Kabut Asap Karhutla Indonesia Menyelimuti Thailand Selatan, Kualitas Udara Hat Yai Tak Sehat

Thailand bagian selatan diselimuti kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia. Kabut tersebut telah mencapai Provinsi Songkhla, termasuk kawasan Hat Yai, dengan kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat pada Kamis pagi, 17 September.

Kondisi ini menjadi perhatian karena Hat Yai merupakan salah satu kota terbesar di Thailand bagian selatan. Kota tersebut berada tidak jauh dari perbatasan Malaysia dan dihuni hampir 800.000 orang. Selain menjadi pusat aktivitas masyarakat, Hat Yai juga dikenal sebagai destinasi yang banyak dikunjungi warga Malaysia.

Kadar PM2,5 di Hat Yai Melampaui Batas Aman

Pusat Penelitian Polusi Udara dan Dampak Kesehatan di Universitas Prince of Songkla mencatat peningkatan partikel udara berukuran 2,5 mikrometer atau kurang, yang dikenal sebagai PM2,5. Pada Rabu pukul 09.00 waktu setempat, konsentrasi PM2,5 di Hat Yai tercatat mencapai 67,2 mikrogram per meter kubik atau µg/m³.

Angka tersebut berada di atas standar batas aman yang ditetapkan pemerintah Thailand, yakni 37,5 µg/m³. Pada hari yang sama, indikator kualitas udara di wilayah tersebut berada pada level oranye. Tingkatan ini menunjukkan bahwa kualitas udara telah berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Sejumlah daerah bahkan melaporkan konsentrasi PM2,5 pada level bahaya berwarna merah, dengan angka mencapai 88,2 µg/m³. Adapun tingkat rata-rata harian tercatat sekitar 59,9 µg/m³.

Kabut Asap Terlihat di Sejumlah Kawasan Hat Yai

Pada Selasa malam, kabut asap tebal dilaporkan semakin menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Songkhla. Kabut terlihat terutama di sepanjang rute Khao Khi Hong dan kawasan Taman Kota Hat Yai.

Menanggapi kondisi tersebut, Departemen Pengendali Polusi Thailand atau Pollution Control Department (PCD) mengingatkan masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan agar memantau perkembangan kabut asap lintas batas.

Angin Membawa Asap dari Indonesia ke Thailand

Data satelit Badan Pengembangan Teknologi Geoinformatika dan Antariksa Thailand (GISTDA) mencatat 12.241 titik panas di Indonesia pada 15 September 2026. Pada tanggal yang sama, tidak terdapat titik panas yang terdeteksi di wilayah Thailand.

Meski demikian, arah angin membawa asap ke utara, menuju kawasan perbatasan bagian selatan Thailand. Kondisi tersebut membuat kabut asap dari kebakaran di Indonesia bergerak melintasi wilayah negara tetangga.

Sejumlah wilayah di Indonesia telah mengalami kebakaran sejak bulan sebelumnya. Dampak kebakaran hutan dan lahan itu tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga menyebabkan kabut asap menyelimuti beberapa negara di kawasan, termasuk Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Penanganan Karhutla Terus Dilakukan

Pemerintah Indonesia telah mengerahkan berbagai unsur untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Petugas pemadam kebakaran, badan penanggulangan bencana, militer, serta kepolisian bekerja sama untuk memadamkan api dan mengendalikan titik panas di sejumlah wilayah.

Selain pemadaman langsung, Indonesia juga menjalankan operasi modifikasi cuaca atau OMC. Operasi tersebut dilakukan untuk mengondisikan awan agar dapat menghasilkan hujan, sehingga diharapkan membantu proses penanganan kebakaran.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga meminta negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, agar tidak menyalahkan Indonesia atas dampak kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan.

Kesimpulan

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah mencapai Thailand bagian selatan, khususnya Provinsi Songkhla dan Hat Yai. Konsentrasi PM2,5 di kawasan tersebut melampaui batas aman, bahkan beberapa daerah mencatat level bahaya merah.

Data titik panas dan arah angin menunjukkan bahwa asap bergerak melintasi perbatasan menuju Thailand. Ke depan, pemantauan kualitas udara serta kerja sama antarnegara menjadi hal penting untuk mengantisipasi dampak kabut asap. Di sisi lain, upaya pemadaman, penanganan titik panas, dan operasi modifikasi cuaca di Indonesia perlu terus dilakukan untuk mengurangi penyebaran asap.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment