Kanada Siapkan Tarif Balasan, Perang Dagang dengan AS Makin Memanas
Kanada bersiap mengumumkan langkah balasan terhadap tarif baru yang diberlakukan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Sejumlah menteri dan pejabat Kanada dijadwalkan menggelar konferensi pers di Ottawa pada Selasa (25/8) untuk menjelaskan kebijakan yang akan ditempuh guna melindungi pekerja dan dunia usaha di negara tersebut.
Rencana itu muncul setelah Kanada dan Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan pada Jumat (21/8) untuk mencegah pemberlakuan tarif baru sebesar 50 persen terhadap sejumlah produk Kanada. Tarif tersebut mulai berlaku pada Sabtu (22/8), sementara pemerintah Kanada telah menyiapkan kebijakan pembalasan. Kondisi ini semakin memperuncing perselisihan dagang antara dua negara yang selama ini memiliki hubungan ekonomi dan politik yang erat.
Kanada Menyiapkan Tarif Balasan
Perdana Menteri Kanada Mark Carney sebelumnya menyatakan bahwa Ottawa akan memberlakukan tarif balasan mulai 8 September. Kebijakan tersebut akan menyasar produk baja dan industri susu Amerika Serikat, serta sejumlah sektor lainnya, termasuk peralatan pertanian, kertas, dan elektronik.
Carney menegaskan bahwa pemerintah Kanada tidak ingin menerima kesepakatan yang dinilai merugikan negaranya hanya demi mengakhiri perselisihan dagang dengan Washington. Menurutnya, tujuan utama negosiasi adalah memperoleh hasil terbaik bagi masyarakat Kanada.
“Tujuan pembicaraan perdagangan dengan Washington selalu untuk mendapatkan kesepakatan terbaik bagi warga Kanada, bukan kesepakatan dengan harga berapa pun atau dalam jangka waktu apa pun,” kata Carney, seperti dilansir AFP, Selasa (25/8).
Dalam proses perundingan, Carney menilai Amerika Serikat berupaya melemahkan sejumlah industri utama Kanada melalui persyaratan yang tidak adil. Sektor yang disebut antara lain otomotif, baja, dan aluminium.
“Kami mengetahui bahwa selama negosiasi, pihak Amerika ingin menghancurkan industri-industri utama kami termasuk sektor otomotif, baja, dan aluminium melalui persyaratan negosiasi yang tidak adil. Dan itu adalah salah satu alasan utama mengapa kami mengatakan tidak,” ujarnya.
Carney juga menegaskan bahwa penguatan industri dalam negeri dan diversifikasi perdagangan dengan negara lain telah menjadi bagian dari strategi Kanada sejak awal.
Trump Tingkatkan Tekanan terhadap Kanada
Tekanan terhadap Kanada meningkat setelah Trump pada Senin (24/8) menyatakan akan menggandakan tarif terhadap mobil Kanada menjadi 50 persen mulai tahun depan. Saat ini, mobil Kanada telah dikenai tarif Amerika Serikat sebesar 25 persen untuk komponen yang berasal dari luar Amerika Utara.
Sementara itu, produk baja yang masuk ke pasar Amerika Serikat secara umum dikenai tarif sebesar 50 persen. Tarif terbaru tersebut diperkirakan berdampak terhadap sekitar 5,5 persen barang Kanada yang diekspor ke AS. Nilai produk yang terdampak diperkirakan mencapai US$20 miliar, termasuk stik hoki dan semen.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyalahkan Kanada atas kegagalan negosiasi. Ia menilai Ottawa mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal pada tahap akhir pembicaraan.
Dampak terhadap Hubungan Ekonomi Kedua Negara
Perselisihan tarif berlangsung di tengah tingginya ketergantungan ekonomi Kanada dan Amerika Serikat. AS merupakan mitra dagang terbesar Kanada, dengan sekitar 70 persen ekspor Kanada ditujukan ke pasar Amerika. Bagi AS, Kanada menjadi mitra dagang barang terbesar kedua pada tahun ini setelah Meksiko.
Besarnya ketergantungan tersebut membuat kebijakan tarif berpotensi memberikan tekanan terhadap dunia usaha dan pekerja di kedua negara. Pemerintah Kanada kini berupaya menunjukkan sikap tegas, sementara pada saat yang sama harus menghadapi kekhawatiran mengenai dampak perselisihan dagang terhadap lapangan kerja.
Ontario Pertimbangkan Biaya Tambahan Ekspor Listrik
Kebijakan tarif Trump juga mendapat kritik dari pemerintah daerah di Kanada. Perdana Menteri Ontario Doug Ford menentang ancaman tarif terhadap industri otomotif Kanada. Ia memperingatkan bahwa provinsinya dapat kembali mempertimbangkan pemberlakuan biaya tambahan terhadap ekspor listrik ke Amerika Serikat.
Pada fase sebelumnya dalam perselisihan dagang, Ontario pernah menerapkan biaya tambahan sebesar 25 persen terhadap ekspor listrik ke tiga negara bagian AS. Kebijakan tersebut kemudian direspons Trump dengan ancaman konsekuensi yang lebih berat bagi Kanada.
Dukungan Publik dan Ketegangan Politik
Meski hubungan dagang kedua negara semakin tegang, keputusan pemerintah Kanada untuk meninggalkan negosiasi masih memperoleh dukungan yang cukup besar dari masyarakat. Survei Angus Reid Institute yang dirilis pada Minggu (23/8) menunjukkan bahwa tiga dari empat warga Kanada mendukung keputusan Carney tersebut.
Namun, kekhawatiran terhadap dampak ekonomi tetap terlihat. Sekitar dua dari lima warga Kanada mengaku cemas perselisihan dagang akan memengaruhi pekerjaan mereka.
Trump kembali melontarkan kritik terhadap Kanada pada Senin lalu. Ia menuding Kanada telah merugikan Amerika Serikat selama bertahun-tahun dan menyatakan bahwa Washington tidak membutuhkan Kanada. Pernyataan tersebut menambah ketegangan dalam hubungan kedua negara.
Perselisihan tarif ini juga terjadi ketika Kanada dan AS perlu membahas revisi Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara atau USMCA. Trump sebelumnya menyatakan tidak ingin memperpanjang perjanjian tersebut dalam bentuk yang berlaku saat ini.
Kesimpulan
Kanada akan mengambil langkah balasan setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif baru terhadap sejumlah produk Kanada dan mengancam menaikkan tarif mobil menjadi 50 persen. Pemerintahan Mark Carney menolak kesepakatan yang dianggap merugikan serta berencana menyasar produk baja, industri susu, peralatan pertanian, kertas, dan elektronik dari AS.
Ke depan, hubungan dagang Kanada dan Amerika Serikat diperkirakan tetap berada dalam situasi penuh tekanan. Ketergantungan ekonomi yang besar membuat kedua negara perlu menghadapi risiko terhadap industri, perdagangan, dan lapangan kerja. Perundingan mengenai USMCA juga menjadi agenda penting yang dapat menentukan arah hubungan bilateral setelah perang tarif semakin memanas.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment