Trump Klaim Iran Berupaya Memengaruhi Pemilu Sela AS, Perang Diprediksi Berakhir Setelah Pemungutan Suara

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Iran berupaya memengaruhi pemilu sela AS yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Trump membahas kemungkinan berakhirnya perang antara Washington dan Teheran setelah pemilihan berlangsung.

Menurut Trump, Iran saat ini berusaha memengaruhi arah pemungutan suara di Amerika Serikat. Namun, ia menilai Teheran tidak akan mampu menghadapi tekanan ekonomi yang diberikan Washington dalam waktu lebih lama. Trump juga memperkirakan konflik tersebut dapat segera berakhir setelah pemilu sela digelar.

Trump Sebut Iran Ingin Memengaruhi Pemilu AS

Trump menyampaikan pandangannya kepada wartawan sebelum bertolak ke Konvensi Nasional Partai Republik di Dallas pada Rabu, 9 September. Ia mengatakan Iran sangat ingin memengaruhi hasil pemilu, tetapi kondisi ekonomi negara tersebut disebut semakin tertekan.

“Saya pikir perang akan berakhir segera setelah pemilihan karena mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Mereka sangat ingin mencoba memengaruhi pemilihan,” kata Trump, seperti dikutip dari Arab News.

Pernyataan itu muncul di tengah pembahasan mengenai kelanjutan konflik AS-Iran yang telah memasuki bulan ketujuh. Trump menghubungkan kemungkinan berakhirnya perang dengan momentum politik di dalam negeri Amerika Serikat, khususnya pemilu sela yang akan digelar pada 3 November tahun ini.

Negosiasi Masih Mungkin, tetapi Bukan Prioritas

Dalam kesempatan yang sama, Trump mengatakan jalur diplomasi tetap mungkin ditempuh untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa negosiasi belum menjadi pilihan utama yang sedang dipertimbangkan pemerintahannya.

“Ya, negosiasi mungkin saja terjadi, tetapi itu bukan sesuatu yang sedang kami pertimbangkan,” ujar Trump.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian melalui pembicaraan diplomatik belum menjadi fokus utama Amerika Serikat. Trump justru menekankan tekanan ekonomi sebagai faktor yang diyakini dapat membuat Iran tidak mampu melanjutkan perlawanan dalam waktu panjang.

Konflik Memanas di Dekat Selat Hormuz

Perang antara Amerika Serikat dan Iran disebut belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir. Pada Rabu, Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz. Serangan itu diklaim terjadi setelah Amerika Serikat menenggelamkan lima kapal tanker minyak milik Iran.

Situasi tersebut kembali meningkatkan ketegangan di kawasan dan berdampak langsung terhadap pasar energi global. Pertempuran yang memanas menyebabkan harga minyak mengalami kenaikan. Harga minyak mentah Brent berjangka bahkan menembus angka 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Juli.

Trump sebelumnya juga mengatakan harga minyak akan turun segera setelah pemilu berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia mengaitkan perkembangan harga energi dengan berakhirnya perang dan situasi politik di Amerika Serikat.

Rating Trump Merosot Menjelang Pemilu Sela

Di dalam negeri, tingkat kepuasan terhadap kinerja Trump dilaporkan mengalami penurunan. Para pemilih disebut semakin frustrasi terhadap perang dengan Iran serta krisis biaya hidup yang kian parah.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis pada Agustus, tingkat persetujuan terhadap Trump berada di angka 33 persen. Angka tersebut menjadi yang terendah sepanjang masa kepresidenannya.

Penurunan popularitas itu menjadi tantangan tersendiri bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela. Pemilihan paruh waktu biasanya dipandang sebagai bentuk evaluasi atau referendum terhadap presiden yang sedang menjabat. Karena itu, isu perang, kondisi ekonomi, harga minyak, dan biaya hidup berpotensi memengaruhi sikap pemilih.

Kesimpulan

Donald Trump menilai Iran berusaha memengaruhi pemilu sela Amerika Serikat yang akan berlangsung pada 3 November. Ia memperkirakan perang dapat berakhir setelah pemilihan karena tekanan ekonomi AS dinilai akan semakin sulit dihadapi Teheran. Meski membuka kemungkinan negosiasi, Trump menyebut diplomasi bukan pilihan utama saat ini.

Di sisi lain, konflik yang memasuki bulan ketujuh justru kembali memanas setelah serangkaian serangan di sekitar Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak hingga menembus 100 dolar AS per barel dan merosotnya tingkat persetujuan Trump menambah tekanan menjelang pemilu. Perkembangan perang, kondisi ekonomi, serta respons pemilih akan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan hingga pemungutan suara berlangsung.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment