Yaman Minta Dukungan Trump Hadapi Houthi, AS Masih Bimbang Lancarkan Serangan
JAKARTA – Kepala badan pemerintahan Yaman, Rashad Al Alimi, dilaporkan melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam percakapan tersebut, Alimi meminta dukungan Washington untuk menghadapi kelompok Houthi yang semakin memperluas pengaruhnya di wilayah strategis Yaman.
Permintaan itu disampaikan ketika pemerintah Yaman berada dalam tekanan besar setelah Houthi melancarkan serangan ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu (19/9). Namun, berdasarkan keterangan sumber dari kantor Alimi kepada AFP, Trump tidak memberikan janji mengenai dukungan militer bagi Yaman.
Alimi Minta Dukungan Amerika Serikat
Pembicaraan antara Alimi dan Trump berlangsung pada Minggu (20/9). Percakapan tersebut disebut sebagai bentuk solidaritas terhadap pemerintah Yaman yang tengah terdesak oleh pergerakan Houthi.
Houthi dilaporkan telah menguasai seluruh pesisir Laut Merah dalam sebuah serangan. Situasi ini semakin memperbesar tekanan terhadap pemerintahan yang dipimpin Alimi, terutama karena kelompok tersebut berhasil merebut wilayah pesisir strategis yang menghadap Selat Bab Al Mandab.
Alimi memimpin Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, pemerintahan yang mendapat dukungan Arab Saudi. Pasukan yang berada di bawah dewan tersebut selama ini memerangi Houthi dengan bantuan serangan udara dari Saudi.
Houthi Kuasai Wilayah Strategis
Penguasaan wilayah pesisir yang mengarah ke Selat Bab Al Mandab dinilai memperkuat posisi Houthi. Kelompok yang dibekingi Iran dan para sekutunya itu kini memiliki cengkeraman lebih kuat atas dua jalur perairan yang menjadi tumpuan kawasan Teluk.
Wilayah tersebut sebelumnya berada di bawah kendali pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi. Keberhasilan Houthi merebutnya membuat pemerintah Yaman menghadapi tantangan yang semakin berat dalam mempertahankan wilayah dan membendung laju kelompok tersebut.
Perkembangan itu juga mendorong munculnya desakan dari Saudi kepada Amerika Serikat. Sejumlah media AS sebelumnya melaporkan bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman atau MbS telah meminta Trump turun tangan untuk menghentikan pergerakan Houthi.
MbS Kembali Desak Trump Serang Houthi
Menurut laporan The New York Times, MbS menelepon Trump pada Minggu (20/9) untuk meminta bantuan dalam membendung kemajuan milisi Houthi. Permintaan tersebut disebut menjadi pengulangan setelah permohonan serupa sebelumnya ditolak Trump pada pekan yang sama.
Trump dilaporkan berada dalam posisi sulit dalam menentukan strategi Amerika Serikat di Yaman. Di satu sisi, terdapat tekanan dari Arab Saudi untuk melakukan serangan terhadap Houthi yang didukung Iran. Di sisi lain, serangan tersebut berisiko membuka front tempur baru dalam konflik yang berlangsung di Timur Tengah.
Laporan mengenai sikap Trump menunjukkan bahwa strategi Washington terhadap Yaman mengalami beberapa kali perubahan. Sehari sebelum pembicaraan dengan MbS, Trump disebut telah menyampaikan kepada para penasihatnya bahwa ia menolak gagasan untuk menyerang Houthi.
Namun, sikap tersebut sempat berubah setelah Trump berbicara melalui telepon. Ia dilaporkan memerintahkan Pentagon untuk bersiap melancarkan serangan udara terhadap Houthi.
Rencana Serangan AS Berubah
Keputusan untuk menyiapkan serangan itu kemudian tampaknya kembali dibatalkan oleh Trump pada keesokan harinya. The Times melaporkan bahwa pembatalan tersebut terjadi ketika para komandan telah menyetujui daftar target, pasukan sedang memuat bom ke pesawat tempur Amerika Serikat, dan serangan hampir dimulai.
Perubahan keputusan tersebut memperlihatkan belum adanya kepastian mengenai langkah yang akan diambil Amerika Serikat terhadap Houthi. Hingga pembicaraan dengan Alimi berlangsung, Trump juga tidak memberikan jaminan bahwa Washington akan mengerahkan dukungan militer langsung bagi pemerintah Yaman.
Konflik Yaman Kembali Berkecamuk
Perang di Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa. Konflik tersebut sempat mengalami masa jeda sejak 2022, tetapi kembali berkecamuk pada Juli lalu.
Kembalinya pertempuran dan meluasnya penguasaan Houthi di kawasan pesisir membuat posisi pemerintah Yaman semakin tertekan. Di tengah situasi tersebut, permintaan Alimi kepada Trump serta desakan MbS menunjukkan bahwa dukungan Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang diharapkan dapat mengubah perkembangan konflik.
Kesimpulan
Rashad Al Alimi meminta dukungan Presiden Donald Trump untuk menghadapi Houthi, tetapi Amerika Serikat belum memberikan komitmen militer kepada Yaman. Pada saat yang sama, Mohammed bin Salman juga mendesak Trump mengambil tindakan terhadap kelompok tersebut setelah Houthi memperluas kendali di wilayah pesisir strategis.
Sikap Trump yang sempat menyetujui persiapan serangan udara, kemudian membatalkannya, menunjukkan bahwa kebijakan AS terhadap Yaman masih berada dalam pertimbangan. Ke depan, arah konflik akan sangat dipengaruhi oleh keputusan Washington, perkembangan posisi Houthi, serta kemampuan pemerintah Yaman dan Arab Saudi menghadapi tekanan yang semakin besar.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment