Pentagon Wajibkan Tes Testosteron bagi Prajurit Pria AS Usia 30 Tahun ke Atas

Washington, D.C. Pentagon merilis pedoman klinis baru yang mewajibkan pemeriksaan kadar testosteron bagi personel militer pria Amerika Serikat berusia 30 tahun ke atas. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari program skrining defisiensi testosteron yang ditujukan untuk mendukung kesehatan, kinerja, dan kesiapan pasukan.

Pedoman itu diterbitkan pada Kamis (17/9), setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan program tersebut pada Juli 2026. Namun, kebijakan ini langsung memunculkan pertanyaan dari kalangan medis, terutama terkait kebutuhan pemeriksaan otomatis dan efektivitas terapi penggantian testosteron.

Aturan Skrining Testosteron Pentagon

Berdasarkan pedoman terbaru, seluruh personel militer pria AS yang berusia 30 tahun ke atas akan menjalani skrining kadar testosteron. Prajurit yang berusia lebih muda tetap dapat meminta pemeriksaan secara sukarela apabila memiliki alasan atau keluhan tertentu.

Meski pemeriksaan diwajibkan, terapi penggantian testosteron tidak otomatis diberikan kepada prajurit yang dinyatakan memenuhi syarat. Keputusan untuk menjalani terapi tetap bergantung pada hasil evaluasi medis dan kondisi masing-masing personel.

Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, mengatakan program tersebut dirancang untuk mengidentifikasi dan menangani kadar hormon yang tidak optimal secara lebih awal. Menurut dia, langkah itu merupakan bentuk investasi Pentagon terhadap kesehatan prajurit sekaligus upaya memperkuat kinerja dan kesiapan militer.

Memo awal yang diumumkan Hegseth pada Juli sempat mengarahkan agar skrining dilakukan terhadap seluruh prajurit. Namun, pedoman klinis yang kemudian diterbitkan secara khusus mengatur program defisiensi testosteron untuk personel pria berusia 30 tahun ke atas.

Perempuan Belum Masuk Program

Untuk sementara, kebijakan tersebut belum mencakup personel militer perempuan. Pentagon menyatakan pedoman yang berkaitan dengan perempuan masih dalam tahap peninjauan dan akan dipublikasikan setelah mendapat persetujuan.

Hingga kini, Pentagon juga belum menjelaskan apakah prajurit perempuan akan dievaluasi untuk kemungkinan terapi berbasis estrogen ketika memasuki fase perimenopause. Dengan demikian, cakupan program untuk personel perempuan masih belum ditentukan.

Perbedaan dengan Pendekatan Medis Umum

Sejumlah pakar medis mempertanyakan keputusan Pentagon untuk mewajibkan skrining testosteron secara otomatis. Kelompok medis umumnya tidak merekomendasikan pemeriksaan kadar testosteron terhadap semua pria tanpa mempertimbangkan gejala atau indikasi klinis tertentu.

Dalam pendekatan medis yang lazim, terapi testosteron biasanya dipertimbangkan bagi pria yang mengalami gejala seperti penurunan libido atau suasana hati yang tertekan. Selain itu, kadar testosteron yang rendah umumnya perlu dikonfirmasi melalui dua kali pemeriksaan darah sebelum terapi diberikan.

Menurut laporan Associated Press, kebijakan Pentagon berbeda dari pendekatan tersebut karena pemeriksaan diwajibkan bagi seluruh personel pria berusia 30 tahun ke atas, termasuk mereka yang mungkin tidak memiliki gejala. Meski demikian, sebagian besar isi pedoman lainnya dinilai masih sejalan dengan standar medis.

Manfaat Terapi Dinilai Terbatas

Program Pentagon muncul ketika minat terhadap testosteron meningkat, antara lain karena promosi dari influencer dan podcaster yang membahas kesehatan pria. Sejumlah klaim tentang hormon tersebut menyebutkan manfaat berupa peningkatan energi, massa otot, dan rasa lebih muda.

Namun, banyak pakar menilai klaim tersebut belum didukung bukti ilmiah yang memadai. Pedoman Pentagon sendiri mengakui bahwa manfaat terapi penggantian testosteron bersifat terbatas. Manfaat yang didukung bukti terutama berkaitan dengan fungsi seksual dan aspek tertentu dari ukuran tubuh, termasuk kepadatan tulang.

Dalam dokumen itu disebutkan bahwa bukti ilmiah tidak mendukung penggunaan testosteron untuk meningkatkan energi, vitalitas, fungsi fisik, maupun kemampuan kognitif. Studi federal selama satu dekade terakhir menunjukkan terapi tersebut dapat membantu mengatasi disfungsi ereksi, libido rendah, dan sejumlah masalah lain pada pria.

Risiko dan Kendala Penugasan

Pedoman Pentagon juga mengingatkan adanya efek samping terapi testosteron, termasuk kemungkinan menurunnya jumlah sperma. Ketika seseorang menerima testosteron dari luar tubuh, produksi sperma alami dapat berkurang atau bahkan berhenti.

Karena itu, dokter militer diarahkan untuk tidak memberikan terapi kepada prajurit yang berencana memiliki anak dalam waktu dekat. Pertimbangan tersebut menjadi salah satu faktor penting sebelum terapi ditawarkan.

Selain persoalan medis, penggunaan testosteron juga menghadirkan kendala dalam penugasan. Testosteron dikategorikan sebagai zat terkontrol sehingga penggunaannya memerlukan pengawasan, penyimpanan, pengadaan, dan pengaturan pasokan yang ketat.

Pedoman menyebut testosteron suntik harus disimpan dalam kondisi suhu ruang yang terkontrol. Prajurit yang menjalani terapi juga harus memastikan ketersediaan pasokan sebelum berangkat bertugas. Berbagai persoalan tersebut perlu diselesaikan sebelum keberangkatan, bukan ketika personel sudah berada di medan operasi.

Kesimpulan

Peluncuran pedoman ini menandai langkah Pentagon untuk memasukkan pemeriksaan testosteron ke dalam sistem kesehatan militer bagi prajurit pria berusia 30 tahun ke atas. Pemerintah AS menyebut program tersebut bertujuan mendukung kesehatan dan kesiapan pasukan, tetapi terapi penggantian hormon tetap tidak diwajibkan.

Di sisi lain, kebijakan skrining otomatis masih menjadi perdebatan karena berbeda dari praktik medis umum yang biasanya mengutamakan gejala dan hasil pemeriksaan berulang. Ke depan, efektivitas program, dampak terhadap kesiapan militer, serta pedoman bagi personel perempuan akan menjadi hal yang dinantikan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment