Putin dan Trump Berpeluang Bertemu di KTT APEC China, Kremlin Soroti Sikap Barat terhadap Ukraina
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpeluang mengadakan pertemuan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang akan berlangsung di China pada November mendatang. Namun, peluang tersebut masih bergantung pada keputusan kedua pemimpin untuk menghadiri forum internasional itu.
Potensi pertemuan Putin dan Trump disampaikan oleh penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yury Ushakov. Dalam wawancara bersama stasiun televisi pemerintah Rusia, VGTRK, pada Minggu (23/8), Ushakov menyebut pertemuan antara kedua pemimpin hampir tidak terhindarkan apabila mereka hadir dalam acara yang sama.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov turut menyampaikan pandangan Moskow mengenai dukungan negara-negara Barat kepada Ukraina. Lavrov menilai negara anggota NATO dan Uni Eropa (UE) tidak dapat menghindari tanggung jawab publik atas bantuan militer yang telah mereka salurkan ke Kyiv.
Peluang Pertemuan Putin dan Trump di KTT APEC
Yury Ushakov mengatakan kehadiran Putin dan Trump dalam KTT APEC di China dapat membuka peluang bagi keduanya untuk bertemu dan berbincang. Menurut dia, apabila kedua pemimpin hadir pada forum yang sama, interaksi antara Putin dan Trump menjadi sesuatu yang sangat mungkin terjadi.
“Jika kedua pemimpin hadir dalam acara yang sama, menurut saya mereka berdua dipastikan tidak terhindarkan untuk saling bertemu dan berbincang,” ujar Ushakov.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Kremlin melihat forum APEC sebagai salah satu ruang potensial untuk mempertemukan pemimpin Rusia dan Amerika Serikat. KTT APEC merupakan forum ekonomi yang dihadiri oleh negara-negara di kawasan Asia-Pasifik serta sejumlah pemimpin negara yang memiliki pengaruh besar dalam hubungan internasional.
Meski demikian, Ushakov menegaskan bahwa hingga kini belum terdapat sinyal maupun rencana resmi mengenai penyelenggaraan pertemuan bilateral antara Putin dan Trump. Dengan kata lain, belum ada agenda khusus yang ditetapkan untuk mempertemukan kedua pemimpin tersebut di sela-sela KTT.
Belum Ada Agenda Resmi Pertemuan Bilateral
Ushakov juga mengingatkan bahwa pelaksanaan KTT APEC masih menyisakan waktu sekitar tiga bulan. Karena itu, Kremlin belum memberikan kepastian mengenai bentuk atau waktu pertemuan yang mungkin berlangsung antara Putin dan Trump.
Menurut Ushakov, masih terdapat sejumlah agenda internasional besar yang harus dijalani sebelum KTT APEC digelar. Kremlin, kata dia, akan mengikuti perkembangan situasi hingga waktu pelaksanaan forum tersebut tiba.
“Kita harus menjalani hari hingga saat itu tiba. Sebelum APEC, kita masih memiliki banyak agenda acara internasional besar lainnya,” tambah Ushakov.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa potensi pertemuan Putin dan Trump masih berada pada tahap kemungkinan. Kepastian mengenai kehadiran kedua pemimpin serta agenda bilateral mereka baru dapat diketahui setelah masing-masing pihak memberikan konfirmasi resmi.
Lavrov Soroti Bantuan Militer Barat untuk Ukraina
Dalam wawancara yang sama dengan VGTRK, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov membahas kebijakan negara-negara Barat terhadap Ukraina. Lavrov menegaskan bahwa negara anggota NATO dan Uni Eropa tidak akan dapat sepenuhnya melepaskan diri dari tanggung jawab publik atas bantuan militer yang mereka berikan kepada Ukraina.
Lavrov menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari langkah politik yang didorong oleh sentimen anti-Rusia. Menurut dia, keputusan negara-negara Barat untuk terus memberikan dukungan militer kepada Ukraina akan tetap menjadi perhatian Moskow.
Ia menyatakan Rusia akan memperhitungkan setiap tindakan yang diambil oleh para elite politik Barat. Pernyataan itu mencakup tokoh-tokoh politik di Inggris, Brussel, Paris, Berlin, serta negara-negara anggota NATO dan UE lainnya.
Moskow Klaim Akan Memantau Sikap Negara Barat
Lavrov menilai sejumlah pihak di Barat sedang berupaya mengurangi perhatian publik terhadap keterlibatan mereka dalam bantuan militer untuk Ukraina. Ia menuduh pihak-pihak tersebut berusaha membangun citra tertentu sekaligus menarik diri dari sorotan publik secara perlahan.
“Mereka tahu apa yang sedang mereka perbuat dan sekarang mencoba untuk menarik diri dari publik secara perlahan. Usaha pencitraan itu tidak akan berhasil,” tegas Lavrov.
Pernyataan Lavrov menegaskan sikap kritis Moskow terhadap negara-negara NATO dan UE. Rusia menyatakan akan tetap memperhatikan kebijakan serta keputusan yang diambil para pemimpin Barat, terutama yang berkaitan dengan dukungan kepada Ukraina.
Menanti Konfirmasi Kehadiran Putin dan Trump
Potensi pertemuan Putin dan Trump di KTT APEC China masih menunggu konfirmasi kehadiran kedua pemimpin. Jika keduanya benar-benar hadir, forum tersebut dapat menjadi kesempatan bagi mereka untuk melakukan komunikasi langsung di tengah belum adanya agenda bilateral resmi yang ditetapkan.
Untuk saat ini, Kremlin belum menyampaikan kepastian mengenai waktu, format, maupun topik yang akan dibahas apabila pertemuan tersebut terlaksana. Perkembangan agenda internasional dalam beberapa bulan ke depan juga akan menjadi faktor yang memengaruhi kemungkinan pertemuan itu.
Kesimpulan
Vladimir Putin dan Donald Trump berpeluang bertemu di sela-sela KTT APEC di China pada November mendatang apabila keduanya mengonfirmasi kehadiran. Kremlin menyebut pertemuan tersebut sangat mungkin terjadi jika kedua pemimpin berada dalam forum yang sama, meski belum ada rencana bilateral resmi.
Sementara itu, Sergey Lavrov menegaskan bahwa Rusia akan terus memperhitungkan dukungan NATO dan Uni Eropa kepada Ukraina. Moskow juga menilai negara-negara Barat tidak dapat menghindari tanggung jawab publik atas kebijakan tersebut. Dalam beberapa bulan ke depan, konfirmasi kehadiran Putin dan Trump akan menjadi penentu utama apakah pertemuan yang dinilai potensial itu benar-benar terlaksana.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment