Pembawa Berita Uganda Edward Kijanangoma Ditunjuk sebagai Calon Raja Kerajaan Tooro
Edward Rukidi Kijanangoma, seorang pembawa berita sekaligus editor di Uganda Broadcasting Corporation, ditunjuk sebagai calon penerus takhta Kerajaan Tooro. Penunjukan tersebut dilakukan setelah Raja Tooro sebelumnya, Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV, meninggal dunia pada Agustus lalu.
Komite seleksi Kerajaan Tooro memilih Kijanangoma setelah melalui proses pencarian calon penerus. Kijanangoma diketahui merupakan sepupu mendiang Raja Oyo. Ia diperkirakan akan dinobatkan sebagai raja pada pekan ini, bertepatan dengan rangkaian pergantian kepemimpinan kerajaan.
Edward Kijanangoma Disiapkan Menggantikan Raja Oyo
Selama ini, Kijanangoma menjalani profesi sebagai pembawa berita dan editor di lembaga penyiaran negara Uganda. Penunjukannya sebagai calon raja membuat sosok yang sebelumnya dikenal dari dunia jurnalistik tersebut kini berada di pusat perhatian masyarakat Uganda, khususnya warga Kerajaan Tooro.
Kijanangoma akan menggantikan Raja Oyo yang dijadwalkan dimakamkan pada Sabtu (19/9). Upacara pemakaman itu diperkirakan dihadiri puluhan ribu pelayat. Prosesi tersebut akan berlangsung di sebuah kota terpencil yang berada dekat perbatasan Uganda dan Kongo.
Raja Oyo meninggal dalam keadaan belum menikah. Meski demikian, Presiden Uganda Yoweri Museveni mengatakan bahwa mendiang raja meninggalkan seorang pewaris muda yang lahir di luar nikah. Komite Kerajaan Tooro tetap memilih Kijanangoma sebagai penerus takhta.
Penunjukan Memicu Penolakan Keluarga Raja Oyo
Keputusan komite kerajaan disebut bertujuan menjaga kesinambungan Kerajaan Tooro sekaligus memperoleh dukungan dari kalangan tradisionalis. Pilihan terhadap Kijanangoma juga dinilai dapat meredam penolakan yang mungkin muncul apabila seorang anak kecil kembali ditempatkan sebagai raja.
Namun, keputusan tersebut langsung mendapat penolakan dari keluarga dekat Raja Oyo. Ruth Komuntale, saudara perempuan mendiang raja, menyatakan kekecewaannya terhadap keputusan komite seleksi.
“Kami sangat kecewa,” kata Komuntale kepada stasiun televisi lokal NBS.
Menurut Komuntale, keputusan itu berpotensi menimbulkan perpecahan di lingkungan kerajaan. Ia juga menyebut surat wasiat Raja Oyo dengan jelas mencantumkan bahwa mendiang raja meninggalkan seorang ahli waris untuk takhtanya.
“Sejujurnya, bagi saya ini sangat dramatis, mencoba menimbulkan perpecahan dan kekacauan,” ujar Komuntale.
Penunjukan Kijanangoma pun berpotensi memicu kontroversi dan gugatan hukum. Hal itu dapat terjadi apabila para pendukung Raja Oyo menilai hak pewaris muda tersebut telah diabaikan dalam proses penentuan penerus takhta.
Riwayat Raja Oyo di Kerajaan Tooro
Raja Oyo memiliki sejarah panjang sebagai pemimpin Kerajaan Tooro. Ia naik takhta pada 1995 ketika baru berusia tiga tahun, setelah ayahnya meninggal dunia. Pada masa kanak-kanak, Oyo menjadi sosok yang menarik perhatian banyak orang.
Oyo kerap tampil mengenakan jubah berwarna-warni dan menjadi figur yang dipuja ratusan ribu rakyat Tooro. Dalam upacara penobatannya, ia menjalani berbagai ritual adat. Ia juga dibawa ke pemakaman kerajaan untuk mengikuti ritual kedewasaan dengan melemparkan sembilan biji kopi ke makam ayahnya.
Oyo kemudian dikenal secara tidak resmi sebagai raja termuda di dunia. Status tersebut membuatnya menjadi perhatian di berbagai acara kenegaraan. Ia bahkan pernah bertemu sejumlah pemimpin dunia, termasuk mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela.
Karena masih terlalu muda untuk memimpin, Oyo mendapat bimbingan dari para wali yang ditunjuk kerajaan hingga mencapai usia dewasa, yaitu 18 tahun. Keluarga Kerajaan Tooro juga diketahui memiliki hubungan dekat dengan mendiang pemimpin Libya, Moammar Gaddafi.
Gaddafi beberapa kali mengunjungi Uganda dan memberikan dukungan kepada Raja Oyo serta ibu suri selama bertahun-tahun hingga kematiannya pada 2011.
Peran Kerajaan Tradisional di Uganda
Kerajaan Tooro merupakan satu dari lima kerajaan tradisional yang diakui pemerintah Uganda. Kerajaan-kerajaan tersebut tidak memiliki kedaulatan maupun kewenangan politik secara formal.
Keberadaan kerajaan tradisional Uganda sempat dilarang setelah negara itu merdeka dari pemerintahan kolonial Inggris. Larangan tersebut diberlakukan oleh presiden republik yang ingin menyatukan Uganda.
Pemerintah Uganda kemudian memulihkan keberadaan kerajaan tradisional pada 1993. Meski tidak memiliki kewenangan politik dan tidak diperbolehkan terlibat dalam politik partisan, para raja tetap memegang peran penting sebagai penjaga budaya serta tradisi masyarakat setempat.
Kesimpulan
Penunjukan Edward Rukidi Kijanangoma sebagai calon raja Kerajaan Tooro membuka babak baru bagi kerajaan tersebut setelah wafatnya Raja Oyo. Di satu sisi, keputusan itu diharapkan menjaga kesinambungan kerajaan dan memperoleh dukungan tradisionalis. Di sisi lain, keberadaan pewaris muda yang disebut ditinggalkan Raja Oyo membuat keputusan tersebut berpotensi menimbulkan polemik.
Perkembangan selanjutnya akan ditentukan oleh proses penobatan Kijanangoma serta respons keluarga dan pendukung mendiang Raja Oyo. Kontroversi mengenai hak pewaris juga berpotensi memengaruhi masa depan kepemimpinan dan persatuan di lingkungan Kerajaan Tooro.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment