BMKG Deteksi 119 Titik Panas di 17 Kabupaten/Kota Aceh, Karhutla Agustus Capai 110,8 Hektare
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh mendeteksi 119 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah Aceh. Sebaran titik panas tersebut ditemukan di 17 kabupaten/kota, dengan Aceh Selatan tercatat sebagai daerah dengan jumlah terbanyak.
Temuan ini menjadi perhatian karena muncul di tengah catatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sepanjang Agustus 2026. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), terdapat 29 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai sekitar 110,8 hektare.
119 Titik Panas Tersebar di 17 Daerah
Prakirawan BMKG Kelas I SIM Banda Aceh, Dedi, mengatakan titik panas terpantau di 17 kabupaten/kota di Aceh. Aceh Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, yakni 26 titik panas.
Setelah Aceh Selatan, jumlah titik panas terbanyak ditemukan di Gayo Lues dengan 15 titik, Aceh Tengah 13 titik, Bireuen 12 titik, dan Aceh Jaya 10 titik. Sementara itu, Pidie terpantau memiliki tujuh titik panas.
Rincian Sebaran Titik Panas
BMKG juga mencatat Aceh Besar dan Nagan Raya masing-masing memiliki enam titik panas. Berikutnya, Pidie Jaya terpantau lima titik, sedangkan Aceh Barat dan Aceh Tenggara masing-masing memiliki empat titik panas.
Wilayah lain yang turut terpantau ialah Bener Meriah dengan tiga titik. Aceh Barat Daya, Aceh Utara, dan Kota Subulussalam masing-masing terdeteksi memiliki dua titik panas. Adapun Aceh Singkil dan Aceh Tamiang masing-masing tercatat satu titik panas.
Dedi menyebut konsentrasi titik panas di Aceh Selatan berada di kawasan Bakongan, Kluet, dan Trumon. “Konsentrasi titik panas terpantau di Aceh Selatan yakni di kawasan Bakongan, Kluet dan Trumon,” kata Dedi, Selasa (1/9).
BPBA Catat 29 Kejadian Karhutla Selama Agustus
Di sisi lain, data BPBA menunjukkan kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Aceh. Sepanjang Agustus 2026, tercatat 29 kali kejadian karhutla di berbagai daerah.
Kebakaran tersebut dilaporkan terjadi antara lain di Aceh Besar, Aceh Tengah, Bener Meriah, Lhokseumawe, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Gayo Lues. Selain daerah-daerah itu, kebakaran juga tercatat di sejumlah wilayah Aceh lainnya.
Berdasarkan rekapitulasi BPBA, luas lahan yang terdampak kebakaran selama Agustus 2026 mencapai sekitar 110,8 hektare. Data tersebut menunjukkan bahwa potensi karhutla masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang memiliki lahan kering dan kawasan hutan yang rentan terbakar.
BPBA Imbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan
Kepala Pelaksana BPBA, Bahron Bakti, mengatakan kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ancaman karhutla masih membutuhkan perhatian bersama. Kewaspadaan masyarakat dinilai penting untuk mencegah munculnya kebakaran maupun mencegah api meluas ketika kebakaran terjadi.
Bahron mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, kondisi cuaca yang panas dan kering dapat membuat api menyebar dengan cepat serta sulit dikendalikan.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Jangan melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, karena pada kondisi cuaca panas dan kering api dapat dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan,” ujar Bahron Bakti.
Kesimpulan
Deteksi 119 titik panas di 17 kabupaten/kota Aceh, ditambah 29 kejadian karhutla dengan luas terdampak sekitar 110,8 hektare selama Agustus 2026, menunjukkan bahwa risiko kebakaran hutan dan lahan masih perlu mendapat perhatian serius. Aceh Selatan menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, sementara kawasan Bakongan, Kluet, dan Trumon menjadi lokasi konsentrasi titik panas.
Ke depan, kewaspadaan masyarakat dan kepedulian terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran menjadi hal penting untuk membantu mengurangi risiko karhutla. Imbauan untuk tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar perlu diperhatikan, khususnya di wilayah yang memiliki lahan kering dan kawasan hutan rentan terbakar.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment