Raja Norwegia Harald V Meninggal Dunia pada Usia 89 Tahun, Ini Perjalanan Hidupnya
Raja Norwegia Harald V meninggal dunia pada Jumat, 28 Agustus, di Oslo University Hospital. Ia mengembuskan napas terakhir secara damai pada pukul 06.35 pagi dalam usia 89 tahun. Kabar duka tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kerajaan Norwegia melalui pernyataan resmi Istana Kerajaan.
Harald V diketahui mengalami sejumlah masalah kesehatan, termasuk kurang darah akut atau anemia hemolitik. Sebelum meninggal dunia, sang raja menjalani perawatan di rumah sakit selama hampir dua pekan. Sehari sebelum kabar kematiannya, Istana Kerajaan Norwegia menyatakan bahwa Harald berada dalam kondisi kritis setelah dirawat selama sekitar 10 hari.
Raja Harald V Meninggal Dunia di Rumah Sakit
Istana Kerajaan Norwegia menyampaikan kabar meninggalnya Harald dengan penuh rasa duka cita. Dalam pernyataan yang dikutip dari AFP, pihak kerajaan mengatakan bahwa Raja Harald meninggal secara damai di Oslo University Hospital pada Jumat pagi.
Kepergian Harald terjadi sehari setelah kerajaan mengumumkan kondisi kesehatannya yang memburuk. Sebelumnya, ia telah menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat penyakit yang dideritanya, termasuk anemia hemolitik yang menyebabkan kurang darah akut.
Harald merupakan raja tertua di Eropa. Selama masa hidupnya, ia menempati posisi penting dalam sejarah monarki Norwegia dan menjadi bagian dari garis suksesi kerajaan yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Masa Kecil Harald di Tengah Perang Dunia II
Harald lahir pada 21 Februari 1927 di Skaugum, Asker. Ia merupakan putra dari Putra Mahkota Olav dan Putri Mahkota Märtha. Kakeknya adalah Raja Haakon VII, yang saat itu memimpin Norwegia.
Kelahiran Harald memiliki arti penting bagi kerajaan. Ia tercatat sebagai pangeran pertama yang lahir di Norwegia dalam 567 tahun. Pada masa itu, Konstitusi Norwegia tahun 1814 menetapkan bahwa hanya ahli waris laki-laki yang dapat mewarisi takhta. Karena itu, kelahiran Harald dianggap menjamin keberlanjutan garis suksesi kerajaan.
Harald menghabiskan masa kecilnya di Skaugum bersama dua saudara perempuannya, Putri Ragnhild dan Putri Astrid. Namun, kehidupan mereka berubah setelah pasukan Jerman menginvasi Norwegia pada 9 April 1940.
Untuk menghindari penangkapan, keluarga kerajaan, pemerintah, serta sebagian besar anggota parlemen meninggalkan Oslo menggunakan kereta api. Putri Märtha kemudian membawa anak-anaknya menuju Swedia untuk mencari tempat aman. Pada 12 Agustus, mereka melanjutkan perjalanan ke Amerika Serikat atas undangan Presiden Franklin D. Roosevelt.
Setelah Jerman menyerah pada 8 Mei 1945, Harald kembali ke Norwegia sebulan kemudian bersama Raja Haakon VII, ibunya, dan kedua saudara perempuannya.
Pendidikan dan Kehidupan Keluarga
Ketika berusia 8 tahun, Harald mulai bersekolah di Sekolah Sestad, Oslo. Menurut keterangan resmi kerajaan, pendidikan sang pangeran tidak jauh berbeda dari anak-anak lainnya, kecuali adanya petugas keamanan di koridor sekolah.
Harald kemudian menyelesaikan pendidikan menengah atas di Sekolah Katedral Oslo dan menerima ijazah pada 1955. Ia melanjutkan pendidikan militer melalui Sekolah Pelatihan Perwira Kavaleri Norwegia dan masuk Akademi Militer pada 1959.
Setelah menyelesaikan pendidikan militernya, Harald melanjutkan studi ke Oxford. Ia berkuliah di Balliol College pada 1960 hingga 1962 dengan mempelajari ilmu sosial, sejarah, dan ekonomi.
Pada 29 Agustus 1968, Harald menikah dengan Sonja Haraldsen dari Vinderan, Oslo. Pernikahan tersebut dikaruniai dua anak, yakni Putri Martha Louise yang lahir pada 22 September 1971 dan Putra Mahkota Haakon yang lahir pada 20 Juli 1973.
Naik Takhta sebagai Raja Norwegia
Setelah Raja Haakon VII meninggal pada 21 September 1957, ayah Harald, Olav, naik takhta. Harald kemudian otomatis menyandang gelar putra mahkota.
Sebagai putra mahkota, Harald mulai menjalankan sejumlah tugas kenegaraan. Ia menghadiri Dewan Negara untuk pertama kalinya dan pada tahun berikutnya bertindak sebagai bupati ketika raja sedang tidak dapat menjalankan tugasnya.
Saat Raja Olav jatuh sakit pada 1990, sebagian fungsi kepala negara dijalankan oleh Harald selaku putra mahkota. Raja Olav kemudian meninggal pada 17 Januari 1991. Peristiwa itu membuka jalan bagi Harald untuk naik takhta.
Empat hari setelah ayahnya meninggal, Harald dinobatkan sebagai Raja Norwegia. Ia mengikuti jejak ayah dan kakeknya dengan mengadopsi semboyan “Alt for Norge”, yang berarti “Kami memberikan segalanya untuk Norwegia”.
Penutup
Meninggalnya Raja Harald V menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang tokoh penting dalam sejarah modern Norwegia. Sejak masa kecil yang diwarnai perang, pendidikan militer dan akademik, hingga puluhan tahun menjalankan tugas sebagai raja, Harald dikenal sebagai bagian utama dari kesinambungan monarki Norwegia.
Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga kerajaan dan masyarakat Norwegia. Selanjutnya, perhatian akan tertuju pada keberlanjutan pemerintahan monarki serta peran keluarga kerajaan dalam menjaga garis suksesi dan tradisi Kerajaan Norwegia.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment