Jared Kushner Bertemu Hamas Bahas Pelucutan Senjata, Klaim Dimulai dalam 30 Hari

Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump sekaligus utusan khusus untuk Timur Tengah dan Gaza dari Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP), bertemu dengan perwakilan Hamas pada Minggu (16/8). Pertemuan tersebut membahas rencana pelucutan senjata Hamas yang menjadi salah satu isu utama dalam tahapan lanjutan gencatan senjata di Gaza.

Kushner menggambarkan pembicaraan itu berlangsung dalam suasana ramah dan positif. Ia juga menyampaikan klaim bahwa proses pelucutan senjata Hamas akan dimulai dalam waktu 30 hari. Pernyataan tersebut dikutip dari laporan Al Jazeera.

Meski demikian, pelaksanaan rencana itu masih menghadapi sejumlah persoalan. Hamas disebut menerima fase kedua gencatan senjata, tetapi kelompok tersebut ingin Israel terlebih dahulu mematuhi kesepakatan yang telah dibuat. Sikap ini menunjukkan bahwa pelucutan senjata tidak dapat dipisahkan dari komitmen Israel untuk menghentikan serangan dan memenuhi ketentuan gencatan senjata.

Pembicaraan Pelucutan Senjata Hamas

Dalam pertemuan tersebut, Kushner menyatakan bahwa Hamas menyampaikan sejumlah hal yang dinilai sesuai dengan arah pembicaraan. Namun, Amerika Serikat tetap meragukan komitmen kelompok tersebut untuk memenuhi janji yang disampaikan.

“Mereka mengatakan semua hal yang benar, tetapi jelas sangat, sangat sulit untuk mempercayai organisasi teroris yang melakukan kekejaman mengerikan ini,” ujar Kushner.

Pernyataan itu memperlihatkan adanya kesenjangan kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Di satu sisi, terdapat pembicaraan mengenai dimulainya pelucutan senjata dalam 30 hari. Di sisi lain, Amerika Serikat masih mempertanyakan sejauh mana Hamas akan menjalankan komitmen tersebut.

Hamas Minta Israel Mematuhi Kesepakatan

Hamas berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan mematuhi perjanjian apabila Israel belum menarik pasukan dan masih melancarkan serangan ke Gaza. Bagi kelompok tersebut, kepatuhan terhadap kesepakatan harus dijalankan oleh Israel sebelum Hamas memenuhi komitmen dalam fase berikutnya.

Posisi Hamas ini menjadi salah satu hambatan utama dalam proses pelaksanaan gencatan senjata. Rencana pelucutan senjata membutuhkan kesediaan kedua pihak untuk menjalankan ketentuan yang telah disepakati. Namun, pernyataan yang saling meragukan membuat proses tersebut masih rentan mengalami kebuntuan.

Serangan Israel Terus Berlangsung di Gaza

Sejak kesepakatan tersebut pertama kali dirilis, Israel disebut menolak poin-poin yang tercantum di dalamnya. Pasukan Israel juga dilaporkan melancarkan serangan hampir setiap hari ke Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan pada November tahun lalu.

Operasi militer tersebut menyebabkan 1.265 orang tewas. Serangan juga terus berlangsung setelah BoP merilis kesepakatan mengenai pelucutan senjata Hamas. Kondisi ini semakin memperumit upaya untuk membangun kepercayaan dan memastikan pelaksanaan fase kedua gencatan senjata.

Dalam skala yang lebih luas, agresi Israel di Palestina telah menewaskan lebih dari 73.000 warga. Ratusan ribu rumah dan fasilitas mengalami kerusakan, sementara jutaan orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan menjadi pengungsi.

Prospek Fase Kedua Gencatan Senjata

Pertemuan Jared Kushner dengan perwakilan Hamas menjadi bagian dari upaya membahas masa depan gencatan senjata dan pelucutan senjata. Klaim mengenai dimulainya proses tersebut dalam 30 hari menunjukkan adanya target waktu yang ingin dicapai.

Namun, keberhasilan rencana itu akan sangat bergantung pada kepatuhan terhadap kesepakatan yang ada. Hamas meminta Israel menjalankan kewajibannya terlebih dahulu, sedangkan Amerika Serikat masih meragukan komitmen Hamas. Pada saat yang sama, serangan Israel yang terus berlangsung menambah tekanan terhadap proses diplomasi.

Dengan demikian, arah fase kedua gencatan senjata masih ditentukan oleh kemampuan pihak-pihak terkait untuk memenuhi kesepakatan secara konsisten. Tanpa kepatuhan dan penghentian serangan, rencana pelucutan senjata berpotensi menghadapi hambatan baru. Situasi di Gaza pun masih berada dalam kondisi yang berat akibat tingginya jumlah korban jiwa, kerusakan fasilitas, dan terus bertambahnya jumlah pengungsi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment