BNPB: Korban Meninggal Akibat Gempa NTT Bertambah Menjadi 100 Jiwa
Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 100 jiwa. Selain korban meninggal, bencana tersebut juga menyebabkan 1.603 orang mengalami luka-luka dan 180.327 jiwa harus mengungsi.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan perkembangan tersebut pada Senin (24/8). Menurutnya, data korban masih menjadi perhatian karena proses penanganan terhadap masyarakat terdampak terus dilakukan di tengah kondisi gempa susulan yang masih terjadi.
Korban Meninggal Dunia Bertambah Menjadi 100 Jiwa
Suharyanto menjelaskan bahwa jumlah korban meninggal dunia meningkat setelah sejumlah korban yang mengalami luka berat tidak berhasil diselamatkan. Para korban sebelumnya telah mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
“Per hari ini yang meninggal dunia ada 100, ya, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa,” ujar Suharyanto.
Ia menyebutkan, pada hari pertama dan kedua setelah gempa, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 48 jiwa. Namun, angka tersebut kemudian bertambah seiring dengan adanya korban luka berat yang meninggal dunia saat menjalani perawatan.
“Sehingga yang semula di hari pertama [dan] hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi 100 yang meninggal dunia,” lanjutnya.
Jumlah Pengungsi Mencapai 180.327 Jiwa
Selain meningkatnya jumlah korban meninggal dan korban luka, BNPB juga mencatat jumlah pengungsi yang cukup besar. Sebanyak 180.327 jiwa dilaporkan mengungsi akibat kondisi yang belum sepenuhnya stabil setelah gempa melanda wilayah NTT.
Menurut Suharyanto, tingginya jumlah pengungsi berkaitan dengan gempa susulan yang masih kerap terjadi. Gempa susulan tersebut memiliki intensitas yang cukup tinggi sehingga masyarakat memilih untuk tetap berada di lokasi pengungsian demi keselamatan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya terlihat dari jumlah korban, tetapi juga dari banyaknya masyarakat yang harus meninggalkan tempat tinggalnya untuk sementara waktu. Keberadaan gempa susulan membuat warga masih menghadapi situasi yang penuh kewaspadaan.
BMKG Catat Ribuan Gempa Susulan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 6.409 gempa susulan telah terjadi hingga 24 Agustus pukul 05.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 139 gempa susulan dilaporkan dapat dirasakan oleh masyarakat.
Dalam periode 24 jam terakhir, jumlah gempa susulan juga mengalami peningkatan. BMKG mencatat terdapat 721 kejadian gempa susulan dalam kurun waktu tersebut.
Data ini menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa jumlah pengungsi masih cukup tinggi. Masyarakat tetap membutuhkan rasa aman di tengah aktivitas gempa yang belum sepenuhnya berhenti.
Aktivitas Gempa Diperkirakan Berangsur Stabil
Suharyanto menyampaikan bahwa kondisi gempa susulan diperkirakan masih akan berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan. Perkiraan tersebut disampaikan berdasarkan penjelasan BMKG mengenai perkembangan aktivitas gempa di wilayah terdampak.
Meski demikian, kondisi tersebut diperkirakan akan berangsur lebih stabil setelah periode tersebut. Untuk saat ini, peningkatan aktivitas gempa susulan masih menjadi perhatian dalam penanganan bencana dan kondisi masyarakat di pengungsian.
Kesimpulan
BNPB melaporkan korban meninggal akibat gempa NTT bertambah menjadi 100 jiwa. Selain itu, sebanyak 1.603 orang mengalami luka-luka dan 180.327 jiwa mengungsi. Bertambahnya korban meninggal disebabkan sejumlah pasien dengan luka berat tidak berhasil diselamatkan.
Di sisi lain, BMKG mencatat 6.409 gempa susulan hingga 24 Agustus pukul 05.00 WIB, dengan 139 di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Aktivitas gempa susulan masih meningkat dalam 24 jam terakhir dan diperkirakan terus berlangsung selama tiga hingga empat minggu sebelum kondisi berangsur lebih stabil.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment