Ditjen Dukcapil Pulihkan Lebih dari 11 Ribu Dokumen Warga Terdampak Gempa NTT

Kupang – Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menerjunkan enam tim tanggap bencana ke tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah tersebut dilakukan untuk membantu warga yang kehilangan atau mengalami kerusakan dokumen kependudukan akibat gempa bumi.

Dalam pelayanan yang berlangsung sejak Senin (24/8) hingga Sabtu (29/8), tim berhasil menerbitkan dan memulihkan lebih dari 11 ribu dokumen kependudukan. Pelayanan dilakukan secara langsung di sejumlah posko pengungsian agar masyarakat terdampak dapat memperoleh dokumen tanpa harus bergantung pada kondisi kantor Dukcapil setempat.

Enam Tim Bergerak ke Tujuh Kabupaten

Tim Aksi Ditjen Dukcapil Tanggap Bencana Gempa NTT dipimpin oleh pejabat tinggi madya dan pejabat tinggi pratama di lingkungan Ditjen Dukcapil. Mereka dikerahkan ke Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Manggarai, Ende, Ngada, dan Sikka.

Pelayanan tersebut mencakup penerbitan kembali berbagai dokumen administrasi kependudukan. Dokumen yang dilayani antara lain KTP elektronik atau KTP-el, Kartu Keluarga (KK), akta kelahiran, akta kematian, akta perkawinan, Kartu Identitas Anak (KIA), hingga dokumen perpindahan penduduk.

Untuk menjangkau warga secara lebih cepat, petugas mendatangi posko-posko pengungsian. Skema ini disiapkan agar masyarakat tidak perlu menghadapi kendala jarak, kerusakan fasilitas, maupun gangguan pelayanan yang mungkin terjadi setelah bencana.

Perangkat Pelayanan Dibawa Langsung ke Lapangan

Direktur Jenderal Dukcapil Teguh Setyabudi mengatakan, pelayanan administrasi kependudukan dalam situasi bencana memerlukan pola kerja yang berbeda. Karena itu, tim menerapkan sistem kerja yang fleksibel dengan membawa berbagai peralatan pelayanan langsung ke lokasi terdampak.

Peralatan tersebut meliputi perangkat perekaman dan pencetakan KTP-el, blangko, ribbon, film, kertas, serta perlengkapan pendukung lainnya. Ditjen Dukcapil juga menyiapkan perangkat internet Starlink untuk mendukung pelayanan di wilayah yang mengalami gangguan jaringan komunikasi.

Dengan dukungan perangkat tersebut, pelayanan tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi kantor Dukcapil. Fasilitas pelayanan yang terdampak gempa tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mendapatkan kembali dokumen kependudukan.

“Bencana boleh mengganggu gedung dan sarana, tetapi jangan sampai mengganggu hak masyarakat atas dokumen kependudukan,” kata Teguh.

Manggarai Timur Catat Penerbitan Terbanyak

Manggarai Timur menjadi wilayah dengan hasil pelayanan terbesar. Dalam empat hari pelayanan yang digelar di lima titik posko pengungsian, tim berhasil menerbitkan atau memulihkan 4.507 dokumen.

Pelayanan tersebut berlangsung di Kecamatan Sambi Rampas, Lamba Leda Utara, Lamba Leda Selatan, dan Borong. Kartu Keluarga menjadi dokumen yang paling banyak diterbitkan, yakni sebanyak 1.481 dokumen. Selanjutnya, terdapat 981 KTP-el dan 561 akta kelahiran.

Selain itu, petugas menangani 615 layanan biodata penduduk. Perekaman KTP-el juga dilakukan terhadap 506 warga. Sejumlah layanan lain turut diselesaikan, seperti surat keterangan pindah, akta perkawinan, pemisahan KK, surat keterangan datang, aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD), akta kematian, serta numpang KK.

Pelayanan Tetap Berjalan di Tengah Gempa Susulan

Pelayanan di Manggarai Timur tetap berlangsung meskipun gempa susulan masih terjadi. Sedikitnya enam gempa susulan tercatat pada 24, 25, dan 27 Agustus dengan magnitudo antara 3,8 hingga 5,2.

Kondisi tersebut tidak menghentikan upaya petugas untuk mendatangi warga dan menyelesaikan kebutuhan dokumen kependudukan. Pelayanan lapangan menjadi bagian penting dalam memastikan warga terdampak tetap memperoleh akses administrasi dasar.

Rincian Dokumen di Wilayah Lain

Selain Manggarai Timur, tim juga menyelesaikan ribuan dokumen di sejumlah wilayah lain. Di Nagekeo dan Ngada, sebanyak 719 dokumen berhasil dipulihkan. Sementara itu, pelayanan di Manggarai menghasilkan 758 dokumen.

Di Ende, tim menyelesaikan 1.451 dokumen, sedangkan di Sikka jumlahnya mencapai 2.257 dokumen. Adapun di Manggarai Barat, sebanyak 1.533 dokumen berhasil dipulihkan meskipun kantor Dukcapil setempat turut terdampak gempa.

Dokumen Penting untuk Mengakses Bantuan

Teguh menegaskan bahwa dokumen kependudukan memiliki peran penting bagi masyarakat yang terdampak bencana. KTP-el dan KK dibutuhkan warga untuk mengakses berbagai bantuan. Sementara itu, dokumen pencatatan sipil diperlukan untuk memenuhi sejumlah keperluan keluarga.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memikirkan biaya ketika harus mengurus dokumen yang hilang atau rusak akibat bencana. Pemerintah melalui Ditjen Dukcapil berupaya membantu menerbitkan kembali dokumen tersebut.

“Dalam kondisi seperti ini, masyarakat jangan sampai berpikir soal biaya. Dokumen yang hilang atau rusak karena bencana harus kita bantu terbitkan kembali,” pungkas Teguh.

Kesimpulan

Gerak cepat enam tim tanggap bencana Ditjen Dukcapil menunjukkan bahwa pelayanan administrasi kependudukan tetap menjadi kebutuhan utama, bahkan ketika masyarakat menghadapi situasi darurat. Dengan mendatangi posko pengungsian, membawa perangkat pelayanan, serta memanfaatkan dukungan internet Starlink, lebih dari 11 ribu dokumen warga terdampak gempa di tujuh kabupaten NTT berhasil dipulihkan.

Ke depan, pelayanan yang fleksibel dan langsung menyentuh masyarakat menjadi hal penting untuk memastikan hak administrasi warga tetap terlindungi. Dokumen kependudukan bukan hanya kebutuhan administratif, tetapi juga menjadi pintu akses bagi masyarakat untuk memperoleh bantuan dan memenuhi berbagai keperluan keluarga setelah bencana.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment