Asap Karhutla Makin Pekat di Liang Anggang Banjarbaru, Jarak Pandang Warga Hanya 3 Meter
Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan diselimuti asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin memburuk dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas warga dan pengendara, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan, terutama pernapasan.
Salah satu warga Liang Anggang, Windy, mengungkapkan asap karhutla telah masuk ke rumah-rumah warga, khususnya yang berada dekat dengan lokasi kebakaran. Pengendara yang melintas di kawasan tersebut juga harus menghadapi jarak pandang yang sangat terbatas akibat kepulan asap.
Asap Karhutla Masuk ke Rumah Warga
Windy mengatakan asap kebakaran membuat pernapasan terasa sesak. Kondisi itu dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitar lahan terbakar maupun para pengendara yang melintasi ruas jalan di Liang Anggang.
“Bikin pernapasan sesak karena asap juga masuk ke dalam rumah warga, khususnya dekat dengan kebakaran lahan dan pengendara yang melintas,” ujar Windy melalui pesan tertulis, Rabu (19/8).
Windy sebelumnya melaporkan kondisi Liang Anggang pada pagi hari melalui sebuah rekaman video. Dalam video tersebut, asap tampak menyelimuti kawasan jalan dan mengganggu jarak pandang. Tebalnya asap bahkan disebut menyebabkan kemacetan lalu lintas.
Selain kemacetan, sempat dilaporkan pula adanya kecelakaan yang melibatkan truk bermuatan sepeda motor baru. Kondisi jarak pandang yang terbatas menjadi salah satu gambaran sulitnya pengguna jalan melintas di tengah kepulan asap karhutla.
Jarak Pandang di Jalan Hanya Sekitar 3 Meter
Menurut Windy, asap semakin pekat ketika memasuki area Liang Anggang yang lahannya sedang terbakar. Jarak pandang di lokasi tersebut diperkirakan hanya sekitar tiga meter.
“Saat memasuki daerah Liang Anggang yang lahannya terbakar, asap semakin menebal dengan jarak pandang kurang lebih 3 meter,” katanya.
Selain jarak pandang yang terbatas, kondisi cuaca di kawasan itu juga disebut terasa sangat dingin. Bau asap membuat dada sesak, meskipun warga telah menggunakan masker untuk menutup hidung.
Hingga Rabu sore, lahan yang berada di pinggir jalan Liang Anggang masih terlihat terbakar. Windy mengatakan api masih muncul di sejumlah titik ketika ia melintas sekitar pukul 17.45 Wita.
“Lahan di pinggir jalan masih terbakar. Tadi jam 17.45 Wita aku lewat, api masih ada yang berkobar di beberapa titik,” ungkap Windy.
Pemadaman Dilakukan dari Darat dan Udara
Dalam video terbaru yang dikirimkan Windy, asap tebal terlihat mengepul dari sisi kanan dan kiri jalan. Rekaman tersebut juga memperlihatkan upaya pemadaman yang dilakukan oleh petugas bersama warga.
Windy menyebut terdapat penyiraman dari udara menggunakan satu helikopter. Di sisi jalan, petugas pemadam juga terlihat membantu mengendalikan api di area yang terbakar.
“Tadi ada penyiraman dari atas lahan pakai helikopter satu aku lihat, sama para pemadam yang membantu memadamkan di jalan,” tuturnya.
Karhutla di wilayah Liang Anggang disebut telah berlangsung selama beberapa minggu. Namun, menurut Windy, kondisi asap terasa semakin buruk pada pekan ini. Kepulan asap yang menyelimuti kawasan tersebut tidak hanya terlihat di sekitar lahan terbakar, tetapi juga menyebar hingga ke permukiman dan jalur lalu lintas.
Kualitas Udara Banjarbaru Masuk Kategori Berbahaya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan langsung terhadap udara luar. Warga juga diminta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Imbauan tersebut disampaikan setelah kualitas udara di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mencapai kategori berbahaya atau sangat tidak sehat pada Rabu pagi. Kondisi itu dipengaruhi oleh karhutla dan keadaan yang kering.
Konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut berada jauh di atas ambang batas 250,5 mikrogram per meter kubik untuk kategori berbahaya atau sangat tidak sehat.
Kesimpulan
Asap karhutla yang menyelimuti Liang Anggang, Banjarbaru, telah mengganggu jarak pandang, memperlambat arus lalu lintas, serta menyebabkan warga mengalami sesak napas. Api juga masih terlihat di sejumlah titik lahan pinggir jalan, sementara proses pemadaman dilakukan oleh petugas dan warga, termasuk melalui penyiraman dari udara menggunakan helikopter.
Dengan kualitas udara yang berada pada kategori berbahaya dan konsentrasi PM2.5 mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik, kondisi di Liang Anggang masih memerlukan perhatian serius. Selama karhutla belum sepenuhnya teratasi, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment