebut adalah “menggagalkan perdamaian”.
Sutradara: Film Berfokus pada Sistem, Bukan Individu
Yuval Abraham mengatakan, proses pembuatan film dilakukan dengan meminta mantan pejabat dan tentara menjelaskan secara langsung pekerjaan serta sistem yang pernah mereka gunakan.
“Tolong jelaskan kepada kami apa yang Anda lakukan. Bagaimana sistem ini bekerja? Gambarkan kepada kami. Terkadang, hanya dengan mengajukan pertanyaan, Anda mendapatkan jawabannya,” kata Abraham dalam konferensi pers di Venesia.
Abraham menyebut para narasumber memiliki sikap yang berbeda terhadap pekerjaan mereka. Sebagian tidak menunjukkan penyesalan, sementara yang lain mengaku menyesal. Ada pula yang berbicara karena sikap acuh tak acuh maupun kesombongan.
Bersama Rachel Szor, Abraham mengatakan mereka membuat NAZA karena merasa memiliki tanggung jawab sebagai pembuat film dan jurnalis Israel untuk mengungkap sistem di balik kematian warga sipil Palestina.
“Kami membuat film ini karena rasa kewajiban untuk menggunakan posisi kami sebagai pembuat film dan jurnalis Israel untuk meneliti sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina yang menjadi tanggung jawab negara kami,” ujar keduanya.
Mereka menegaskan film tersebut tidak berfokus pada kejahatan perang sporadis yang dilakukan oleh tentara secara individual. Fokus NAZA adalah perintah, kebijakan, praktik yang diterima, bahasa, logika, serta orang-orang yang menjalankan sistem tersebut.
NAZA Dapat Sambutan Panjang di Venesia
NAZA diproduseri James Wilson, dengan Jonathan Glazer sebagai produser eksekutif. Keduanya sebelumnya terlibat dalam film The Zone of Interest yang meraih Oscar.
Menurut Variety, pemutaran perdana NAZA di Venesia mendapat tepuk tangan selama hampir 25 menit. Sejumlah penonton juga terlihat mengibarkan bendera Palestina setelah film selesai diputar. Glazer dilaporkan memeluk Abraham dan Szor ketika tepuk tangan berlangsung.
Direktur artistik Festival Film Venesia Alberto Barbera menyebut NAZA sebagai film yang benar-benar terobosan. Ia menilai film tersebut memiliki dampak politik yang kuat sekaligus menarik secara sinematik.
Menurut Barbera, film itu bukan sekadar kumpulan wawancara biasa. Ia mengatakan tim produksi membutuhkan waktu tiga tahun untuk meyakinkan pejabat intelijen dan militer Israel agar bersedia membagikan pekerjaan yang mereka lakukan sejak invasi Gaza dimulai.
Latar Belakang Konflik dan Kondisi Gaza
Perang Israel di Gaza pecah setelah serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang dibawa ke Gaza sebagai sandera.
Sejak 2023, serangan Israel disebut telah menewaskan lebih dari 73 ribu warga Palestina dan melukai lebih dari 174 ribu lainnya. Sebagian besar korban disebut merupakan warga sipil. Pembatasan bantuan makanan dan kerusakan infrastruktur turut memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza.
Lebih dari tiga perempat rumah di wilayah tersebut dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan. Banyak warga Palestina yang selamat kemudian tinggal di kamp-kamp pengungsian dengan akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi.
Kesimpulan
NAZA menghadirkan kesaksian 24 personel militer dan intelijen Israel untuk menunjukkan gambaran mengenai sistem operasi yang disebut digunakan dalam perang di Gaza. Dengan narasumber anonim, teknologi pengamanan identitas, serta dukungan investigasi jurnalistik, film ini berupaya menghubungkan berbagai kesaksian yang sebelumnya terpisah.
Pendekatan tersebut membuat NAZA tidak hanya membahas tindakan individu, tetapi juga menyoroti kebijakan, perintah, dan mekanisme yang berada di balik operasi militer. Pemutarannya di Venesia diperkirakan akan mendorong perhatian dan perdebatan lebih luas mengenai kesaksian dalam film serta kondisi kemanusiaan di Gaza.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment