Singapura Siapkan Bantuan Hampir US$70.000 untuk Setiap Bayi di Tengah Angka Kelahiran Terendah

Singapura menyiapkan rangkaian dukungan keuangan dengan nilai hampir US$70.000 atau sekitar Rp975 juta untuk setiap bayi yang lahir dari warga negara Singapura. Kebijakan tersebut diumumkan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam pidato tahunannya pada Minggu (23/8).

Program ini disiapkan di tengah penurunan angka kelahiran Singapura selama beberapa tahun terakhir. Pemerintah tidak hanya memberikan bantuan saat bayi lahir, tetapi juga menyediakan dukungan keuangan hingga anak memasuki usia pendidikan dan masa pascasekolah.

Bantuan Keuangan Dimulai Sejak Bayi Lahir

Lawrence Wong mengatakan setiap bayi yang lahir akan menerima sejumlah bantuan awal. Salah satunya adalah hadiah bayi senilai S$10.000 atau sekitar Rp139,9 juta.

Selain itu, pemerintah memberikan hibah MediSave sebesar S$5.000 atau sekitar Rp69,69 juta. Dana tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan kesehatan dan perawatan anak.

Bayi yang lahir juga akan memperoleh Rekening Pengembangan Anak. Rekening ini mendapatkan hibah awal sebesar S$5.000 atau sekitar Rp69 juta. Pemerintah juga menyiapkan hibah tambahan dengan nilai antara S$1.000 hingga S$5.000, setara sekitar Rp13,9 juta hingga Rp69,69 juta.

Dukungan Berlanjut hingga Usia Sekolah

Dukungan tidak berhenti setelah bantuan kelahiran diberikan. Setiap anak akan memperoleh Kredit Anak tahunan sebesar S$2.000 atau sekitar Rp27,87 juta per tahun. Kredit tersebut diberikan mulai anak berusia satu tahun hingga 16 tahun.

Anak-anak juga akan menerima tambahan dana Edusave setiap tahun ketika mereka bersekolah di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah. Dana ini menjadi bagian dari skema dukungan pendidikan yang disiapkan pemerintah Singapura sepanjang masa pertumbuhan anak.

Ketika mencapai usia 17 tahun, setiap anak akan mendapatkan tambahan dana sebesar S$10.000 atau sekitar Rp139 juta ke dalam Rekening Pendidikan Pascasarjana. Dengan berbagai komponen bantuan tersebut, Wong menyebut total dukungan keuangan langsung yang diterima setiap anak dapat mencapai hampir S$70.000 atau sekitar Rp975 juta.

Cuti Perawatan Anak Diperpanjang

Selain memberikan bantuan dalam bentuk dana, pemerintah Singapura juga mengumumkan perubahan kebijakan cuti perawatan anak bagi orang tua yang bekerja. Kebijakan ini ditujukan untuk membantu orang tua membagi waktu antara pekerjaan dan pengasuhan anak.

Saat ini, orang tua yang bekerja berhak mendapatkan cuti apabila anak bungsu mereka berusia enam tahun atau kurang. Mereka juga memperoleh dua hari cuti jika anak bungsunya berusia antara tujuh hingga 12 tahun.

Melalui kebijakan baru, jumlah cuti akan ditingkatkan. Orang tua dengan satu anak berusia hingga 12 tahun akan memperoleh delapan hari cuti. Untuk keluarga dengan dua anak, jatah cuti menjadi 10 hari. Sementara itu, keluarga yang memiliki tiga anak atau lebih akan mendapatkan 12 hari cuti.

Pemerintah juga akan menanggung pengeluaran untuk seluruh cuti terkait anak yang diatur dalam undang-undang, dengan batas penggantian tertentu. Sebelumnya, biaya cuti tersebut ditanggung bersama oleh pemerintah dan pemberi kerja.

Biaya Penitipan Anak Akan Ditekan

Lawrence Wong turut menyampaikan rencana untuk mengurangi biaya penitipan anak di lembaga yang didukung pemerintah. Tarif penitipan anak penuh waktu ditargetkan turun menjadi S$150 atau sekitar US$118 per bulan.

Adapun biaya perawatan bayi ditargetkan menjadi S$300 per bulan. Rencana tersebut diharapkan dapat meringankan beban keluarga, mengingat saat ini biaya penitipan anak penuh waktu dapat mencapai hampir US$600 per bulan. Sementara itu, biaya perawatan bayi bisa lebih dari US$1.000 per bulan.

Wong menegaskan bahwa keputusan untuk memiliki anak tetap merupakan pilihan pribadi setiap keluarga. Menurutnya, kebijakan pemerintah tidak dapat memaksa seseorang untuk memiliki anak. Namun, pemerintah dapat membantu warga yang ingin membangun keluarga dengan membuat proses membesarkan anak menjadi lebih mudah.

Angka Kelahiran Singapura Terus Menurun

Kebijakan tersebut muncul setelah angka kelahiran total Singapura turun ke level terendah sepanjang sejarah, yakni 0,87 pada 2025. Untuk menangani tren tersebut, pemerintah telah membentuk kelompok kerja antarlembaga yang dipimpin Menteri di Kantor Perdana Menteri Indranee Rajah.

Singapura juga menyatakan akan terus memastikan warga negaranya tetap menjadi mayoritas. Namun, dalam beberapa tahun mendatang, pertumbuhan populasi dan angkatan kerja secara keseluruhan diperkirakan melambat.

Kesimpulan

Paket kebijakan baru Singapura mencakup bantuan keuangan sejak kelahiran, dukungan pendidikan, perpanjangan cuti perawatan anak, serta upaya menurunkan biaya penitipan anak. Secara keseluruhan, setiap anak dapat memperoleh dukungan langsung hampir S$70.000 sepanjang masa pertumbuhannya.

Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah Singapura untuk meringankan biaya membesarkan anak sekaligus menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi keluarga. Namun, dampak kebijakan tersebut terhadap angka kelahiran masih akan bergantung pada keputusan pribadi masyarakat dan pelaksanaannya dalam beberapa tahun ke depan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment