Abu Gunung Anak Krakatau Menyebar hingga Jabodetabek, Ini Pilihan Masker untuk Melindungi Pernapasan
Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat malam (4/9) dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah. Sebaran abu tersebut terpantau dari Bengkulu hingga kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek.
Masyarakat di sejumlah daerah terdampak melaporkan abu vulkanik beterbangan di udara, menempel pada bangunan, serta menyebabkan mata terasa perih ketika berkendara atau beraktivitas di luar rumah. Kondisi ini dapat mengganggu kegiatan sehari-hari, terutama bagi warga yang harus berada di ruang terbuka.
Abu vulkanik perlu diwaspadai karena memiliki partikel debu yang sangat halus. Selain dapat mengiritasi, partikel tersebut juga disebut memiliki sifat korosif karena mengandung asam. Karena itu, penggunaan pelindung pernapasan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan apabila masyarakat terpaksa beraktivitas di luar ruangan.
Abu Vulkanik Dapat Mengganggu Pernapasan
Ketika erupsi gunung vulkanik terjadi, abu biasanya menjadi dampak yang paling mudah dirasakan masyarakat. Abu yang beterbangan dapat masuk ke saluran pernapasan, terlebih ketika seseorang beraktivitas di luar rumah dalam waktu cukup lama.
Dokter ahli paru Agus Dwi Susanto sebelumnya menjelaskan kepada CNNIndonesia.com mengenai pilihan masker yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko masuknya abu vulkanik ke sistem pernapasan. Penjelasan tersebut disampaikan dalam konteks menghadapi abu vulkanik akibat erupsi gunung.
Menurut Agus, masyarakat sebaiknya menggunakan masker apabila harus keluar rumah atau melakukan kegiatan di udara terbuka. Jenis masker yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaannya di pasaran.
Masker N95 Dinilai Paling Ideal
Masker N95 dikenal luas karena kemampuannya menyaring partikel berbahaya, termasuk partikel akibat kebakaran dan abu vulkanik. Masker ini juga direkomendasikan oleh Centers for Disease Control and Prevention atau CDC sebagai salah satu pilihan untuk menghadapi polusi udara.
Agus menjelaskan, masker N95 memiliki kemampuan memfiltrasi sekitar 95 persen partikel debu. Dengan kemampuan tersebut, N95 dianggap sebagai jenis masker yang paling ideal untuk membantu melindungi saluran pernapasan dari paparan abu vulkanik.
Meski demikian, masker N95 cenderung lebih sulit ditemukan dan harganya tidak selalu terjangkau bagi masyarakat umum. Masker ini juga lebih diprioritaskan bagi tenaga medis, tim penyelamat, serta orang-orang yang harus bekerja di luar ruangan dalam situasi bencana.
Kelompok yang Perlu Berhati-hati
Agus tidak menganjurkan penggunaan masker N95 bagi anak-anak, ibu hamil, orang yang memiliki riwayat penyakit paru atau jantung, serta lanjut usia. Hal ini berkaitan dengan karakteristik N95 yang dapat membuat area pernapasan terasa lebih rapat.
Kemampuan penyaringan debu yang kuat pada masker N95 dapat membuat sebagian orang mengalami kesulitan bernapas. Oleh karena itu, masyarakat umum dapat mempertimbangkan jenis masker lain yang lebih mudah ditemukan dan berada di bawah standar N95.
Masker Bedah Bisa Menjadi Alternatif
Masker standar, seperti surgical mask atau masker bedah, dapat digunakan sebagai alternatif untuk membantu melindungi saluran pernapasan dari abu vulkanik. Masker tersebut dinilai dapat membantu menghadapi partikel abu berukuran sekitar 10 mikron yang berbahaya bagi organ pernapasan.
Agus menyebutkan bahwa di luar negeri terdapat surgical mask yang mampu memfilter debu berukuran 2,5 hingga 5 mikron. Namun, jenis masker dengan kemampuan tersebut belum tersedia di Indonesia. Sebagai pengganti, masyarakat dapat menggunakan masker biasa yang lebih mudah diperoleh.
Setelah pandemi, surgical mask relatif mudah ditemukan di pasaran. Masker ini juga kerap digunakan oleh pengendara sepeda motor karena praktis dan dapat membantu menghalangi debu masuk ke hidung.
Meski demikian, kemampuan penyaringan surgical mask hanya sekitar 65 persen. Masker ini juga tidak dapat digunakan berkali-kali. Karena itu, penggunaannya perlu dibatasi dan masker harus diganti secara berkala.
Kain Basah Tidak Disarankan sebagai Masker
Bagi masyarakat yang belum memiliki persediaan masker tetapi terpaksa harus beraktivitas di luar ruangan, kain basah sering kali digunakan sebagai perlindungan awal. Namun, Agus memberikan catatan bahwa kain basah lebih tepat digunakan untuk membantu mencegah abu masuk ke dalam rumah, bukan sebagai masker yang dipakai selama berjam-jam.
Kain basah dapat dimanfaatkan untuk menutup ventilasi rumah karena mampu menangkap sebagian partikel debu. Akan tetapi, penggunaannya sebagai penutup wajah tidak disarankan. Kain yang terus berada dalam kondisi lembap dapat menimbulkan kuman.
Kesimpulan
Sebaran abu Gunung Anak Krakatau dari Bengkulu hingga Jabodetabek membuat masyarakat perlu memperhatikan perlindungan saluran pernapasan, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah. Masker N95 memiliki kemampuan penyaringan paling tinggi, tetapi tidak dianjurkan untuk anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan riwayat penyakit paru atau jantung.
Sementara itu, masker bedah dapat menjadi pilihan yang lebih mudah diperoleh, meski kemampuan filtrasinya lebih rendah dan penggunaannya tidak boleh berulang. Kain basah sebaiknya digunakan untuk menutup ventilasi rumah, bukan sebagai masker. Ke depan, masyarakat perlu tetap membatasi aktivitas di luar ruangan ketika abu vulkanik masih beterbangan dan memilih perlindungan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment