Gus Najmi Tegaskan Pernyataan Cak Imin soal NU Bukan Serangan terhadap HMI

Ketua Harian DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Najmi Mumtaza Rabbany atau Gus Najmi memberikan penjelasan mengenai pernyataan Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin terkait kondisi Nahdlatul Ulama (NU). Gus Najmi menegaskan, pernyataan tersebut tidak ditujukan sebagai serangan terhadap Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) maupun seluruh alumninya.

Penjelasan itu disampaikan setelah potongan video pernyataan Cak Imin beredar di media sosial. Dalam video tersebut, Cak Imin menyebut NU mengalami keterpurukan dalam lima tahun terakhir karena dipimpin oleh alumni HMI. Pernyataan itu kemudian memunculkan tafsir bahwa kritik tersebut ditujukan kepada HMI sebagai organisasi.

Gus Najmi: Cak Imin Sedang Mengevaluasi Kepemimpinan NU

Menurut Gus Najmi, pernyataan Cak Imin perlu dilihat secara utuh dan proporsional. Ia menilai konteks utama pernyataan tersebut adalah kritik terhadap kepemimpinan dan evaluasi atas kondisi NU, bukan serangan terhadap HMI.

“Beliau sedang mengkritik sebuah kepemimpinan dan mengevaluasi kondisi NU, bukan menyerang HMI sebagai organisasi ataupun seluruh alumninya,” kata Najmi dalam keterangan tertulis, Minggu (30/8).

Gus Najmi menjelaskan, latar belakang HMI dari figur yang menjadi objek kritik merupakan fakta biografis. Namun, fakta tersebut tidak dapat secara otomatis dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa kritik Cak Imin merupakan kritik terhadap organisasi HMI.

Ia menilai, kritik terhadap seorang tokoh harus dibedakan dari kritik terhadap organisasi yang pernah menjadi bagian dari perjalanan tokoh tersebut. Menurutnya, penyamaan antara kritik personal dan kritik kelembagaan dapat menimbulkan kesalahan dalam memahami substansi pernyataan.

Latar Belakang HMI Disebut sebagai Identitas Personal

Najmi mengatakan, latar belakang HMI merupakan identitas personal dari tokoh yang dimaksud. Kendati demikian, hal yang menjadi pokok pembahasan adalah kapabilitas serta hasil kepemimpinan tokoh tersebut ketika memimpin NU.

“Jika setiap kritik terhadap seorang figur otomatis dianggap kritik terhadap organisasinya, maka kita sedang terjebak dalam fallacy berpikir,” ujarnya.

Dengan demikian, Gus Najmi meminta publik tidak menggeser fokus pembicaraan dari evaluasi terhadap kepemimpinan menjadi persoalan antarorganisasi. Ia menekankan bahwa kritik seharusnya dipahami berdasarkan konteks dan sasaran yang hendak disampaikan.

Kritik Disebut Berangkat dari Tanggung Jawab terhadap NU

Gus Najmi juga menyebut Cak Imin sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari NU dan tradisi pesantren. Karena itu, ia menilai kritik yang disampaikan Cak Imin lahir dari rasa tanggung jawab moral untuk memperbaiki organisasi yang dianggap sebagai bagian dari rumahnya sendiri.

Menurut Najmi, evaluasi terhadap kondisi NU semestinya dipandang sebagai bagian dari upaya memperbaiki kepemimpinan dan organisasi. Perbedaan penilaian mengenai kondisi NU, kata dia, merupakan hal yang wajar selama tidak berkembang menjadi konflik antarkelompok.

“Jangan sampai narasi evaluasi kepemimpinan ini dipelintir menjadi adu domba antar-organisasi pergerakan. Perbedaan analisis itu sehat, namun persatuan gerakan mahasiswa dan pemuda harus tetap yang utama,” kata Najmi.

Video Pernyataan Cak Imin Beredar di Media Sosial

Video yang memuat pernyataan Cak Imin mengenai kondisi NU salah satunya diunggah melalui akun X milik mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI, Anas Urbaningrum. Dalam video tersebut, Cak Imin menyebut NU mengalami keterpurukan dalam lima tahun terakhir.

“Yang jelas terpuruk karena dipimpin oleh alumni HMI, kira-kira gitulah,” ujar Cak Imin dalam video yang beredar.

Potongan pernyataan tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan karena mengaitkan kondisi NU dengan latar belakang organisasi tokoh yang memimpin. Namun, Gus Najmi menegaskan bahwa pernyataan itu harus dipahami sebagai kritik terhadap figur dan kepemimpinannya, bukan sebagai penilaian terhadap HMI secara keseluruhan.

Kesimpulan

Gus Najmi menegaskan pernyataan Cak Imin terkait keterpurukan NU tidak dimaksudkan untuk menyerang HMI ataupun seluruh alumninya. Menurutnya, konteks utama pernyataan itu adalah evaluasi terhadap kepemimpinan NU, sementara latar belakang HMI dari figur yang dikritik hanya merupakan fakta personal.

Ke depan, perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan NU diharapkan tetap dibahas secara proporsional dan tidak diarahkan menjadi pertentangan antarorganisasi. Pemahaman terhadap konteks pernyataan dinilai penting agar kritik terhadap figur tidak berkembang menjadi generalisasi terhadap organisasi maupun kelompok tertentu.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment