BNPB: Gempa Susulan Masih Berpotensi Terjadi di NTT hingga 2-3 Minggu ke Depan

JAKARTA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto mengingatkan masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik karena gempa susulan diperkirakan memiliki kekuatan lebih kecil dibandingkan gempa utama.

Pernyataan tersebut disampaikan Suharyanto saat menemui para penyintas gempa di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, pada Rabu (19/8). Ia menjelaskan bahwa informasi mengenai potensi gempa susulan diperoleh berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Gempa Susulan Diperkirakan Lebih Kecil

Suharyanto mengatakan, BMKG masih memantau perkembangan aktivitas kegempaan di wilayah NTT. Berdasarkan pemantauan tersebut, gempa susulan masih mungkin terjadi selama dua sampai tiga minggu setelah gempa utama. Namun, kekuatan gempa susulan cenderung tidak sebesar gempa yang pertama.

“Jangan panik, tetapi tetap waspada. Selama 2-3 minggu ke depan menurut BMKG gempa susulan itu mungkin masih terjadi. Tetapi gempa-gempa itu tidak sebesar gempa utama,” kata Suharyanto, seperti dikutip dari keterangan tertulis.

Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu mempercayai isu mengenai kemungkinan tsunami yang tidak bersumber dari informasi resmi. Menurut keterangan BMKG yang disampaikan Suharyanto, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Warga Diminta Menjauhi Bangunan Rusak

Selain mengimbau masyarakat tetap tenang, Suharyanto menekankan pentingnya kewaspadaan, khususnya bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa. Ia meminta masyarakat tidak memasuki bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.

Keselamatan Menjadi Prioritas

Warga yang kondisi rumahnya belum dipastikan aman dapat memilih untuk sementara tinggal di tenda yang berada di sekitar rumah. Langkah tersebut diperlukan untuk menghindari risiko yang mungkin timbul dari bangunan yang mengalami kerusakan.

“Kalau rumahnya rusak cukup parah, jangan masuk dulu. Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Tetapi bagi rumah yang aman dan sudah diperiksa, masyarakat tidak perlu takut secara berlebihan,” ujar Suharyanto.

Ia meminta masyarakat terus mengikuti informasi dari pemerintah dan lembaga terkait. Warga juga diingatkan agar tidak mempercayai kabar yang tidak jelas sumbernya, terutama informasi yang dapat memicu kepanikan di tengah situasi bencana.

Getaran Kecil Harus Disikapi dengan Kesiapsiagaan

Suharyanto mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan setiap getaran kecil sebagai alasan untuk panik. Sebaliknya, getaran harus dihadapi dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan yang benar.

Beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain melindungi diri, menjauh dari bangunan yang berisiko, serta mengikuti prosedur keselamatan yang telah disosialisasikan. Masyarakat juga diharapkan tetap memperhatikan arahan dari petugas di lapangan selama proses penanganan bencana berlangsung.

Menurut Suharyanto, masyarakat tidak perlu menghadapi situasi tersebut seorang diri. Pemerintah bersama pemerintah daerah, BMKG, BPBD, serta unsur terkait akan terus memantau perkembangan kondisi kegempaan dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

“Yang kita perlukan sekarang adalah tenang dan waspada. Jangan panik, tetapi juga jangan lengah. Dengarkan informasi dari sumber resmi. Pemerintah akan terus berada di tengah masyarakat dan memastikan kebutuhan serta keselamatan masyarakat menjadi prioritas,” katanya.

Korban Meninggal dan Pengungsi di NTT

Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8). Pusat gempa berada di Kabupaten Nagakeo. Peristiwa tersebut berdampak pada sejumlah wilayah dan menyebabkan masyarakat harus mengungsi.

Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari. Status tersebut berlaku mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.

Hingga Rabu (19/8), BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di NTT mencapai 71 orang. Selain itu, total pengungsi di seluruh wilayah NTT tercatat sebanyak 59.647 orang. Jumlah pengungsi terbanyak berada di wilayah Manggarai.

Kesimpulan

Potensi gempa susulan di NTT masih dapat terjadi dalam dua hingga tiga minggu ke depan, tetapi BMKG memperkirakan kekuatannya lebih kecil daripada gempa utama. Masyarakat diminta tetap tenang, waspada, dan mengandalkan informasi dari sumber resmi.

Warga yang rumahnya rusak perlu menghindari bangunan tersebut sampai dinyatakan aman oleh pihak berwenang. Dengan meningkatkan kewaspadaan, mengikuti prosedur keselamatan, dan memperhatikan arahan pemerintah, masyarakat diharapkan dapat menghadapi situasi pascagempa dengan lebih aman dan terukur.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment