Kilas Internasional: Trump Batasi Akses Media, Iran Ajukan 7 Syarat, Israel Soroti Penjualan F-35 ke Saudi
JAKARTA – Sejumlah isu internasional menjadi sorotan, mulai dari kebijakan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mencabut kartu pers jurnalis di Gedung Putih, hingga rencana penjualan jet tempur siluman F-35 kepada Arab Saudi. Di saat yang sama, Iran disebut mengajukan tujuh persyaratan kepada Washington sebagai prasyarat untuk membuka jalan bagi perundingan kembali antara kedua negara terkait situasi di Selat Hormuz.
Kebijakan terhadap media tersebut menuai perhatian karena dilakukan setelah Trump mengumumkan larangan peliputan bagi CNN, MS NOW, dan Politico. Sementara itu, potensi penjualan senjata senilai miliaran dolar ke Arab Saudi memicu kekhawatiran di Israel. Berikut rangkuman sejumlah isu utama dalam Kilas Internasional.
Trump Cabut Akses Pers CNN dan MS NOW di Gedung Putih
Reporter CNN Betsy Klein ditolak masuk ke Gedung Putih pada Sabtu pagi waktu setempat setelah kartu persnya dinonaktifkan. Penolakan tersebut terjadi sehari setelah Trump mengumumkan larangan peliputan terhadap CNN, MS NOW, dan Politico.
Selain Klein, seorang reporter dan fotografer MS NOW juga dilaporkan tidak diizinkan memasuki area Gedung Putih ketika datang untuk bekerja pada Sabtu pagi. Langkah tersebut secara langsung membatasi akses fisik jurnalis dari sejumlah media terhadap pusat pemerintahan Amerika Serikat.
CNN menyatakan tetap akan menjalankan misinya untuk meliput pemerintahan AS, meskipun terdapat upaya pembatasan akses ke Gedung Putih dan gedung-gedung pemerintahan lainnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa jaringan tersebut tidak akan menghentikan aktivitas jurnalistiknya akibat pencabutan akses.
MS NOW juga menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan hak berdasarkan Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat. Jaringan tersebut menilai jurnalisme independen memiliki peran penting dalam kehidupan demokrasi.
Trump Ancam Perluas Larangan ke Media Lain
Trump menuding CNN, MS NOW, dan Politico terus menyebarkan berita palsu. Ia juga menyampaikan ancaman untuk memperluas pembatasan tersebut kepada organisasi media lain.
Dalam pernyataannya, Trump sempat menyebut The New York Times dan The Washington Post sebagai media yang berpotensi ikut dilarang meliput. Perkembangan ini menambah perhatian terhadap hubungan antara pemerintahan Trump dan organisasi media yang selama ini kerap mengkritik kebijakannya.
Iran Ajukan Tujuh Syarat untuk Memulai Perundingan dengan AS
Di kawasan Timur Tengah, Iran disebut telah menetapkan tujuh persyaratan yang harus dipenuhi Amerika Serikat untuk menyelesaikan konflik terkait Selat Hormuz dan membuka jalan bagi dimulainya kembali perundingan kedua negara.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaee menyampaikan hal tersebut pada Sabtu. Menurut Rezaee, tujuh syarat itu diajukan sebagai dasar untuk memulai pembicaraan antara Teheran dan Washington.
“Iran telah mengajukan tujuh syarat kepada pemerintah AS untuk memulai perundingan apa pun,” ujar Rezaee kepada kantor berita Iran, Tasnim.
Rezaee juga menyampaikan pesan tegas kepada pemerintah AS. Ia mengatakan Washington harus menerima persyaratan Iran apabila ingin keluar dari situasi sulit yang disebutnya telah diciptakan sendiri oleh Amerika Serikat.
Dalam informasi yang disampaikan, rincian tujuh persyaratan tersebut tidak dijelaskan satu per satu. Namun, Iran menegaskan bahwa penerimaan terhadap syarat-syarat itu menjadi hal penting sebelum perundingan antara kedua negara dapat kembali dilakukan.
AS Setujui Potensi Penjualan F-35 kepada Arab Saudi
Departemen Luar Negeri AS juga menyetujui potensi penjualan jet tempur siluman F-35 kepada Arab Saudi. Persetujuan tersebut disampaikan pada Kamis dan dikutip dalam laporan media pada Jumat.
Nilai penjualan jet tempur beserta peralatan pendukungnya diperkirakan mencapai US$24,3 miliar atau sekitar Rp432,8 triliun berdasarkan kurs Rp17.812. Dalam permintaan tersebut, Arab Saudi mengajukan pembelian 48 jet F-35 varian lepas landas dan mendarat secara konvensional.
Selain pesawat, paket tersebut mencakup 49 mesin Pratt & Whitney F135-PW-100. Rencana penjualan ini menjadi salah satu kesepakatan pertahanan terbesar yang melibatkan Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Israel Khawatir terhadap Keunggulan Militer Saudi
Rencana penjualan F-35 itu memicu perhatian dan protes dari Israel. Sebelumnya, penjualan jet tempur tersebut dikaitkan dengan rencana normalisasi hubungan Arab Saudi dan Israel. Namun, menurut laporan CNN, Trump tampaknya tidak lagi menjadikan normalisasi hubungan tersebut sebagai syarat utama dan lebih berfokus pada kesepakatan penjualan senjata bernilai miliaran dolar.
Pejabat Israel belum langsung memberikan komentar setelah pengumuman persetujuan potensi penjualan tersebut. Meski demikian, kekhawatiran mengenai kepemilikan pesawat tempur generasi kelima oleh Arab Saudi telah muncul sebelumnya.
Pada November 2025, ketika Trump menyatakan akan menjual jet tersebut kepada Riyadh, seorang sumber keamanan Israel menyebut rencana itu sangat mengkhawatirkan. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kemungkinan meningkatnya kemampuan militer Arab Saudi di kawasan melalui kepemilikan pesawat tempur siluman F-35.
Kesimpulan
Tiga isu tersebut menunjukkan dinamika yang kompleks dalam kebijakan luar negeri dan politik Amerika Serikat. Di dalam negeri, pemerintahan Trump menghadapi sorotan karena membatasi akses sejumlah media ke Gedung Putih. Di Timur Tengah, Washington berhadapan dengan tuntutan Iran terkait perundingan dan Selat Hormuz, sekaligus mendorong potensi penjualan F-35 kepada Arab Saudi.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons media yang aksesnya dibatasi, sikap Iran terhadap proses diplomasi, serta keputusan akhir mengenai penjualan jet tempur kepada Riyadh. Reaksi Israel dan negara-negara lain di kawasan juga akan menjadi faktor penting dalam melihat dampak kesepakatan pertahanan tersebut.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment