DLH Tarakan Ungkap Deposit Batu Bara Aktif Diduga Picu Karhutla dan Kabut Asap

Tarakan – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan menduga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang terjadi di wilayah tersebut tidak seluruhnya disebabkan oleh aktivitas manusia. Selain pembakaran lahan, keberadaan deposit batu bara aktif di bawah permukaan tanah disebut dapat menjadi salah satu pemicu munculnya api dan asap.

Potensi batu bara aktif itu diketahui tersebar di sejumlah kawasan Tarakan Timur. Area yang disebut memiliki kandungan tersebut antara lain semak belukar di sekitar Universitas Borneo Tarakan (UBT) hingga jalur yang mengarah ke Pantai Amal. Kondisi ini membuat sebagian titik kebakaran lahan perlu dilihat secara lebih menyeluruh, tidak semata-mata dikaitkan dengan dugaan pembukaan lahan oleh warga.

Deposit Batu Bara Aktif di Tarakan Timur

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Tarakan, Chaizir Zain, menjelaskan bahwa batu bara yang berada di kawasan semak belukar Tarakan Timur dapat terbakar tanpa adanya pembakaran lahan secara langsung. Menurut dia, kandungan batu bara di bawah permukaan tanah berpotensi menjadi sumber panas yang memicu kebakaran vegetasi di atasnya.

“Sepengetahuan kami memang salah satu pemicu dari kebakaran lahan itu adalah batu bara. Di daerah Tarakan Timur ini ada kandungan batu bara di daerah semak belukar yang bisa memicu kebakaran. Tidak perlu ada pembakaran lahan, terkadang dia bisa terbakar sendiri,” ujar Chaizir di Kelurahan Pantai Amal, Sabtu (22/8), seperti dikutip dari detikkalimantan.

Wilayah semak belukar yang membentang dari sekitar UBT hingga kawasan menuju Pantai Amal menjadi salah satu area yang mendapat perhatian. Keberadaan deposit batu bara aktif dinilai turut berkaitan dengan munculnya titik-titik asap di kawasan tersebut.

Cuaca Panas dan Minim Hujan Memicu Kebakaran

Chaizir menerangkan, potensi kebakaran dari deposit batu bara aktif dapat meningkat ketika terjadi kombinasi kondisi cuaca ekstrem. Curah hujan yang minim dan paparan suhu panas disebut mampu memicu batu bara melepaskan kalori atau panas alami.

Panas tersebut kemudian dapat berinteraksi dengan angin dan semak belukar yang berada dalam kondisi kering. Apabila terjadi kontak dengan vegetasi kering, proses itu berpotensi menghasilkan asap hingga kobaran api.

“Ketika kalori tersebut berinteraksi dengan angin dan bersentuhan dengan semak belukar yang kering, asap dan kobaran api akan langsung tercipta,” terang Chaizir.

Meski kualitas batu bara di Tarakan tergolong relatif rendah, kandungan kalori yang dimilikinya dinilai sudah cukup untuk menghasilkan panas. Panas itu berpotensi membakar tanaman atau vegetasi yang tumbuh di atas lokasi deposit batu bara.

DLH Imbau Tidak Sembarangan Menyiram Api

DLH Tarakan juga menyampaikan metode penanganan khusus untuk kebakaran yang bersumber dari batu bara. Chaizir mengimbau agar pemadaman tidak dilakukan dengan cara menyiram langsung menggunakan air. Menurut penjelasan DLH, penyiraman dapat membuat asap semakin banyak dan menyebabkan panas tetap tersimpan.

Untuk menghentikan proses pembakaran, pasokan udara menuju batu bara perlu ditutup. Metode yang disarankan antara lain menggunakan cairan kimia khusus berupa foam atau menimbun bagian yang terbakar dengan tanah.

“Kalau penanganannya untuk batubara ini sebenarnya tidak boleh disiram kalau dia terbakar, karena akan tambah mengeluarkan asap dan menyimpan panas. Air itu kan mengandung H2O, salah satu unsurnya oksigen yang merupakan komponen segitiga pemicu api,” jelas Chaizir.

Ia menambahkan, penggunaan foam atau penimbunan dengan tanah bertujuan agar batu bara tidak bersentuhan secara langsung dengan udara maupun air. Dengan demikian, pasokan yang dapat mendukung proses pembakaran diharapkan dapat dikurangi.

Masyarakat Diminta Tidak Terburu-buru Menyimpulkan Penyebab Karhutla

DLH Tarakan meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa setiap kejadian karhutla di wilayah tersebut disebabkan oleh kesengajaan warga dalam membuka lahan. Menurut Chaizir, faktor alamiah berupa keberadaan batu bara aktif juga memiliki peran dalam munculnya asap dan api di sejumlah titik.

Imbauan tersebut menjadi penting karena karakteristik kebakaran yang bersumber dari batu bara berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa. Penanganannya pun memerlukan pendekatan yang sesuai, terutama dengan menutup akses udara melalui penggunaan foam atau penimbunan tanah.

Kesimpulan

DLH Kota Tarakan menduga deposit batu bara aktif di kawasan Tarakan Timur menjadi salah satu pemicu karhutla dan kabut asap, selain kemungkinan aktivitas pembakaran lahan oleh manusia. Kondisi cuaca panas serta minimnya curah hujan dapat mendorong batu bara mengeluarkan panas alami yang kemudian menyulut semak belukar kering.

Ke depan, pemahaman terhadap sumber kebakaran perlu dilakukan secara lebih cermat agar penanganan di lapangan sesuai dengan penyebabnya. Untuk kebakaran yang berasal dari batu bara, DLH menyarankan penutupan pasokan udara menggunakan foam atau tanah, bukan penyiraman langsung dengan air.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment