Netanyahu Klaim Rezim Iran di Ambang Kehancuran Usai Serangan AS

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan keyakinannya bahwa rezim Iran yang dipimpin Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei berada di ambang kehancuran. Menurut Netanyahu, serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran telah membuat pemerintahan Teheran berada dalam kondisi yang lebih lemah dibandingkan sebelumnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam sebuah acara yang dihadiri para petinggi militer Israel pada Kamis (3/9). Ia menilai rezim Iran kini sedang berjuang mempertahankan kelangsungan hidupnya dan tidak lagi berada dalam posisi yang sama seperti sebelumnya.

Netanyahu Sebut Rezim Iran Semakin Lemah

Dalam acara tersebut, Netanyahu menggambarkan pemerintahan Iran sebagai rezim yang tengah menghadapi tekanan berat. Ia bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai peluang bagi Israel untuk menyingkirkan ancaman Iran secara permanen.

“Rezim ini saat ini berada di ambang kehancuran. Mereka lebih lemah dari sebelumnya. Mereka sedang berjuang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya,” kata Netanyahu.

Netanyahu juga menegaskan bahwa menggulingkan rezim Iran masih menjadi salah satu tugas utama Israel. Ia mengaku yakin tujuan tersebut bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan karena, menurutnya, Israel sudah berada dalam jangkauan untuk mencapainya.

“Saya yakin kita dapat menyingkirkan ancaman ini untuk selamanya, yakni dengan menggulingkan rezim tersebut. Itulah tugas utama yang masih harus kita selesaikan, tetapi waktunya sudah dekat,” ujarnya.

Misi Israel terhadap Iran Belum Berakhir

Menurut Netanyahu, misi Israel terhadap Iran belum selesai. Ia menilai Amerika Serikat saat ini seperti kehilangan arah karena upaya Washington untuk bernegosiasi dengan Teheran belum menghasilkan kesepakatan.

Iran disebut tidak bersedia kembali berunding hingga Amerika Serikat kehilangan kesabaran. Di tengah situasi tersebut, Netanyahu menilai Iran masih memperhitungkan kekuatan militer Israel, termasuk kemampuan persenjataan dan tekad negara itu.

“Jika mereka tidak menyerang kita, itu bukan kebetulan. Mereka menyerang semua orang, tetapi tidak kita,” kata Netanyahu.

Ia kemudian menambahkan bahwa Iran mengetahui kekuatan persenjataan serta keteguhan Israel dalam menghadapi konflik. Pernyataan ini disampaikan setelah selama beberapa dekade pemerintahan Iran digambarkan Israel sebagai ancaman eksistensial.

Ketegangan Israel, AS, dan Iran

Serangan Bersama dan Upaya Perundingan

Dalam perkembangan konflik tersebut, Netanyahu bergabung dengan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan bersama terhadap Iran. Namun, perang yang berlangsung lama dinilai telah melenceng dari rencana awal.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian berupaya mendorong Iran kembali ke meja perundingan. Langkah tersebut ditempuh untuk membahas penghentian pertempuran dan mencari jalan keluar melalui negosiasi.

Amerika Serikat dan Iran sempat mencapai gencatan senjata pada April lalu. Setelah itu, kedua pihak memulai perundingan, tetapi proses tersebut kemudian mengalami kebuntuan.

Israel Tetap Membuka Kemungkinan Serangan Sepihak

Di sisi lain, Israel menunjukkan keengganan untuk menghentikan peperangan dengan Iran. Tel Aviv bahkan menyatakan kemungkinan melancarkan serangan sepihak tanpa menunggu lampu hijau dari Washington.

Belakangan, Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Tekanan tersebut mencakup ancaman pemberlakuan sanksi baru hingga serangan terbaru ke negara tersebut setelah Trump disebut telah kehilangan kesabaran terhadap mandeknya proses negosiasi.

Iran Balas Serang Sekutu AS

Iran juga merespons tekanan tersebut dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah sekutu Amerika Serikat di kawasan. Wilayah yang disebut menjadi sasaran antara lain Kuwait, Qatar, dan Yordania.

Selain negara-negara di kawasan Teluk, serangan Iran juga menyasar wilayah Kurdistan yang memiliki status otonom di Irak. Perkembangan ini menambah ketegangan di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Kesimpulan

Benjamin Netanyahu menilai rezim Iran berada dalam kondisi paling lemah dan mendekati kehancuran setelah serangan terbaru Amerika Serikat. Ia juga menegaskan bahwa Israel masih memiliki misi untuk menyingkirkan ancaman Iran, termasuk kemungkinan menggulingkan pemerintahan Teheran.

Di tengah kebuntuan perundingan, meningkatnya tekanan Washington, serta aksi balasan Iran terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan, situasi konflik masih sangat tegang. Ke depan, perkembangan hubungan Israel, Amerika Serikat, dan Iran akan bergantung pada kelanjutan serangan, tekanan politik, serta kemungkinan dibukanya kembali jalur negosiasi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment