Israel Terkejut, Produksi Rudal Iran Disebut Meningkat hingga 2.500 Unit
Israel kembali dikejutkan oleh kemampuan Iran memulihkan produksi rudal balistik setelah mengalami serangkaian serangan besar. Di tengah bombardir yang dilakukan Israel bersama Amerika Serikat selama hampir enam bulan terakhir, jumlah rudal Iran disebut meningkat hingga sekitar 2.500 unit.
Laporan media Israel, Jerusalem Post, pada Senin (13/8) menyebutkan bahwa pemulihan kapasitas produksi rudal Iran berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Sebelumnya, Israel mengklaim serangan yang dilancarkan pada Oktober 2024 telah menunda produksi rudal Iran selama setidaknya satu tahun. Namun, perkembangan pada awal 2025 menunjukkan bahwa Teheran mampu bangkit lebih cepat.
Iran Pulihkan Produksi Rudal Lebih Cepat
Dalam serangan pada Oktober 2024, Israel mengeklaim berhasil merusak fasilitas yang berkaitan dengan produksi rudal Iran. Kerusakan tersebut diperkirakan akan menghambat kemampuan Teheran untuk membuat rudal baru dalam jangka waktu cukup panjang.
Namun, penilaian tersebut tidak sepenuhnya terbukti. Pasukan Pertahanan Israel atau IDF justru melihat adanya pemulihan laju produksi rudal Iran pada awal 2025. Perkembangan ini membuat Israel kembali memperhitungkan kemungkinan serangan terhadap negara tetangganya tersebut.
Jerusalem Post melaporkan bahwa kemampuan Iran untuk kembali memproduksi rudal dalam jumlah besar menjadi hal yang mengejutkan bagi IDF. Iran disebut mampu menemukan cara untuk memulihkan produksi berkecepatan tinggi, meskipun sebelumnya sejumlah fasilitas militernya telah menjadi sasaran serangan.
Jumlah Rudal Iran Meningkat Signifikan
Pada Juni 2025, jumlah rudal Iran diperkirakan berada di angka 1.300 unit. Namun, jumlah tersebut disebut meningkat menjadi sekitar 2.500 unit pada Februari tahun ini.
Kenaikan itu terjadi setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran. Dalam serangan pada Juni 2025, keduanya mengklaim telah menghancurkan sekitar 100 target militer yang berkaitan dengan rudal dan industri persenjataan Iran.
IDF juga menyatakan bahwa serangan tersebut berhasil menghambat produksi rudal Iran selama beberapa tahun. Akan tetapi, kemampuan Teheran untuk kembali meningkatkan produksi membuat klaim tersebut kembali dipertanyakan.
Serangan Terbaru Menargetkan Infrastruktur Militer
Pada 28 Februari, Israel bersama sekutu dekatnya, Amerika Serikat, kembali membombardir Iran. Kali ini, serangan disebut menyasar target militer secara lebih spesifik. Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi serta sejumlah pejabat senior pertahanan Iran.
Amerika Serikat dan Iran sama-sama menyampaikan klaim mengenai skala kerusakan akibat serangan tersebut. Lebih dari 2.600 target militer, termasuk fasilitas rudal dan industri pertahanan, disebut telah dihancurkan.
Sejumlah pejabat Israel bahkan menyatakan bahwa seluruh bagian industri militer Iran telah mengalami kerusakan berat. Namun, keberlanjutan perang menunjukkan bahwa Iran masih memiliki amunisi dan kemampuan untuk melakukan perlawanan.
Kemampuan Produksi Iran Masih Menjadi Ancaman
Meskipun berada dalam kondisi porak-poranda akibat serangan, Iran agaknya masih dapat memproduksi rudal dengan kapasitas tertentu. Perkiraan yang muncul menyebutkan bahwa Teheran mungkin mampu menghasilkan sekitar 100 hingga 300 rudal setiap bulan.
Apabila kemampuan produksi tersebut terus berjalan, jumlah rudal Iran berpotensi kembali menyamai angka pada Juni 2025. Bahkan, jumlahnya diperkirakan dapat terus bertambah hingga 2028.
Perkembangan ini membuat Israel menghadapi tantangan yang semakin besar. Serangan terhadap fasilitas militer Iran memang diklaim telah menimbulkan kerusakan luas, tetapi pemulihan produksi rudal menunjukkan bahwa kemampuan Teheran belum sepenuhnya lumpuh.
Kesimpulan
Kemampuan Iran meningkatkan jumlah rudal dari sekitar 1.300 unit pada Juni 2025 menjadi 2.500 unit pada Februari tahun ini mengejutkan Israel. Pemulihan tersebut berlangsung lebih cepat dibandingkan perkiraan setelah serangkaian serangan terhadap fasilitas rudal dan industri pertahanan Iran.
Selama perang masih berlanjut, Iran diperkirakan tetap memiliki kemampuan untuk menggunakan sekaligus memproduksi amunisi. Jika kapasitas produksi bulanan terus berada pada kisaran 100 hingga 300 unit, jumlah rudal Iran berpotensi meningkat kembali hingga 2028. Situasi itu diperkirakan akan membuat Israel semakin merasa terancam.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment