Trump Klaim Kim Jong Un Merespons Pendekatan Terbaru di Tengah Ketegangan Latihan AS-Korea Selatan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Presiden Korea Utara Kim Jong Un telah merespons pendekatan terbarunya. Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin (17/8), sehari setelah Washington mengumumkan pengurangan latihan militer bersama dengan Korea Selatan.
Trump menyebut komunikasi dengan Kim berlangsung “sangat positif”. Ia juga kembali memuji hubungan pribadinya dengan pemimpin Korea Utara itu dan mengatakan hubungan tersebut telah membuat situasi keamanan menjadi “jauh lebih aman”. Namun, Trump tidak mengungkapkan bentuk maupun isi respons Kim yang dimaksud.
Trump Klaim Kim Jong Un Telah Merespons
Pernyataan Trump muncul ketika ia ditanya mengenai belum adanya komunikasi terbuka dengan Kim sejak memulai masa jabatan keduanya. Saat ditanya mengapa Kim belum menanggapi ajakan berbicara, Trump menjawab, “Bagaimana Anda tahu dia belum menanggapi?”
Ketika kembali ditanya apakah Kim benar-benar sudah memberikan respons, Trump menegaskan, “Ya, dia sudah menanggapi.” Meski demikian, Presiden AS tersebut tidak memberikan penjelasan lebih jauh mengenai waktu, saluran komunikasi, ataupun pesan yang disampaikan pemimpin Korea Utara itu.
Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu sebanyak tiga kali selama masa jabatan pertama Trump. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya diplomatik untuk membahas program nuklir Korea Utara. Namun, keduanya belum kembali bertemu sejak Trump memulai masa jabatan keduanya.
Trump Kembali Memuji Hubungannya dengan Kim
Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali menonjolkan hubungan pribadinya dengan Kim. Ia mengatakan bahwa dirinya telah membuat situasi menjadi lebih aman dan menyebut Kim selalu memperlakukannya dengan penuh hormat.
“Anda lihat, sebenarnya saya membuatnya jauh lebih aman. Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan sangat hormat,” ujar Trump.
Trump kemudian menambahkan, “Saya memahaminya. Dia memahami saya.” Pernyataan tersebut memperlihatkan keyakinan Trump bahwa hubungan personal dengan Kim dapat membantu menjaga stabilitas di Semenanjung Korea.
Trump Kritik Korea Selatan soal Operasi Militer terhadap Iran
Di sisi lain, Trump mengecam Korea Selatan karena dinilai tidak bersedia membantu operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Trump mengatakan konflik tersebut bertujuan mencegah Iran memperoleh bom atom.
Trump bahkan menyebut Korea Selatan “aneh” karena tidak ikut membantu operasi tersebut. Sebelumnya, ia menyerang Seoul melalui jejaring sosial Truth pada Minggu malam. Trump juga mengumumkan bahwa dirinya telah memerintahkan Pentagon untuk mengurangi latihan militer bersama Korea Selatan yang disebutnya “tidak pantas dan bermusuhan”.
Trump mengaitkan keputusan itu dengan penolakan Korea Selatan untuk membantu perang AS-Israel melawan Iran. Ia mempertanyakan sikap Seoul, terutama karena Amerika Serikat menempatkan puluhan ribu tentara di Korea Selatan untuk membantu pertahanan negara tersebut.
“Tunggu sebentar. Kita punya 39.000 tentara di sana, menjaga kalian dari Kim Jong Un, tetangga kalian, dan kalian tidak mau membantu kita dalam operasi militer yang sangat mudah di Iran. Itu aneh,” kata Trump di Ruang Oval.
Trump juga mempertanyakan dukungan sejumlah negara anggota NATO yang tidak bersedia berkontribusi dalam perang AS-Israel melawan Iran. Menurut dia, Amerika Serikat tidak dapat terus melindungi negara-negara lain apabila mereka tidak bersedia membantu Washington dalam operasi militer.
Korea Selatan Tegaskan Latihan Bersama Bukan untuk Menyerang
Di tengah pernyataan Trump, Korea Selatan memastikan latihan militer bersama Amerika Serikat tetap berlangsung sesuai rencana. Seoul menegaskan latihan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyerang Korea Utara atau meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.
Kantor Kepresidenan Korea Selatan mengatakan latihan itu tidak mencerminkan “niat apa pun untuk menyerang Korea Utara atau meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea”. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga menyatakan bahwa tujuan mendasar latihan tersebut bukan menjadikan pihak tertentu sebagai musuh, melainkan menjaga keamanan dan kedamaian kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sementara itu, Korea Utara belum menyampaikan tanggapan terbuka mengenai klaim Trump tentang respons Kim Jong Un. Namun, Pyongyang sebelumnya berulang kali mengecam latihan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Latihan Ulchi Freedom Shield Picu Kekhawatiran Keamanan
Latihan militer Ulchi Freedom Shield berlangsung selama 11 hari dan dirancang untuk mempersiapkan pasukan Amerika Serikat serta Korea Selatan menghadapi kemungkinan konflik dengan Korea Utara. Juru bicara Komando Pasukan Gabungan AS dan Korea Selatan, Kolonel Ryan Donald, mengatakan latihan tersebut akan menyimulasikan pertempuran menghadapi pasukan Korea Utara.
Pasukan Pyongyang dinilai semakin terlatih setelah ditempatkan di Rusia untuk membantu invasi ke Ukraina. Kantor kepresidenan Korea Selatan juga menyatakan Seoul tetap berkoordinasi erat dengan Washington selama latihan berlangsung.
Namun, Korea Utara mengecam latihan tersebut dan menyebutnya sebagai gladi resik untuk melakukan invasi. Pyongyang juga telah melakukan uji tembak rudal balistik di atas Laut Jepang. Pada Jumat, Korea Utara memperingatkan dapat merespons latihan tersebut dengan “tingkat pencegahan baru”.
Kritik terhadap Kebijakan Trump
Keputusan Trump untuk mengurangi latihan militer bersama mendapat kritik dari anggota Partai Demokrat di Senat Amerika Serikat. Senator Jack Reed, anggota senior Komite Angkatan Bersenjata Senat, memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat memberikan keuntungan bagi negara-negara pesaing Amerika Serikat.
Reed menyebut keputusan itu sebagai tindakan yang “bodoh dan sembarangan”. Ia juga mengatakan China dan Rusia sedang mengamati betapa mudahnya Presiden Trump meninggalkan sekutu Amerika.
Latihan militer AS-Korea Selatan sebelumnya juga pernah menjadi perhatian Trump. Setelah bertemu Kim Jong Un di Singapura pada Juni 2018, Trump pada masa jabatan pertamanya pernah mengatakan bahwa Washington akan menangguhkan latihan yang disebutnya “provokatif”.
Amerika Serikat saat ini menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara tersebut. Kehadiran pasukan itu merupakan warisan Perang Korea 1950-1953 yang berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian.
Kesimpulan
Klaim Trump bahwa Kim Jong Un telah merespons pendekatan terbarunya membuka kembali spekulasi mengenai kemungkinan komunikasi antara Washington dan Pyongyang. Namun, hingga kini belum ada rincian mengenai respons tersebut maupun tanggapan terbuka dari Korea Utara.
Pada saat yang sama, hubungan Amerika Serikat dan Korea Selatan menghadapi tekanan akibat perbedaan pandangan mengenai latihan militer bersama serta keterlibatan dalam operasi terhadap Iran. Pengurangan skala latihan dan pemindahan kapal induk USS George Washington ke Timur Tengah turut memunculkan kekhawatiran mengenai komitmen Washington terhadap keamanan Asia Timur.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kejelasan komunikasi antara Trump dan Kim, sikap Korea Utara terhadap latihan militer, serta kemampuan Amerika Serikat dan Korea Selatan mempertahankan koordinasi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment