Kebakaran Ruang Bersalin di Islamabad Tewaskan 14 Bayi, PM Pakistan Tangguhkan 8 Pejabat

Islamabad – Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif memerintahkan penangguhan terhadap delapan pejabat serta meminta proses pidana dijalankan terhadap mereka. Keputusan itu diambil setelah kebakaran melanda ruang perawatan bayi di sebuah rumah sakit di Islamabad dan menewaskan 14 bayi.

Insiden tragis tersebut terjadi pada Rabu (26/8) sekitar pukul 06.30 waktu setempat. Berdasarkan laporan awal, api menghanguskan unit perawatan bayi hanya dalam waktu sekitar dua menit. Dari 15 bayi yang berada di ruangan itu, hanya satu yang berhasil diselamatkan oleh seorang perawat.

Delapan Pejabat Ditangguhkan

Penangguhan delapan pejabat merupakan tindak lanjut dari laporan awal komite penyelidikan yang dibentuk oleh Shehbaz Sharif. Komite tersebut terdiri atas empat orang dan bertugas mengkaji penyebab serta rangkaian kejadian dalam kebakaran di rumah sakit tersebut.

Pejabat yang dikenai penangguhan berasal dari sejumlah unsur yang berkaitan dengan pengelolaan rumah sakit dan layanan darurat. Di antara mereka terdapat direktur eksekutif rumah sakit, kepala departemen neonatal, serta direktur jenderal layanan darurat Islamabad.

Sharif juga menyetujui tindakan terhadap perusahaan yang bertanggung jawab atas keamanan rumah sakit. Namun, nama perusahaan tersebut tidak disebutkan dalam laporan awal.

PM Pakistan Janjikan Proses Hukum

Shehbaz Sharif menegaskan bahwa pihak-pihak yang terbukti melakukan kelalaian secara pidana tidak akan memperoleh keringanan. Ia meminta agar mereka yang dianggap bertanggung jawab dibawa ke pengadilan.

“Mereka yang bertanggung jawab atas kelalaian pidana tidak berhak mendapatkan konsesi apa pun,” kata Sharif pada Sabtu (29/8) malam, seperti dilansir AFP.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Pakistan tidak hanya mengambil langkah administratif berupa penangguhan, tetapi juga membuka kemungkinan adanya pertanggungjawaban pidana. Proses hukum akan bergantung pada hasil penyelidikan mengenai kelalaian yang diduga terjadi sebelum dan saat kebakaran berlangsung.

Respons Darurat Dipertanyakan

Laporan awal komite penyelidikan menyebut layanan darurat baru dihubungi enam menit setelah api mulai berkobar. Petugas penyelamat pertama kemudian tiba di lokasi sekitar 15 menit setelah kebakaran dimulai.

Jeda waktu tersebut menjadi sorotan, terutama karena api disebut menyebar dan menghanguskan unit perawatan bayi dalam waktu yang sangat singkat. Sejumlah orang tua dan saksi juga menilai respons petugas berlangsung lambat.

Selain persoalan keterlambatan, pihak keamanan diduga sempat mencegah sejumlah orang keluar dari gedung. Dugaan itu turut menjadi bagian dari persoalan yang harus ditelusuri dalam penyelidikan terhadap tata kelola keselamatan rumah sakit.

Rumah Sakit Tidak Memiliki Prosedur Darurat Terperinci

Komite penyelidikan menemukan bahwa rumah sakit tidak memiliki prosedur operasi yang terperinci maupun pelatihan khusus untuk menghadapi keadaan darurat kebakaran. Kondisi tersebut dinilai penting untuk diperiksa karena lokasi kejadian merupakan ruang perawatan bayi yang membutuhkan penanganan cepat dan terkoordinasi.

Saat kebakaran dimulai, terdapat dua perawat, seorang petugas keamanan perempuan, dan seorang petugas lain di dalam ruangan. Namun, tidak ada staf pengawas yang berada di lokasi ketika insiden berlangsung.

Menteri Kesehatan Pakistan Mustafa Kamal sebelumnya menyatakan bahwa kebakaran diduga dipicu percikan dari pendingin ruangan. Meski demikian, laporan awal komite menegaskan bahwa sumber api masih belum dipastikan. Penyelidikan mengenai penyebab kebakaran masih terus berlangsung.

Pejabat Kesehatan Juga Diberhentikan

Sekretaris Kesehatan Aslam Ghori, pejabat sipil tertinggi di kementerian tersebut, telah diberhentikan pada Rabu setelah insiden kebakaran. Pemberhentian itu dilakukan ketika pemerintah mulai mengevaluasi tanggung jawab berbagai pihak dalam tragedi yang menewaskan 14 bayi tersebut.

Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan keselamatan bangunan di Pakistan. Kebakaran besar di negara tersebut kerap dikaitkan dengan lemahnya penerapan aturan keselamatan serta penegakan hukum.

Pada Januari, lebih dari 65 orang tewas dalam kebakaran di sebuah pusat perbelanjaan di Karachi. Pada 2023, sedikitnya 11 orang meninggal dalam kebakaran mal di kota yang sama. Sementara itu, pada 2012, sedikitnya 250 pekerja tewas dalam kebakaran pabrik garmen di Karachi.

Kesimpulan

Tragedi kebakaran ruang perawatan bayi di Islamabad mendorong pemerintah Pakistan mengambil langkah tegas dengan menangguhkan delapan pejabat dan meminta proses pidana terhadap pihak yang diduga lalai. Laporan awal menunjukkan adanya persoalan dalam respons darurat, sistem keamanan, ketersediaan prosedur evakuasi, serta pelatihan menghadapi kebakaran.

Penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan lanjutan. Pemerintah Pakistan juga perlu memastikan proses hukum berjalan secara transparan dan seluruh temuan komite ditindaklanjuti. Ke depan, penguatan aturan keselamatan bangunan, prosedur darurat, serta pelatihan bagi staf rumah sakit menjadi hal penting agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment