Empat Bandara Ditutup Sementara Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada operasional penerbangan di sejumlah wilayah. Sebanyak empat bandara ditutup sementara sebagai langkah antisipasi terhadap potensi sebaran abu vulkanik yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan. Penutupan tersebut dilakukan berdasarkan pembaruan status operasional yang disampaikan pada Minggu (6/9) pukul 07.41 WIB.

Direktur Meteorologi Penerbangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Achadi Subarkah Raharjo menyampaikan bahwa sejumlah bandara terdampak aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Sabtu (5/9) dini hari WIB. Status operasional bandara kemudian disesuaikan dengan kondisi serta potensi pergerakan abu vulkanik di sekitar jalur penerbangan.

Empat Bandara Ditutup Sementara

Empat bandara yang mengalami penghentian operasional sementara terdiri atas Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, dan Bandara Budiarto Curug. Masing-masing bandara memiliki waktu penutupan yang berbeda sesuai dengan pembaruan kondisi operasional.

Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma

Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan kode penerbangan CGK ditutup mulai pukul 02.08 WIB. Berdasarkan pembaruan operasional, penutupan bandara tersebut berlangsung hingga pukul 09.30 WIB.

Sementara itu, Bandara Halim Perdanakusuma yang memiliki kode penerbangan HLP ditutup mulai pukul 07.20 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Penyesuaian jadwal operasional ini dilakukan di tengah pemantauan terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan potensi sebaran abu vulkanik.

Bandara Radin Inten II dan Budiarto Curug

Bandara Radin Inten II Lampung dengan kode penerbangan TKG juga mengalami penutupan sementara. Operasional bandara tersebut dihentikan mulai pukul 04.18 WIB hingga pukul 10.00 WIB.

Adapun Bandara Budiarto Curug atau RTO ditutup mulai pukul 06.48 WIB. Berdasarkan status operasional yang diperbarui, bandara ini dijadwalkan ditutup hingga pukul 09.30 WIB.

Antisipasi Dampak Abu Vulkanik

Penutupan sementara sejumlah bandara dilakukan karena aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi menghasilkan sebaran abu vulkanik. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam operasional penerbangan karena dapat mengganggu keselamatan penerbangan.

Oleh sebab itu, keputusan untuk menutup sementara operasional bandara diambil berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya penyesuaian operasional penerbangan agar aktivitas penerbangan tetap mempertimbangkan faktor keselamatan.

Informasi mengenai waktu penutupan dan pembukaan kembali bandara ditetapkan berdasarkan pembaruan status operasional. Dengan demikian, kondisi penerbangan dapat berubah mengikuti hasil pemantauan terhadap sebaran abu vulkanik serta aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pemantauan Dilakukan Bersama

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama sejumlah pihak terkait terus memantau kondisi sebaran abu vulkanik. Pemantauan tersebut melibatkan operator penerbangan, pengelola bandara, layanan navigasi penerbangan, serta BMKG.

Koordinasi antarlembaga dilakukan untuk menyesuaikan operasional penerbangan berdasarkan perkembangan terbaru. Setiap perubahan kondisi akan menjadi pertimbangan dalam menentukan kelanjutan operasional di bandara yang terdampak.

Dengan adanya pemantauan secara berkelanjutan, pengelola penerbangan dapat mengambil langkah sesuai dengan situasi yang berkembang. Operasional bandara juga akan disesuaikan berdasarkan informasi mengenai potensi sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kesimpulan

Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan empat bandara, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, dan Budiarto Curug, ditutup sementara pada Minggu (6/9). Penutupan dilakukan karena adanya potensi sebaran abu vulkanik yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan.

Ke depan, operasional bandara akan terus menyesuaikan hasil pemantauan kondisi abu vulkanik dan perkembangan aktivitas erupsi. Ditjen Perhubungan Udara, BMKG, pengelola bandara, operator penerbangan, serta layanan navigasi penerbangan tetap berkoordinasi untuk menentukan langkah operasional berdasarkan kondisi di lapangan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment