Venezuela dan AS Sepakati Kerja Sama Energi 25 Tahun, Produksi Minyak Ditargetkan 1,5 Juta Barel per Hari
Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez mengumumkan kesepakatan energi jangka panjang dengan Amerika Serikat (AS) yang akan berlaku selama 25 tahun. Kerja sama tersebut menargetkan peningkatan produksi minyak mentah Venezuela hingga lebih dari 1,5 juta barel per hari (bph) melalui pengembangan sejumlah ladang strategis.
Rodriguez menyebut perjanjian bilateral itu sebagai kesepakatan bersejarah. Menurutnya, kerja sama dengan AS di sektor energi diharapkan dapat membantu memulihkan perekonomian Venezuela, meningkatkan pendapatan pemerintah, serta menentukan arah baru bagi masa depan negara tersebut.
Kesepakatan Mencakup 17 Ladang Minyak Strategis
Dalam pidato yang disampaikan pada Sabtu malam, Rodriguez mengatakan proyek bilateral selama 25 tahun itu akan mencakup pengembangan 17 ladang minyak strategis. Pengembangan tersebut dirancang untuk mendorong produksi minyak mentah Venezuela menjadi lebih dari 1,5 juta barel per hari.
“Proyek bilateral 25 tahun ini mencakup pengembangan 17 ladang minyak strategis dengan target produksi lebih dari 1,5 juta barel per hari,” kata Rodriguez melalui stasiun penyiaran negara VTV, seperti dikutip Reuters, Sabtu (29/8).
Rodriguez menegaskan bahwa target produksi tersebut hanya berlaku untuk proyek yang termasuk dalam kesepakatan bilateral antara Venezuela dan Amerika Serikat. Dengan demikian, angka tersebut belum mencakup keseluruhan potensi produksi dari sektor minyak Venezuela.
Rencana Perluasan Sektor Migas
Menurut Rodriguez, target produksi 1,5 juta barel per hari merupakan sasaran awal. Pemerintah Venezuela juga menyiapkan rencana yang lebih luas melalui pengembangan delapan blok migas baru atau greenfield.
Pengembangan blok-blok baru tersebut menjadi bagian dari strategi perluasan industri energi nasional. Pemerintah berharap kerja sama dengan AS dapat membantu mengatasi berbagai persoalan yang selama ini menekan industri minyak Venezuela, termasuk keterbatasan investasi, masalah tata kelola, dan dampak sanksi.
AS Disebut Mengambil Kendali Mayoritas Cadangan Minyak
Pengumuman Rodriguez disampaikan tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana negaranya untuk mengambil kendali sebagian atas cadangan minyak Venezuela. Langkah tersebut disebut bertujuan mendorong perusahaan-perusahaan AS memulihkan industri energi Venezuela sekaligus membantu menekan harga bahan bakar di AS.
Trump belum memberikan penjelasan rinci mengenai mekanisme rencana tersebut. Namun, ia menyatakan bahwa AS telah mengamankan kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak terbukti Venezuela melalui kemitraan dengan pihak swasta.
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Meski demikian, produksi minyak negara tersebut saat ini hanya berada di kisaran 1,25 juta barel per hari. Angka itu dinilai masih jauh di bawah potensi yang dimiliki Venezuela setelah industri minyak mengalami kekurangan investasi, salah kelola, dan tekanan akibat sanksi.
Potensi Pendapatan Mencapai US$209 Miliar
Rodriguez memperkirakan kesepakatan energi dengan AS dapat menghasilkan pendapatan sekitar US$209 miliar bagi Venezuela. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp3.711,2 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp17.757 per dolar AS.
Perhitungan itu menggunakan harga acuan minyak sebesar US$65 per barel atau sekitar Rp1,15 juta. Namun, Rodriguez mengakui bahwa harga minyak di pasar global dapat mengalami perubahan, sehingga nilai pendapatan yang diperoleh Venezuela berpotensi berfluktuasi.
Ia juga menyebut sekitar US$19 dari setiap barel minyak yang diproduksi dan dijual melalui skema tersebut akan mengalir langsung ke Venezuela. Nilai itu setara dengan kurang lebih Rp337 ribu per barel berdasarkan kurs yang sama.
Protes Kehadiran AS di Caracas
Di tengah rencana kerja sama tersebut, puluhan kelompok pendukung pemerintah Venezuela menggelar aksi di pusat Caracas pada Sabtu. Mereka memprotes kehadiran Amerika Serikat di Venezuela.
Pada saat yang sama, pejabat Venezuela bersiap menandatangani kesepakatan baru pada pekan berikutnya. Perjanjian itu diperkirakan memberikan hak eksplorasi dan produksi minyak serta gas kepada sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan asal AS.
Dua sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebut Chevron termasuk perusahaan yang diperkirakan akan menyelesaikan pembicaraan untuk mengalihkan usaha patungannya di Venezuela ke dalam kerangka kerja energi baru negara tersebut.
Kedaulatan Sumber Daya Diklaim Tetap Terjaga
Rodriguez menegaskan bahwa kerja sama dengan AS tidak berarti Venezuela menyerahkan kepemilikan atas sumber daya alamnya. Ia menyatakan pemerintah tetap memegang kendali dan kedaulatan atas cadangan minyak serta sumber daya energi nasional.
Menurutnya, Venezuela hanya akan memanfaatkan modal, teknologi, dan keahlian operasional dari mitra asing untuk membantu memulihkan industri strategis yang terdampak sanksi dan berbagai persoalan internal.
Kesimpulan
Kesepakatan energi Venezuela dan Amerika Serikat selama 25 tahun menjadi langkah besar dalam upaya memulihkan industri minyak negara tersebut. Dengan pengembangan 17 ladang strategis dan delapan blok migas baru, produksi Venezuela ditargetkan meningkat hingga lebih dari 1,5 juta barel per hari.
Kerja sama ini juga berpotensi memberikan pendapatan besar bagi pemerintah Venezuela. Namun, pelaksanaannya masih akan menghadapi tantangan, mulai dari fluktuasi harga minyak, kebutuhan investasi dan teknologi, hingga reaksi politik domestik terhadap keterlibatan AS. Ke depan, perhatian utama akan tertuju pada penandatanganan kesepakatan, pembagian hak eksplorasi dan produksi, serta pembuktian bahwa kedaulatan Venezuela atas sumber daya alamnya tetap terjaga.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment