Ghalibaf Ramalkan Kenaikan Suku Bunga The Fed 25 Bps di Tengah Perang Iran-AS

Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator dalam perundingan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf, menjadi sorotan setelah prediksinya mengenai kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed terbukti tepat. Beberapa jam setelah mengunggah rumus ekonomi dan sindiran terhadap Washington, bank sentral AS menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin atau 25 bps.

Ghalibaf sebelumnya memperkirakan perang antara Iran dan Amerika Serikat selama tujuh bulan terakhir dapat mendorong kenaikan suku bunga di AS. Ia menyampaikan prediksi itu melalui unggahan di platform X pada Rabu (16/9), dengan menampilkan persamaan Taylor yang biasa digunakan untuk memperkirakan tingkat suku bunga.

Ghalibaf Singgung Selat Hormuz dan Harga Minyak

Dalam unggahannya, Ghalibaf tidak hanya menampilkan persamaan Taylor, tetapi juga menyertakan pesan bernada olok-olok terhadap kebijakan ekonomi AS. Ia menulis, “Mari kita lihat apakah kenaikan suku bunga bisa membuka SOH atau menghasilkan satu barel (minyak).”

Pernyataan tersebut merujuk pada kondisi pasokan minyak dunia yang terdampak blokade Selat Hormuz. Selat itu disebut menjadi salah satu titik utama dalam konflik antara AS dan Iran selama beberapa bulan terakhir. Gangguan di jalur tersebut membuat pasokan minyak berkurang dan menekan harga energi di pasar global.

Ghalibaf kemudian menambahkan bahwa The Fed tidak dapat begitu saja menetapkan batas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin di tengah situasi yang disebutnya sebagai titik hambatan. Menurut dia, kondisi itu merupakan premi risiko Selat Hormuz yang berada dalam kendali Iran.

“Anda tidak menetapkan batas 25 bps pada sebuah titik hambatan. Itu adalah premi risiko SOH, dan kami yang menetapkannya,” tulis Ghalibaf.

Tak lama setelah unggahan tersebut dipublikasikan, The Fed benar-benar menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Kenaikan itu kemudian digunakan Ghalibaf untuk memperkuat pesan politik bahwa konflik dengan Iran dapat memberikan dampak ekonomi terhadap Amerika Serikat.

Apa Itu Persamaan Taylor?

Persamaan Taylor merupakan rumus ekonomi yang dikembangkan ekonom John Taylor pada awal 1990-an. Rumus tersebut digunakan sebagai acuan untuk memperkirakan tingkat suku bunga yang sesuai dengan kondisi inflasi dan kekuatan ekonomi suatu negara.

Dalam bentuk paling sederhana, persamaan Taylor dirumuskan sebagai berikut:

Tingkat bunga = inflasi + 0,5(kesenjangan output) + 0,5(inflasi − 2%) + 2%.

Rumus itu menghubungkan suku bunga dana federal dengan tingkat inflasi dan kesenjangan output. Kesenjangan output merupakan perbedaan antara produksi ekonomi aktual dan kapasitas produksi yang seharusnya dapat dicapai.

Berdasarkan rumus tersebut, suku bunga yang direkomendasikan cenderung meningkat ketika inflasi berada di atas target 2 persen atau ketika aktivitas ekonomi melampaui potensinya. Sebaliknya, rekomendasi suku bunga dapat menurun ketika inflasi melemah atau perekonomian berjalan di bawah kapasitas.

Meski demikian, persamaan Taylor bukan aturan yang wajib diterapkan secara kaku. Para pejabat The Fed tetap mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi lain sebelum mengambil keputusan mengenai suku bunga.

Perang Iran Disebut Memengaruhi Keputusan The Fed

Sejumlah analis menilai perang Iran-AS memang memiliki pengaruh terhadap kondisi ekonomi Amerika, terutama melalui kenaikan harga energi. Tarif yang diberlakukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump, gangguan pasokan minyak akibat konflik, serta investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan atau AI disebut turut menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.

Analis pasar IG Group, Chris Beauchamp, menyebut perang Iran secara tidak langsung menjadi salah satu pendorong penting pergerakan pasar. Lonjakan harga energi dan kenaikan imbal hasil obligasi dinilai membuat The Fed berada dalam posisi sulit ketika harus menentukan arah kebijakan moneter.

Susannah Streeter, kepala strategi investasi di Wealth Club, juga mengatakan bahwa serangan balasan Iran terhadap AS dan sekutunya di kawasan Teluk meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi. Situasi tersebut pada akhirnya mendorong perkiraan inflasi yang lebih tinggi.

Kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu menjadi kenaikan pertama The Fed dalam tiga tahun. Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan pertempuran AS dan Iran, yang turut mendorong naiknya harga bensin, membantu meyakinkan para pejabat untuk mendukung tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

Namun, Streeter menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak bukan satu-satunya faktor di balik keputusan tersebut. Pengeluaran besar perusahaan-perusahaan AI, kuatnya investasi modal, serta permintaan domestik yang tetap tangguh juga menambah tekanan terhadap inflasi.

Iran Bukan Penentu Suku Bunga AS

Sejak perang dimulai, Ghalibaf kerap menggunakan argumen keuangan untuk mengejek pemerintahan Trump. Strategi itu ditujukan untuk menunjukkan bahwa Iran memiliki kemampuan memberikan tekanan ekonomi terhadap AS apabila Washington tidak mengubah pendekatannya.

Pengamat menilai unggahan Ghalibaf merupakan bentuk propaganda yang efektif karena berhasil mengaitkan kebijakan moneter AS dengan konflik di Selat Hormuz. Kendati demikian, pengaruh Iran terhadap sejumlah faktor ekonomi tidak berarti Teheran dapat menentukan kebijakan suku bunga AS.

Kesimpulan

Prediksi Mohammad Bagher Ghalibaf mengenai kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin memang terbukti tepat. Perang Iran-AS, gangguan pasokan energi, dan kenaikan harga minyak menjadi bagian dari faktor yang dapat memperbesar tekanan inflasi di Amerika Serikat.

Namun, keputusan The Fed tetap didasarkan pada gambaran ekonomi yang lebih luas. Selain faktor geopolitik, bank sentral juga memperhitungkan inflasi, kekuatan permintaan domestik, investasi sektor AI, kebijakan tarif, serta kondisi pasar keuangan. Dengan demikian, Iran memiliki pengaruh terhadap sebagian faktor yang dipertimbangkan The Fed, tetapi bukan pihak yang menentukan suku bunga AS secara langsung.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment