Houthi Semakin Kuat, Blokade Bab Al Mandab Picu Ketegangan Baru di Timur Tengah
Perang di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin tegang setelah milisi Houthi yang berbasis di Yaman melancarkan serangan terhadap Arab Saudi dan memblokade jalur pelayaran di Bab Al Mandab. Selat strategis tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan penting yang menghubungkan Laut Merah dengan kawasan sekitarnya.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa blokade itu ditujukan untuk mencegah Arab Saudi menggunakan jalur pelayaran di Laut Merah dalam mengekspor energi dan komoditas. Situasi tersebut membuat pemerintah Yaman meminta bantuan kepada Amerika Serikat, meski dukungan militer yang diharapkan belum mendapat kepastian.
Pemerintah Yaman Minta Dukungan Amerika Serikat
Kepala badan pemerintahan Yaman, Rashad Al Alimi, disebut telah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Donald Trump. Percakapan yang berlangsung pada Minggu (20/9) itu dilakukan setelah Houthi melancarkan serangan ke Riyadh pada Sabtu (19/9).
Menurut sumber dari kantor Alimi kepada AFP, Trump tidak menjanjikan dukungan militer bagi Yaman. Permintaan tersebut menunjukkan tekanan yang dihadapi pemerintah Yaman setelah Houthi disebut menguasai seluruh pesisir Laut Merah melalui serangkaian serangan.
Perkembangan ini menambah kompleksitas konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pemerintah Yaman selama ini mendapatkan dukungan dari Arab Saudi, sementara Houthi terus memperluas pengaruh dan kemampuan militernya di wilayah utara Yaman.
Transformasi Houthi Menjadi Kekuatan Militer Utama
Houthi telah berperang melawan pemerintah Yaman sejak 2004. Dalam setiap putaran konflik, kelompok tersebut dilaporkan meningkatkan kemampuan tempur dan memperbarui persenjataannya.
Michael Knights, peneliti senior di Program Militer dan Keamanan The Washington Institute for Near East Policy, menyebut Houthi berubah menjadi salah satu entitas militer paling kuat di Yaman setelah 2010. Kelompok ini bahkan berhasil merebut tiga kota terbesar di negara tersebut serta menguasai persenjataan canggih yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Pada tahap awal konflik, Houthi mengandalkan tim tempur berbasis jaringan kekerabatan. Unit-unit kecil tersebut umumnya beranggotakan sekitar 20 hingga 30 orang dan menggunakan taktik gerilya, seperti penyergapan, penembakan jitu, serta pemasangan ranjau.
Enam Perang Membentuk Taktik Houthi
Dalam perang kedua dan ketiga pada 2005 hingga 2006, Houthi menerapkan strategi serang dan mundur, termasuk serangan mendadak serta operasi di Sana’a. Pada perang keempat, mereka mulai membangun pertahanan kota menggunakan ranjau, roket peluncur granat, dan bom Molotov.
Memasuki perang kelima pada 2008, Houthi menargetkan jalur logistik pemerintah dengan menguasai atau menghancurkan jembatan penting yang menghubungkan Sana’a dan Sa’ada. Mereka juga mengepung sejumlah unit pemerintah hingga memaksa pasukan tersebut mundur.
Pada perang keenam yang berlangsung pada 2009 hingga 2010, kemampuan Houthi meningkat secara signifikan. Mereka dilaporkan mampu memaksa penyerahan satu brigade Yaman dan melancarkan serangan dengan kekuatan batalion menggunakan kendaraan lapis baja di Sa’ada. Dalam periode itu, Houthi juga mulai melakukan serangan ke wilayah Arab Saudi.
Sejarah dan Ideologi Gerakan Houthi
Gerakan Houthi tidak hanya merujuk pada keluarga Houthi, sebuah klan dari Pegunungan Marran di Provinsi Sa’ada. Istilah tersebut juga mencakup aliansi kesukuan dan sektarian yang lebih luas, terutama di wilayah utara Yaman.
Keluarga Houthi merupakan penganut Islam Syiah Zaidi. Doktrin tersebut memiliki kedekatan dengan tradisi Syiah Lima Imam dan berbeda dari Syiah Dua Belas Imam yang lebih banyak dianut di Iran, Irak, serta Lebanon.
Kebangkitan gerakan ini mulai berkembang pada 1980-an, terutama di bawah pengaruh Badr Al Din Al Huthi dan putra-putranya, yaitu Hussein, Yahya, Mohammed, serta Abdulmalik. Pada 1990-an, mereka membangun jaringan sosial melalui program Pemuda Beriman, kegiatan sosial, perkemahan musim panas, hubungan antarsuku, dan partai politik.
Gerakan Houthi kemudian menarik dukungan dengan mengangkat isu korupsi pemerintah serta menentang kedekatan Yaman dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi. Sejak 2000, mereka semakin vokal terhadap isu luar negeri, sengketa perbatasan, dan intervensi militer negara-negara Barat di kawasan Arab.
Ideologi Houthi juga dipengaruhi oleh tradisi keagamaan mengenai akhir zaman, kewajiban pembebasan Yerusalem, serta model pemerintahan yang dibangun Ayatollah Ruhollah Khomeini di Iran setelah Revolusi Islam 1979. Perang di Gaza disebut dimanfaatkan sebagai alat perekrutan dan pembenaran atas serangan terhadap pelayaran di Laut Merah.
Perluasan Wilayah dan Dukungan Iran
Melemahnya pemerintah Yaman setelah gelombang Musim Semi Arab pada 2011 memberi ruang bagi Houthi untuk memperluas jaringan pasukannya. Pada akhir 2012, kelompok tersebut menguasai hampir seluruh Provinsi Sa’ada serta sebagian besar wilayah Amran, Al Jawf, dan Hajjah.
Strategi Houthi didukung oleh aliansi terbuka maupun rahasia dengan berbagai kelompok lokal. Mereka juga membangun pos pemeriksaan dan patroli di wilayah yang dikuasai, serta memanfaatkan pengetahuan mengenai struktur suku untuk memperkuat pengaruh sosial dan militernya.
Menurut informasi yang dikutip dari Middle East Institute, Iran memberikan bantuan militer penting kepada Houthi, khususnya berupa rudal dan sistem pesawat tanpa awak. Komponen persenjataan tersebut disebut dikirim melalui perahu kecil, kapal kontainer, atau jalur perbatasan Oman-Yaman, kemudian dirakit di Yaman.
Dukungan tersebut membantu Houthi mengembangkan sistem rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Meski Iran disebut tidak mengendalikan kepemimpinan Houthi, hubungan keduanya dinilai berperan dalam memperkuat posisi kelompok itu serta memperlambat upaya pemerintah Yaman merebut kembali wilayah yang dikuasai.
Kekuatan Pasukan dan Tantangan Kemanusiaan
Kekuatan pasukan Houthi diperkirakan mencapai 350.000 tentara pada April 2025. Sebagai perbandingan, pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi diperkirakan berjumlah sekitar 300.000 personel. Selain itu, milisi yang didukung Saudi dan Uni Emirat Arab disebut dapat mengerahkan 150.000 hingga 200.000 pejuang.
Namun, laporan tersebut juga menyoroti persoalan perekrutan. Houthi disebut menerapkan kuota perekrutan di wilayah yang dikuasainya. Sebagian rekrutan berusia di bawah 18 tahun dan dikategorikan sebagai tentara anak. Amnesty International juga melaporkan adanya tekanan terhadap klan yang tidak memenuhi ketentuan perekrutan.
Di sisi lain, keterbatasan pasokan makanan dan energi menjadi kendala bagi kemampuan militer Houthi. Yaman sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga gangguan jalur perdagangan dapat memperburuk kondisi masyarakat dan konflik yang sedang berlangsung.
Kesimpulan
Houthi telah berkembang dari gerakan kebangkitan berbasis komunitas menjadi kekuatan militer yang mampu menguasai wilayah luas, menggunakan rudal dan drone, serta mengganggu jalur pelayaran strategis di Bab Al Mandab. Serangan terhadap Arab Saudi dan blokade di Laut Merah menunjukkan bahwa konflik Yaman memiliki dampak yang melampaui batas negara.
Permintaan bantuan pemerintah Yaman kepada Amerika Serikat juga memperlihatkan semakin beratnya tekanan militer yang dihadapi. Ke depan, ketegangan berpotensi terus meningkat apabila serangan, dukungan persenjataan, dan perebutan pengaruh di kawasan tidak segera dihentikan. Selain ancaman keamanan, gangguan tersebut juga dapat memperburuk krisis kemanusiaan dan menghambat perdagangan di jalur Laut Merah.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment